Selasa, 29 Maret 2016

[Geospasial] bertanya sendiri atau pada dunia?

[Geospasial] bertanya sendiri atau pada dunia?

Enschede, 28 Maret 2016

Bertanya, itulah fitrah manusia. Manusia itu sebut saja namanya fulan sebagai salah satu dari sekian banyak manusia yang memang memiliki fitrah untuk bertanya. Kisah kali ini akan berada pada seputaran dimensi ruang dan waktu, sehingga masih dikategorikan ke dalam kisah 'Geospasial ala fulan'. Hmm...beberapa pembaca (apabila ada yang membaca postingan ini) akan menganggap agak 'memaksakan' judul. Tapi apa daya beginilah adanya postingan blog kali ini bahkan mungkin sudah beberapa kali sebelumnya juga serupa.

Bertanya sendiri atau pada dunia? Ketika membaca senantiasa ada pertanyaan yang muncul di dalam diri ini, hingga berlanjut bertanya pada dunia. Dimensi 'dunia' di era teknologi informasi komunikasi yang tidak mengenal batas ruang dan waktu ialah memanfaatkan atau melontarkan 'tanya pada dunia' via media tersebut. Misalnya, ketika fulan bertanya sendiri lalu menulisnya di dinding maya sebagai statusnya baik via media sosial atau forum bahkan mengetikkan pertanyaan itu pada si embah google. Segeralah berbagai reaksi bermunculan, dari like, sharing, retweet, love, atau dijawab langsung dengan berbagai link atau informasi dari si embah pencari/pemberi jawaban 'dunia'.

Keberadaan fulan di suatu tempat dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda di tiap detiknya bahkan mungkin dalam skala tahun atau masa. Kembali melahirkan pertanyaan pada diri fulan, bahkan kadang tanya itu diekspresikan ataupun tanpa ekspresi. Mungkin salah satunya ialah postingan ini :). Bertanya sendiri atau pada dunia, ternyata dilalui fulan dengan berkawan dengan sebanyak mungkin orang-orang hebat melalui media sosial maya maupun nyata. Tiap orang itu hebat, tiap orang memiliki keunikan, tiap orang memiliki kisah perjuangan, tiap orang bahkan memiliki tanya jawab masing-masing. Berbagai cara dilakukan oleh tiap individu secara berbeda ataupun mungkin serupa tapi tak sama dalam berbagai upaya mengisi dimensi ruang dan waktu yang dilaluinya.

Bicara dimensi waktu, teringat tanggal 27 Maret 2016 kemarin dimana jam 2 pagi langsung menjadi jam 3 pagi dini hari. Yap,,,daylight saving time 2016 untuk wilayah Belanda atau dikenal juga dengan 'summer time'. Hal ini tidak dialami oleh fulan saat berada di Indonesia (adanya musim panas dan musim hujan). Mari kembali bertanya sendiri atau lempar pada dunia? Dimensi waktu di dunia atau tepatnya di kediaman bumi ini disepakati dalam sehari ialah 24 jam, dalam 1 jam ialah 60 menit, dan seterusnya. Ternyata dimensi waktu ini juga tak terlepas dari dimensi ruang :). Hmmm...kembali teringat space-time cube mapping. Semakin bertanya sendiri atau pada dunia dan mencarinya kemudian meramunya dalam sajian yang dapat dinikmati. Yaps, menyajikan informasi yang lintas ruang dan waktu sebagaimana ilustrasi dari tool yang disediakan oleh salah satu perangkat lunak sistem informasi geografis untuk menyajikan atau membuat space-time cube.

Gambar 1. Contoh Dimensi Ruang (X-Y) dan Waktu (t) bersatu (sumber: http://pro.arcgis.com/en/pro-app/tool-reference/space-time-pattern-mining/create-space-time-cube.htm)
Kembali ke konsep awal bertanya sendiri atau pada dunia. Rasa ingin tahu dan berbagi informasi inilah yang menyebabkan mesin pencari raksasa yakni google* dan bahkan media sosial sebesar facebook**; keduanya mengembangkan atau mengoptimalkan knowledge graph. Cermatilah bagaimana kedua 'dunia' ini mampu mengubah dunia hingga melahirkan fenomena 'bertanya sendiri atau pada dunia?' Kalau lagi ada waktu luang, silahkan coba ketika nama fulan di embah google lihatlah apa yang muncul. Lalu kalau masih iseng juga, cermatilah bagaimana facebook menyarankan informasi searching berdasarkan yang fulan like. Menghubungkan data dengan data, melahirkan informasi yang makin lengkap dan mampu bercerita. Oh ya, optimalisasi kemampuan knowlegde graph dalam sistem pencari dan media sosial maya seperti facebook makin melambungkan 'iklan' di dunia maya dan berpenghasilan :).

Gambar 2. The Knowledge Graph (sumber: https://www.google.com/intl/es419/insidesearch/features/search/assets/img/static-graph.png)

Hidup di dunia saja tiap individu seperti fulan ini harus memiliki identitas, misal dari lahir diberikan nama dibuatkan akta lahir dilanjutkan dengan berbagai kartu identitas diri. Di dunia maya pun, tiap individu memiliki akun yang terikat ke dirinya. Identitas itu mencirikan siapa kita, kadang fulan bertanya sendiri siapakah aku? Apakah aku adalah ego semata ketika keberadaanku kini dalam dimensi nyata ataupun maya ada di suatu masa dimana ragu untuk melebar dan tebarkan tanya. Apakah aku benar-benar bagian dari kita, ketika aku dan kamu mungkin beserta kalian semua adalah bagian dari dunia dan sendagurau dunia belaka.

Bertanya pada dunia, tulisan ini mengalir begitu saja tentunya ialah bagian dari berbagi atau renungan mengenai dimensi 'aku' yang nyata ialah bagian kecil dan bahkan tidak dapat menjadi sebuah titik (dalam vektor) ataupun satu piksel (dalam citra). Ada postingan terkait perbandingan ukuran silahkan cek langsung aja di http://www.kompasiana.com/muhammaddaud/perbandingan-ukuran-planet-bumi-dan-para-penghuni-lainnya_55184bc981331128699de79c

Bumi nan kecil, maka tidak layak pula bagi fulan untuk 'sok besar' dan wajah bumi bisa berbeda ya? Layaknya wajah kita berbeda tergantung mood..heuheu (maaf tidak pas analoginya, iseng ini ya jangan serius-serius). Nah, kalau tertarik yang seru, serius dan dikemas apik silahkan cek kisah menarik dari pakdhe rovicky: https://rovicky.wordpress.com/2006/10/08/wajah-planet-mengapa-bumi-berbeda/

Sekian celoteh fulan, akan dilanjut di sela keisengan lainnya.





1 komentar:

  1. makasih buat infonya, infonya sangat menarik,blognya sangat kreatif...
    kunjungan yang bermanfaat thank

    BalasHapus