Kamis, 18 September 2014

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa

Bandung, 18 September 2014

Hebohnya angka 1 dan 2 kini telah berakhir pasca pilpres 2014 dan mulai berganti dengan angka 3 yang merujuk ke sila k-3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Jika dicermati meskipun sila-nya sila ke-3 tapi tetap menyebut angka 1 (satu) sebagai wujud tunggal --> Bhinneka Tunggal Ika, bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua (kurang lebih demikianlah yang dulu diajarkan saat pelajaran PMP, PPKN, P4 ataupun Kewarganegaraan...entah apa kini nama mata kuliah atau pelajaran tersebut).]

Bahkan jika merunut ke sejarah semangat juang para pemuda yang mengangkat Sumpah Pemuda bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu INDONESIA. Maka, di era kesadaran geospasial (pentingnya peta acuan yang tunggal) dibutuhkan sebuah acuan bersama yang disebut sebagai informasi geospasial dasar sebagai 'Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa' agar mengurangi tumpang tindih informasi ruang kebumian yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di bumi tercinta Indonesia. Kehebohan mengenai Satu Peta ini (baca: One Map Policy) semakin mengemuka tatkala pada debat capres, salah satu capres yang kini telah menjadi Presiden terpilih mengutarakan One Map Policy sebagai solusi atas tumpang tindihnya pemanfaatan lahan atau penggunaan lahan atau pertanahan atau perijinan kawasan atau apapun namanya; dimana satu lahan atau ruang di bumi ini memiliki peruntukan yang berbeda-beda. Hal ini tampak ketika ditumpangsusunkan berbagai peta tematik yang berkaitan dengan peruntukan ruang, misal peta guna lahan, peta kawasan hutan, dan dikaitkan lagi dengan peta tata ruang. Konon katanya semakin menampakkan ketidakberaturan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari aspek teknis bahkan hingga politis.

Keberadaan adanya Satu Peta (dasar) yang menjadi acuan bagi Peta Tematik menjadi kunci dalam mewujudkan One Map Policy, sehingga lambat laun permasalahan satu peta yang diacu dan digunapakai secara bersama oleh berbagai pihak terkait dapat disepakati. Jika bicara kesepakatan, maka ijinkan penulis menyatakan bahwa Peta adalah Kesepakatan, sepakat bagaimana Satu Indonesia bekerjasama membangun terwujudnya Satu Peta serta menggunakannya secara bersama-sama.

Apakah keberadaan Satu Peta ini dapat diwujudkan oleh satu instansi secara sendirian? Tentu saja tidak, Satu Peta dapat diwujudkan jika Satu Indonesia bekerja bersama-sama dan bersinergi serta menghilangkan ego sektoral. Rasa nasionalisme perlu dibangun oleh para pegiat geospasial untuk bersama dengan segenap rakyat Indonesia memerdekakan bangsa ini dari 'Buta Peta'. Melalui peta yang tunggal untuk menggambarkan 'kebhinekaan' Indonesia adalah salah satu upaya meningkatkan wawasan mengenai indahnya nusantara dan memperkokoh ketahanan nasional.

Lihatlah isu mengenai akan berubahnya salah satu lembaga yang akan menjadi kementerian (pertahanan) dan pula munculnya isu poros maritim. Keduanya berbicara informasi geospasial di daratan dan lautan yang jelas-jelas merupakan kekuatan dari Peta untuk dapat menggambarkannya dan memberikan solusi yang akurat, tajam, dan dapat dipertanggungjawabkan jika dan hanya jika adanya kesepakatan Satu Peta. Perlu diingat pula, jika dulu bicara peta terbayang lembaran-lembaran peta yang harus dibawa dan digelar, maka kini di era digital atau teknologi informasi komunikasi yang kian maju hari demi harinya lahirlah peta digital yang bisa digenggam erat di tangan bahkan bisa dilihat melalui kacamata serta membantu kita menghindari kemacetan. Teknologi semakin mendekatkan kita dengan Peta (baca: Informasi Geospasial) yang seyogyanya membuat kita semakin bijak dalam mengambil keputusan untuk pengelolaan ruang kebumian.

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa: bersama wujudkan satu peta untuk menggambarkan nusantara tercinta; bersama gunakan satu peta untuk pembangunan bangsa tercinta; dan jadikan peta nan tunggal sebagai bahasa dalam komunikasi seluruh rakyat dan wakilnya agar membantu pemimpin ataupun pimpinan bangsa Indonesia memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjaga perdamaian dunia.

Sekian aliran cerita yang mempertanyakan, kapan akan terwujudnya kesatuan Peta ini?

Salam,
Aji PP
/app





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar