Rabu, 07 Mei 2014

[cerita] susahnya menulis

[cerita] susahnya menulis

Apakah menulis itu mudah? Bagi beberapa orang yang suka mengetik atau menuliskan idenya dalam secarik kertas atau sebuah layar untuk sekedar mengalirkan apa yang ada di benaknya tentu hal tersebut adalah mudah adanya.

Apakah menulis itu susah? Bagi beberapa orang yang tidak suka meluapkan apa yang ada di benaknya melalui coretan tulisan tentu hal tersebut adalah susah adanya.

Susahnya menulis. Itulah yang diangkat dalam ngeblog kali ini sebagai upaya pula untuk kembali membangkitkan semangat menulis si penulis itu sendiri yang kadang menurut pengakuannya suka menulis apa yang terlintas meskipun kalau dicermati secara pintas juga tidak jelas apa yang dirangkaikannya dalam lintasan kata entah mungkin bahkan tanpa makna hingga kadang melupakan titik dan koma.

Susahnya menulis. Ini bukan bicara bagaimana setiap manusia yang mempunyai kemampuan baca tulis kesusahan dalam menghadapi dirinya sendiri untuk meluapkan kata. Akan tetapi lebih berbicara bagaimana susahnya membatasi diri untuk bisa mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh. Di era keterbukaan informasi untuk publik ternyata masih ada bagian-bagian yang terkelaskan untuk tidak dikonsumsi untuk publik. Ingat beberapa waktu lalu bahkan hingga kini dimana dunia intelejen masih mengangkat nama Snowden sebagai tokoh yang membuka tulisan yang termasuk dalam kelas tidak untuk konsumsi publik alias biasanya disebut sebagai classified atau bersifat rahasia.

Susahnya menulis. Ini juga berkaitan erat dengan bagaimana seorang penulis meluangkan waktunya untuk sekedar mencoret kertas yang ada di depannya atau mengetikkan kata demi kata di papan ketik dan menatap hasilnya di layar monitor (demikian trennya di dunia digital). Menulis itu pun tidak perlu panjang, kurang lebih seperti itulah tren yang sedang terjadi saat ini. Misalnya melalui twitter atau facebook bahkan tulisan yang dilengkapi dengan foto pribadi (baca: selfie alias narsis sendirian) ataupun golongan (baca: wefie rame-rame). Dampak lainnya dari menulis pendek ialah susahnya kita untuk kembali menulis panjang (belum ada risetnya).

Susahnya menulis. Ini lebih berhubungan dengan konsep pribadi si penulis untuk mengungkapkan betapa susahnya menulis ketika masuk dalam kategori tertentu. Misalnya, jika diminta untuk menulis bagi sebuah pajangan di atas lembaran kertas yang disebut sebagai koran tentu akan berbeda ketika penulis menulis seadanya dalam sebuah blog. Demikian halnya tatkala diminta untuk menulis sebuah tulisan yang berbau ilmiah maka kajian ilmiah dan referensi yang mendukung perlu dikelola dengan apik agar tidak adanya kata-kata yang dikutip secara borongan (baca: plagiat).

Susahnya menulis. Ini bicara pada bagaimana menuliskan nama tempat (baca: toponim) sesuai kaidah penamaan (baca: toponimi) mengingat belum tersosialisasikannya bagaimana kaidah penulisan nama tempat. Meskipun menurut resolusi Pakar Toponimi yang bernaung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa tiap negara diminta untuk membentuk lembaga otoritas penamaan yang bermaksud mengatur pemberian hingga pembakuan nama tempat baik unsur alam hingga buatan manusia (baca: toponim). Di Indonesia memang telah dibentuk Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi berdasarkan peraturan presiden nomor 112 tahun 2006, namun kerja keras untuk mengokohkan pentingnya nama yang baku masih terus dan terus untuk perlu disosialisasikan dan diimplementasikan.

Susahnya menulis. Ini juga berkaitan dengan banyaknya peraturan perundang-undangan yang telah dilahirkan berdasarkan berbagai kajian kebutuhan yang telah melalui harmonisasi dan penyusunan kata-kata yang dituliskan di dalamnya tentunya berdasarkan pada kaidah kata dalam hukum. Lalu ketika telah sebegitu banyaknya kata yang berwujud peraturan perundang-undangan tersebut, permasalahan yang hingga kini masih muncul ialah problematika implementasi dari undang-undang atau peraturan tersebut. Sebegitu besarnya sebuah amanat undang-undang atau peraturan tetap kembali bagaimana menjalankannya karena sejatinya yang dituliskan secara sengaja dan dalam kesadaran para penyusun ditujukan untuk sebuah kebaikan. Kalau dilihat dari prosesnya itulah susahnya menulis dan lebih susahnya lagi bagaimana meneladani tiap kata yang telah ditulis (baca: menjalankan amanat).

Susahnya menulis. Hal ini tidak berlaku ketika begitu banyaknya slogan, spanduk, hingga baliho dari para calon legistatif atau partai yang sempat terpajang atau bahkan masih terpajang di sudut-sudut jalan atau tembok rumah kita. Mudahnya menulis kata promosi diri atau partai (baca: janji politik) yang dicetak dalam font yang menarik dan ukuran yang bisa terbaca. Ataupun sekedar tulisan pada kartu nama atau selebaran yang dibagikan untuk menarik simpati masyarakat sehingga besar harapan akan terpilihnya sebagai wakilnya para rakyat atau memenangkan prosentase dalam menuju kursi pemerintahan. Ketika menulis itu mudah, maka seketika kita duduk di kursi tersebut akankah kita kembali mudah dalam menulis ataukah merasa bahwa menulis itu susah karena tiap kata yang dituliskan mewakili ribuan atau bahkan jutaan rakyat yang telah memilihnya.

Susahnya menulis. Ini bersinggungan dengan bagaimana sebuah peta bukan sekedar gambar semata karena sesungguhnya ada makna bahkan barisan kata yang mengandung geosemantik di dalamnya. Tiap orang begitu melihat peta dan diminta untuk menuliskan dari peta yang dilihatnya tersebut akan melihat ribuan kata yang berbeda. Permasalahannya membuat peta bisa menjadi mudah dan dapat pula susah adanya tergantung peta apa yang dibuat. Lebih susah pula bagaimana meyakinkan pada diri si pembuat bahwa si pengguna peta dapat menangkap informasi yang hendak disampaikan sehingga peta tidaklah sekedar lembar kertas bergambar belaka.

Susahnya menulis. Saking susahnya,,,sudah tidak tahu apalagi nie yang hendak ditulis. Maaf sebelumnya jika tulisan ini lebih ke curhatan bagaimana susahnya menulis dan tidak mengandung konten ilmiah ataupun informasi yang diharapkan pembaca karena benar-benar ini hanya untuk menunjukkan (tidak begitulah) susahnya menulis :).

Salam Menulis,

/app

2 komentar:

  1. Kalau boleh saya ubah judul tulisan ini, saya akan beri judul 'susahnya memulai sebuah tulisan'.

    Supaya nggak sulit, saya biasanya nulis apapun itu. yang penting segera mulai..

    dan hasilnya memang luar biasa

    BalasHapus