Rabu, 10 Juli 2013

[Cerita_Fulan] Peta adalah Kesepakatan Penyajian Informasi Geospasial

[Cerita_Fulan] Peta adalah Kesepakatan Penyajian Informasi Geospasial

Cibinong, 10 Juli 2013

Ditulis dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya di tengah monitoring bulanan kegiatan pemetaan rupabumi Indonesia untuk skala 1:25.000 sebagian besar wilayah Sulawesi. Awal mulanya menyadari bahwa Peta adalah Kesepakatan, ialah kala fulan menghadiri Rapat Teknis mengenai penyusunan Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang dikenal dengan Peta NKRI. Kala itu, fulan hendak nge-blog mengenai Peta adalah Kesepakatan, tapi sayangnya mood masih belum memungkinkan :) (*moody-man). Ide itu kembali muncul lagi saat ini, kala melihat peta NKRI pada poster penyajian informasi geospasial dasar pemetaan rupabumi skala besar. Di dalam poster tersebut, tampak peta NKRI yang disajikan dalam ukuran kecil dan dimiringkan dengan beberapa derajat sebagai bagian pengisi dari poster yang menyajikan proses bisnis pemetaan rupabumi skala besar. Nah,,,mungkin inilah yang melahirkan ide-ide tak jelas untuk menuliskan bahwa Peta adalah Kesepakatan.

Sebelum melangkah lebih jauh, mohon maaf sebelumnya bahwa tulisan ini hanyalah kilatan kata saja sembari fulan menatap beberapa perusahaan menyajikan progress atau kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakannya. Peta adalah Kesepakatan, itulah kata kunci utama yang hendak dipromosikan oleh fulan, meskipun fulan bukanlah seorang promotor atau sales informasi. Di sini, benar-benar hanya dari sudut pandang fulan tanpa adanya maksud apapun, tapi dengan tujuan sesuatu bahwa Peta adalah Kesepakatan.

Kembali ke topik utama, Peta NKRI adalah peta yang menyajikan wilayah nusantara, wilayah kedaulatan untuk daratan dan perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Geregetan juga, kala ada salah satu person menyebutkan bahwa apa yang disajikan pada Peta NKRI Edisi x salah. Si dia, kurang memahami mengenai proses dan kesepakatan apa yang diambil kala Peta NKRI Edisi x tersebut. Padahal dia adalah orang yang terlibat di dalam proses tersebut. Maaf...kembali ke laptop, tulisan ini bukan untuk men-judge siapa pun. Tulisan ini sekedar untuk menunjukkan bahwa Peta adalah Kesepakatan. Peta NKRI Edisi tiap tahunnya tentu akan ada perbedaan pada beberapa item dimana hal ini bergantung pada dinamika peraturan perundang-undangan yang lahir, pemekaran wilayah, aspek penamaan rupabumi yang resmi, dan lain sebagainya. Peta NKRI, jika fulan secara pribadi boleh menilai bahwa Peta tersebut adalah Peta hasil Kesepakatan Penyajian Informasi Geospasial yang mencakup wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kesepakatan yang disepakati oleh yang menghadiri di tiap pertemuan teknis hingga pertemuan besar untuk mengetok palu bahwa Peta NKRI disepakati, dimana memperhatikan aspek kartografis diantaranya skala penyajian informasi geospasial, ukuran teks untuk nama rupabumi, tata letak informasi tepi peta, dan aspek lainnya. Semua itu diperoleh melalui kesepakatan, yang tentusaja ada tiga aspek yang berpengaruh yakni aktor, ruang dan waktu. Aktor yang sama hadir di ruang dan waktu yang berbeda dapat memberikan masukan yang berbeda pula, apalagi jika aktor-aktris yang hadir berbeda-beda dari ruang dan waktu sebelumnya.

Mari beralih ke definisi peta menurut fulan, Peta adalah sajian informasi geospasial yang menggambarkan ruang kebumian ke dalam bidang datar (tidak hanya kertas semata, di era dijital dapat berupa layar datar :), lalu kalau layar cembung bagaimana? berarti peta disajikan dalam bidang cembung? heuheu #abaikan) dimana peta tersebut merupakan hasil kesepakatan internal pembuat peta yang diharapkan mendapat persetujuan atau pemahaman dari pengguna peta. Artinya dengan membaca peta tersebut apa yang coba disampaikan oleh pembuat peta dapat dipahami oleh pengguna peta. Lahirnya beberapa kesepakatan bagaimana cara membaca dan/atau menggunakan peta. Misalnya, sungai, danau atau tubuh perairan digambarkan dengan warna biru/cyan; jaringan jalan digambarkan dalam warna merah, dan berbagai kesepakatan lainnya.

Ternyata pula, di dalam kegiatan pemetaan rupabumi Indonesia masih berlaku pula anggapan fulan bahwa Peta adalah Kesepakatan Penyajian Informasi Geospasial. Apabila pekerjaan dibagi ke dalam beberapa paket pekerjaan, maka dalam proses edgematching diperlukan kesepakatan, ini adalah bagian dari kesepakatan internal pembuat peta. Belum lagi, jika berbicara lebih ramainya terkait kegiatan survey kelengkapan lapangan ialah kesepakatan penarikan batas wilayah administrasi terlebih di daerah-daerah yang   memiliki potensi tertentu dan menjadi ajang konflik batas wilayah. Kesepakatan acapkali susah diperoleh dari informasi di lapangan dari tiap wilayah sengketa. Satu wilayah menginginkan batas wilayahnya ditarik setelah seberang sungai, sedangkan satunya menginginkan batasnnya persis di alur sungai. Itu adalah salah satu contoh, bagaimana proses kesepakatan telah berlangsung sedari awal di dalam proses pembuatan sebuah peta. Peta antar negara juga diperoleh dari hasil kesepakatan secara kartografis dengan mengacu pada data-data lapangan, misalnya peta-peta yang dihasilkan atau dalam proses kegiatan Joint Border Mapping (JBM) antara Republik Indonesia dengan Malaysia. Bisa dilihat di dalam http://www.big.go.id/berita-surta/show/pertemuan-jbm-ri-malaysia-peta-rupabumi-indonesia-disandingkan-dengan-peta-malaysia bahwa Peta Rupabumi Indonesia skala 1:50.000 yang disajikan dalam buffer area tertentu (sesuai kesepakatan) disandingkan dengan peta malaysia skala 1:50.000. Secara nyata bahwa Peta adalah Kesepakatan Penyajian Informasi Geospasial.

Melihat peta sebagai selembar kertas yang menyajikan ruang kebumian, tentusaja banyak kesepakatan yang diambil karena tidak memungkinkan untuk menyajikan semua unsur rupabumi dalam satu lembar peta, skala peta menjadi pengunci informasi apa saja yang disajikan dan bagaimana penyajiannya. Kesepakatan resmi mengenai penyajian informasi geospasial dasar dalam wujud peta dasar, diantaranya peta rupabumi Indonesia disajikan dalam kerangka SNI.

Sekian celoteh fulan, pastinya bahwa membuat peta sebagai sebuah hasil kesepakatan yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan adalah peluang dan tantangan bagi para pegiat IG. Jangan sampai peta yang semestinya menjadi alat bantu mengenali hingga mengelola wilayah, malah menyajikan informasi yang kurang sesuai atau bahkan tidak dapat dipergunakan.

Mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan, sekali lagi ini hanyalah pintasan lalu kilatan kata yang melintas di benak fulan menanggapi bahwa Peta bukan sekedar sajian semata, tapi memerlukan kesepakatan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.


Salam Geospasial Untuk Negeri,

Fulan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar