Senin, 24 September 2012

[TOPONIMI] Training Internasional Toponimi Ke-4 UNGEGN di Indonesia

[BERITA_TOPONIMI] Training Internasional Toponimi Ke-4 UNGEGN di Indonesia


Gambar 1. Pengajar Training (dari UNGEGN dan dari Indonesia) beserta Pejabat Badan Informasi Geospasial dan Ketua Panitia (sumber Foto: http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/pembakuan-nama-rupabumi-untuk-kedaulatan-negeri/)
 
Cibinong, 24/09/2012

Training atau pelatihan untuk toponimi yang diselenggarakan atas kerjasama UNGEGN dan BIG (Badan Informasi Geospasial, dulu BAKOSURTANAL) pada tanggal 17-21 September 2012 di Yogyakarta bertempat di Hotel All Season telah berjalan dengan baik. UNGEGN yang merupakan singkatan dari United Nations Group of Expert on Geographical Names merupakan kumpulan pakar nama-nama geografis PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

UNGEGN adalah merupakan Pakar nama-nama geografis PBB sebagai salah satu dari 7 badan PBB di bawah UN Economic dan Social Council (UN-ECOSOC) yang dibentuk berdasarkan Resolusi ECOSOC No. 715 A (XXVII) tanggal 23 April 1959 dan No. 1314 (XLIV) tgl. 31 Mei 1968 dengan tujuan untuk memajukan standarisasi nama-nama geografis pada tingkat nasional dan internasional.

Indonesia sendiri merupakan anggota UNGEGN Divisi Asia Tenggara, yang sebelumnya Divisi ini bernama Divisi Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya. Pada Konferensi PBB mengenai standarisasi nama geografis (UNCSGN) ke 10 dan UNGEGN Session ke 27 di New York, dari 30 Juli s/d 10 Agustus 2012, Divisi Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya di pecah menjadi dua, masing-masing adalah Divisi Asia Tenggara dan Divisi Pasifik Barat Daya.

United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN)

In 1959, the Economic and Social Council (ECOSOC) paved the way for a small group of experts to meet and provide technical recommendations on standardizing geographical names at the national and international levels. This meeting gave rise to the United Nations Conferences on the Standardization of Geographical Names (UNCSGN) and to the United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN). The UNCSGN is held every five years, and UNGEGN meets between the Conferences to follow up the implementation of resolutions adopted by the Conferences and to ensure continuity of activities between Conferences. Today, UNGEGN is one of the seven standing expert bodies of ECOSOC, with over 400 members from over 100 countries.
Outside its meetings, UNGEGN functions through 23 geographical/linguistic divisions and through working groups, currently addressing issues of training courses, digital data files and gazetteers, romanization systems, country names, terminology, publicity and funding, and toponymic guidelines.
source: http://unstats.un.org/unsd/geoinfo/ungegn/default.html
Pelatihan toponimi kali ini merupakan pelatihan yang ke-4 di Indonesia dimana sebelumnya telah diselenggarakan tiga kali training toponimi di Indonesia. Training pertama yakni training toponimi pada tahun 1982 di Cisarua yang merupakan Pilot Project Training. Training ke-2 diselenggarakan pada tahun 1989 di Cipanas, sedangkan training ke-3 diselenggarakan di Batu, Malang pada tahun 2005. Training ke-4 yang telah diselenggarakan pada tahun 2012 di Yogyakarta.

Pelatihan Internasional untuk toponimi diisi oleh pemateri dari luar negeri yakni pakar toponim UNGEGN sejumlah 4 orang yaitu dari Kanada, Jerman, Belanda, dan pengajar dari Indonesia sebanyak 2 orang. Peserta pelatihan dihadiri oleh perwakilan dari 33 provinsi yang dapat hadir dimana mereka merupakan bagian dari panitia pembakuan nama rupabumi provinsi, kabupaten dan kota. Selain itu, hadir pula peserta dari internal Badan Informasi Geospasial, Instansi lain, dan akademisi (perguruan tinggi) yang terkait dengan ilmu kebumian. Selain peserta dari dalam negeri, hadir pula peserta luar negeri dari Malaysia, Pilipina, Oman, dan Sri Lanka.
Gambar 2. Kepala Badan Informasi Geospasial, Asep Karsidi pada saat pembukaan training
Menurut Kepala BIG, Asep Karsidi, saat membuka training, kegiatan yang telah dilakukan oleh Indonesia dalam merespon rekomendasi atau resolusi yang dihasilkan oleh UNCSGN telah banyak diadopsi dalam pelaksanaan standarisasi nama geografis di Indonesia. Kepala BIG selaku Sekretaris I Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi berharap, dengan training ini dapat meningkatkan kemampuan aparat yang terlibat di Tim Nasional dan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi di daerah, agar setaraf dengan negara lain dalam kemampuan mengelola nama-nama geografi sesuai dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat.

Kegiatan pelatihan  toponimi berlangsung selama 5 hari dimana pada hari ke-3 berlangsung kegiatan lapangan untuk mempraktekkan secara langsung bagaimana melakukan survey toponimi. Pelatihan di dalam kelas berlangsung dari pagi hingga sore hari dengan materi dari pengenalan, teori hingga praktek atau teknis pengolahan nama rupabumi serta pelaksanaan survey toponimi. Untuk menjalin suasana keakraban sekaligus menggali masukan dari peserta pelatihan terkait penyelenggaraan pelatihan dan harapan ke depan, maka telah diselenggarakan pula "Gala Dinner" atau makan malam bersama di tenpat pelatihan. Berikut 4 cuplikan gambar aktivitas pelatihan toponimi yang telah berlangsung di Yogyakarta.
Gambar 3. Suasana di ruang kelas 'training toponimi' [*uupzz ada penulis di depan :)]

Gambar 4. Aktivitas lapangan salah satu grup atau kelompok peserta training toponimi (membaca peta, menyimpan lokasi koordinat dengan GPS, dan mengenali nama dan wilayah untuk survey toponimi)
Gambar 5. Melakukan wawancara dengan masyarakat lokal mengenai arti nama, sejarah nama hingga merekam 'pengucapan' sebuah nama guna survey toponimi
Gambar 6. Foto Bersama di titik survey toponimi terakhir 'Candi Boko'
Salam,
/app



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar