Kamis, 05 Juli 2012

[CeritaToponimi] Jelajah Dusun; Mencari Nama dan Lokasi

Wajo, 5 Juli 2012

Ini bukanlah cerita serius tapi cerita santai hingga kadang tiada rantai yang bisa menyatukannya, sehingga pembaca harap santai dan silahkan menikmati pantai sambil makan satai. Postingan kedua di era sebulan survey menjelajahi wilayah, menembus sawah lalui jembatan kayu dari yang kokoh hingga goyah, tujuannya ialah melengkapi apa yang kurang di dalam manuskrip dengan data lapangan.

Berbekal kertas yang tercetak di atasnya garis warna biru dan merah, titik dengan angka, dan juga tulisan atau teks nama. Ditambah bekal yang berbau digital atau teknologi informasi geospasial yakni alat berupa jipies (tullis: GPS) dimana keberadaan kita bisa terdeteksi dalam suatu sistem koordinat xyz (longitude, latitude dan altitude). Garis jaringan jalan dan sungai dimasukkan ke dalam jipies sehingga memudahkan kita untuk melihat cakupan area yang akan dijelajah sekaligus melakukan cek lapangan terhadap hasil interpretasi citra. Keberadaan data sekunder baik berupa ceklist atau daftar nama desa dan data toponim membantu di dalam jelajah dusun mencari nama dan lokasinya.

Menggelar peta dan melakukan kroscek dengan posisi yang ditunjukkan dalam jipies serta mengamati lingkungan sekitar dimana kita sedang berdiri merupakan bagian yang penting. Bukan sekedar melakukan klik mark untuk menandai lokasi atau point of interest yang menjadi titik kunjungan, bukan pula sekedar berjalan melakukan perekaman jejak yang dilalui (tracking) akan tetapi memastikan bahwa apa yang tampak di manuskrip benar. Misal, pada peta manuskrip digambar dengan simbol garis warna merah yang berarti jaringan jalan (menurut operator dengan pengamatan secara tridi (3D) berdasarkan citra dan data dsm), kenyataan di lapangan ternyata saluran irigasi.Itu perlu menjadi catatan dan koreksi terhadap peta manuskrip. Contoh lain ialah adanya jaringan jalan yang putus atau buntu, di kiri kanannya sawah dan kebuntuannya menuju ke area tambak; maka jelajah dusun dilakukan...walhasil dapat dilihat adanya area pemukiman terpencar di kanan kiri jalan, ada pula area perkampungan ditunjukkan adanya masjid, tk, pemakaman umum, hingga rumah kepala dusun.

Informasi mengenai nama dusun atau lingkungan didapatkan dari beberapa sumber yakni takon (tanya) pada penduduk yang kita temui di saat survey untuk memastikan keberadaan dusun, bukti (adanya plang pada fasilitas umum atau perkantoran, hingga di rumah penduduk), tugu (dalam hal ini batas antar desa hingga antar dusun). Karya-karya mahasiswa yang mengabdi pada masyarakat dalam wujud KKN, KKL, KKP, KKLP sangatlah membantu di dalam kita mengenali nama unsur rupabumi wilayah administrasi, unsur alami dan buatan.Bahkan tulisan nama sungai pada jembatan di jalan raya juga membantu kita mengidentifikasi nama sungai yang  mengalir dan melintas di jalan tersebut.

Mengumpulkan nama-nama unsur rupabumi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, terlebih waktu yang dimiliki sangatlah terbatas. Apalagi jika ditambah dengan faktor kondisi topografis, wilayah administratif, cuaca (misal: hujan), jarak dari basecamp, bahasa, dan berbagai faktor lain yang acapkali ditemukan di lapangan bahkan di luar prediksi dan perhitungan awal saat masih di ruangan (baca: lab, studio, kantor, dsb). Mengajak orang lokal sebagai pemandu sekaligus pengantar dan penerjemah di dalam perjalanan jelajah dusun sangatlah membantu. Apabila komunikasi dengan pemandu terjalin dengan baik maka mereka akan menyatu dengan kita sebagai satu tim, sehingga semakin memperlancar dalam perolehan informasi di lapangan.

Jelajah dusun, berpindah dari satu dusun ke dusun yang lain sembari merekam jejak lokasi-lokasi penting yang kelak akan diabstraksikan dalam simbol kartografis dalam skala pemetaan yang telah ditentukan di pekerjaan. Data sekunder yang berupa daftar nama rupabumi atau gasetir telah diplot pada salah satu tema peta manuskrip dengan tujuan membantu petugas lapangan atau surveyor untuk mencari jejak dusun yang ada di dalam peta manuskrip tersebut. Akan tetapi bukan itu saja, ketika ada obyek pemukiman dengan simbol area yang di dalamnya tertuliskan PMK, sedangkan berdasarkan data sekunder daftar nama rupabumi tersebut tidak terdapat nama kampung maka jelajah dusun dilakukan dengan mencari informasi nama dusun atau lingkungan di area pemukiman berpenduduk.

Penduduk di suatu wilayah tidak semua dan kadang beberapa belum tentu faham sejarah dan arti nama wilayah tersebut, sebagaimana fulan yang juga tidak mengerti kenapa kampung kelahirannya bernama XYZ. Secara perlahan tapi pasti, informasi tersebut dapat hilang ditelan bumi manakala dokumentasi yang dapat diperoleh dari data terdahulu ataupun sesepuh atau tetua desa atau ketua adat dan sebagainya tercatat dengan baik. Sebagaimana perjalanan fulan hari ini dan bertanya pada penduduk yang tinggal tepat di ujung jalan dan berujung pada pelabuhan (sebutan untuk tempat bersandarnya perahu), mereka hanya mengetahui bahwa dusunnya bernama 'dusun'. Kalau dari segi bahasa, kata mereka tiada artinya dan kalau dari sisi sejarah mereka tiada mengetahuinya. Oleh karena itu, menjadi tugas bagi pemerintah pusat, daerah untuk dapat 'mendokumentasikan nama' jangan sampai hanya tinggal nama tanpa arti dan makna hingga hilanglah sudah sejarahnya.

Ketika nama itu muncul di dalam peta maka peta itu tiada lagi menjadi buta, ketika nama itu diletakkan di atas citra maka citra itu menjadi berharga. Mengumpulkan nama dengan seksama akan memberikan informasi yang tiada terkira gunanya.

Sekian cerita toponimi, tiada maksud hanyalah berbagi ala fulan dan fulana sembari menikmati hujan mengguyur tanah wajo.

Salam Geospasial Untuk Negeri ku INDONESIA,

Aji Putra Perdana

"Terlampir poto-poto seaadanya*





1 komentar:

  1. Mas, boleh tanya tentang quantum GIS ga?
    aku donlut file peta indonesia basis desa yg dari bakosurtanal (shapefile) kl mau ambil koordinat lat/long gimana ya?

    pengennya bisa diambil kabupatennya aja, kecamatannya aja atau kelurahannya aja.

    suwun Mas, kok ra ono emaile tho ndok blog iki?

    BalasHapus