Minggu, 03 Juni 2012

[Toponimi] Nama itu bukan sekedar Dongeng

[Toponimi] Nama itu bukan sekedar Dongeng

Cibinong, 03 Juni 2012
/app

Kembali membangkitkan semangat menulis, walaupun bukanlah seorang penulis karya ilmiah atau novelis bahkan bukan pula seorang jurnalis. Keberadaan laptop yang menyala dan blog yang lama tak tertuang dongeng tak terarah ala fulan ataupun thole, memikat hati untuk menulis. Kali ini mengangkat tema "Toponimi" sebagai upaya untuk membangkitkan pula kesadaran akan arti pentingnya sebuah nama. Nama  itu bukan sekedar Dongeng, kurang lebih alias pasti pas-nya itulah judul yang ditulis di atas kanvas blog ajiputrap.blogspot.com. Kalau dicermati secara sungguh-sungguh muncul berbagai dugaan bahwa itu adalah judul yang dibuat-buat. Lalu fulan pun menjawab: "Iya, betul sekali :), judul itu memang dibuat-buat oleh penulis yang membuat sehingga tampak seperti dibuat-buat karena sesungguhnya memang dibuat untuk menarik para pembaca mengenal kata-kata yang dibuat pada tulisan kali ini :)".

Nama itu bukan sekedar Dongeng
Mengingatkan kembali akan memori yang telah lampau, hampir mendekati 11 bulanan yang lampau di kala itu fulan (sebagai aktor utama peran pengganti si penulis) menanti kelahiran putra-nya yang pertama. "Nama" itulah yang dicari, disepakati untuk kemudian diberikan kepada si jabang bayi yang baru lahir. "Nama" itu bukan sekedar hiasan belaka atau penanda jati diri seseorang semata untuk dibedakan dengan yang lainnya. "Nama" adalah identitas yang unik dimana dalam pemberiannya memiliki arti, makna, sejarah bahkan asal bahasa yang dipergunakan dalam "Nama". "Nama" itu bukan sekedar Dongeng belaka, dimana suatu saat nanti si anak bertanya kepada orang tuanya, kenapa saya diberi nama "fulan" ?, maka orang tua menjelaskan secara perlahan layaknya bercerita (baca: mendongengkan nama) kepada si anak. Nama itu adalah sebuah do'a, harapan dari orang tua untuk kebaikan si anak, masa depan kelak dan semuanya.

It's sound simple, but not (ketoke gampang, neng ora-->jowo diingriske dadi yo koyo ngene sepenake dewe)
"Nama" itu terdengar mudah di telinga, mudah dan kadang susah diucapkan, mudah atau kadang susah pula dituliskan. Silahkan cermati, nama-nama bayi jaman sekarang (era milenium ke atas) dari abjad A hingga Z telah lengkap menghiasi nama anak jaman sekarang. Nama tidak lagi lokal semata (nama lokal), nama dapat berasal dari bahasa negara tetangga atau bahkan negara nun jauh di sana dari tempat tinggalnya. Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi menjembatani "Nama" untuk terbang ke sana dan ke mari, sehingga "Nama" bukanlah sekedar dongeng di satu negara akan tetapi menjadikan Nama itu bukan sekedar Dongeng sederhana di dunia. Jika jaman dahulu kala, orang tua kita memberikan "Nama" dengan bantuan dari orang yang lebih tua/sesepuh/dituakan (misal: nenek/kakek kita atau bapak/ibu dari bapak/ibu kita), nah sekarang ini mbah google bisa menjadi salah satu alternatif di dalam mencari nama dengan memahami makna di dalamnya.

Di dalam bahasa keren dari era keterbukaan informasi yakni "crowd sourcing", saking begitu banyaknya sumber yang bisa diakses melalui dunia maya dengan hanya mengetikkan "Nama" sebagai yang dicari untuk dijadikan sebagai kata kunci lalu tekan "search" pada mesin pencari. Maka berbagai informasi yang berhubungan dengan sesuatu yang kita cari akan muncul dengan berbagai alternatif link atau koneksi informasi yang relevan. Itulah salah satu fungsi dari "Nama" sebagai satu identitas unik yang menjadi pintu penghubung kemana saja layaknya pintu ajaib yang keluar dari kantong Doraemon.

Manusia memberi Nama
Nama diberikan tidak hanya kepada anak yang baru lahir, nama sejak dulu kala telah diberikan kepada obyek-obyek atau kenampakan yang ada di permukaan bumi bahkan hingga obyek yang ada di antarikasa sana. Masih ingatkah, kapan Anda mulai mengenal atau tahu bahwa di tempat Anda sekarang membaca tulisan ini atau tempat Anda berhuni adalah sebuah planet bernama "Bumi"?. Lalu, tahukah dimana Anda dilahirkan? Pernah muncul tanya yang terbesit di dalam hati atau bahkan sudah tempat Anda tanyakan kepada orang tua Anda tempat dimana Anda tinggal itu memiliki Nama, adakah dongeng atau cerita di balik Nama tersebut? Apakah Anda menyadari bahwasannya rumah yang Anda huni juga diberi sebuah identitas atau nama yang berupa nomor rumah? Nama diberikan kepada obyek untuk mempermudah manusia di dalam berkomunikasi satu dengan lainnya sebagai penanda dan pembeda antar obyek, sehingga konektivitas dapat terjalin dengan lebih harmonis.

Kemudian, nama yang berkaitan dengan unsur rupabumi atau obyek geografis dikenal sebagai toponim. Dengan kata lain, toponim adalah nama tempat di muka bumi. Sedangkan toponimi merupakan totalitas dari toponim di suatu wilayah. Di sisi lain, Toponimi adalah ilmu tentang nama geografi.

Keunikan nama-nama unsur rupabumi alami dan buatan yang diberikan oleh manusia sebagai upaya menandai unsur-unsur tersebut memerlukan sebuah upaya untuk mencatat atau mendokumentasikannya sehingga dapat ditindaklanjuti dengan melakukan standarisasi melalui tahapan pengumpulan nama rupabumi, penyusunan basisdata nama rupabumi, verifikasi dan validasi nama unsur rupabumi. Hal tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan nama lokal dan sebagai upaya mempertahankan informasi lokal untuk mengingatkan kepada kita bahwa Nama itu bukan sekedar Dongeng. Jangan sampai nama lokal ditelan seiring era global sehingga anak cucu kita lupa akan nama lokal yang mengandung arti, makna, sejarah yang berkaitan erat dengan unsur rupabumi yang diberi nama tersebut. Nama lokal yang sederhana dan telah salah kaprah dalam penulisannya, misal: Ci Liwung :), saat ini acapkali ditulis dengan ciliwung. Ci itu konon kabarnya berarti Sungai. Dan masih banyak lagi contoh nama lokal yang perlu dipertahankan di dalam penyusunan nama sebagai informasi geospasial dasar.

Nama itu memiliki landasan hukum
Nama itu ada dasar hukumnya. Agar nama kita dapat diakui maka setelah kelahiran kita, orang tua kita perlu mempersiapkan dokumen untuk diproses sehingga keluar akta kelahiran yang bertuliskan nama lengkap kita dimana akan dipergunakan sebagai landasan untuk pembuatan dokumen-dokumen kehidupan lainnya yang memerlukan nama sebagai informasi dasarnya.

Demikian pula dengan nama unsur rupabumi atau nama tempat atau nama geografi. Bangsa-bangsa di dunia yang terkumpul di dalam Persatuan Bangsa-Bangsa atau PBB atau United Nation (UN) dan di dalamnya terdapat perkumpulan para pakar nama geografi yang tergabung dalam UNGEGN. Melalui resolusi yang dikeluarkannya mendorong Negara-negara di dunia untuk membentuk lembaga otoritas yang menangani nama. Nah, di Indonesia berdasarkan landasan hukum Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2006 mengenai Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi berupaya untuk mewujudkan "terbakukannya" nama rupabumi di Indonesia. Hal ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan mengingat kondisi geografis Indonesia, keanekaragaman budaya dan bahasa daerah dan berbagai hal lainnya. Sebelum Peraturan Presiden tersebut muncul, terbitnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dapat dilihat pada pasal 7 ayat 2 yang menyebutkan bahwa "Perubahan batas suatu daerah, perubahan nama daerah, pemberian nama bagian rupabumi serta perubahan nama, atau pemindahan Ibukota yang mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Hal tersebut, menunjukkan bahwa Nama itu memiliki landasan hukum :) dan bukan sekedar Dongeng semata. Pedoman umum mengenai pembakuan nama rupabumi telah dituangkan di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.39 Tahun 2008.

Di era informasi dimana seluruh dunia bisa terhubung hanya dengan melalui satu koneksi yakni koneksi internet, maka nama menjadi salah satu informasi dasar. Apabila nama itu memiliki posisi koordinat maka sudah barangtentu nama ini merupakan informasi geospasial dasar.

Lahirnya Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial memperkuat landasan hukum bagi "Nama" (dalam hal ini nama unsur rupabumi). Nama di dalam Pasal 12 huruf d yakni nama rupabumi merupakan salah satu unsur dalam peta dasar. Nama rupabumi adalah nama yang diberikan pada unsur rupabumi. Pasal 15 UU No.4 Tahun 2011 lebih lanjut menegaskan bahwa: "Nama rupabumi sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 12 huruf d dikumpulkan dengan menggunakan tata cara pengumpulan nama rupabumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan".

Hal ini merupakan peluang dan tantangan ke depan bagi para pemerhati "Nama" di Indonesia :).

Lalu sejauh mana nama itu telah dikumpulkan?
Nama itu bukan sekedar Dongeng, tapi tolong perkenankan fulan untuk mendongeng sejenak :).
Awal implementasi pengumpulan nama rupabumi di Indonesia sejalan dengan kegiatan pemetaan dasar yang dilakukan oleh BAKOSURTANAL dengan metode mengacu pada PBB. Semenjak itulah nama-nama itu mulai dikumpulkan dimana dari sekedar nama yang tertempel pada peta sehingga peta tak lagi buta, hingga kini nama itu telah dikumpulkan ke dalam basisdata nama rupabumi.

Sekiranya itu dongeng sekilas mengenai "Nama itu bukan sekedar Dongeng" :).
Tidak ada kesinambungan di dalam tulisan karena penulis bukanlah seorang jurnalis yang pandai merangkai kata hingga menjadi bahasa yang bermakna. Tulisan ini hanyalah sepintas mata memandang untuk dapat dijadikan sebagai wacana bahwa Nama itu ada dan bukanlah tanpa makna.

Salam hormat,
Aji Putra Perdana
*itu baru nama saya*

-------------------------------------------------------------------------------------

*tertarik baca celoteh fulan tentang toponimi? silahkan bebaca di: http://ajiputrap.blogspot.com/search/label/Toponimi

*maaf sekedar sepintas lalu :)


Salam Geospasial Untuk Negeri,
 -----------------------------------
Terimakasih sudah membaca :),
Aji Putra Perdana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar