Sabtu, 30 Juni 2012

Mengumpulkan nama #cerita #toponimi #wajo

Minggu akhir bulan Juni hingga akhir minggu bulan Juli di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan merupakan waktu yang pendek dan juga panjang untuk berada di wilayah lain dari tempat biasa fulan tinggal dan bekerja. Datang ke lokasi ini adalah bagian dari pekerjaan yakni survey toponimi dan kelengkapan lapangan. Mengumpulkan nama, informasi lapangan sekaligus kroscek hasil interpretasi kerjaan di lab/studio/kantor dan mengujinya dengan data riil di lapangan merupakan beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan saat  di lapangan.

Cerita ini tidak akan menceritakan secara detil apa-apa yang dilakukan di lapangan, akan tetapi hanyalah sekelumit cuplikan atau potret mengenai pengumpulan nama. Baik dari nama-nama yang sudah semestinya dikumpulkan ataupun nama yang terbaca saat survey dilakukan. Nama yang dimaksud dalam cerita fulan kali ini ialah nama unsur rupabumi baik alami maupun buatan yang dikumpulkan guna pemetaan rupabumi di Indonesia.

Datang di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Hal pertama yang menarik ialah bertemu dengan orang lokal (penduduk  wajo asli, bukan pendatang) dan bertanya-tanya mengenai arti di balik sebuah  nama. Sengkang, artinya apa-aja ada (*maaf jika kurang pas artinya), ujar si bapak pengantar saya saat keliling-keliling di wajo. Si bapak  menegaskan bahwa barang apapun, misal mobil attau motor atau hape keluaran terbaru ada di Sengkang. Itu cerita si Bapak :).

Hal kedua yang menarik ialah penulisan beberapa nama lingkungan atau dusun dan desa yang kadang tidak sama.  Sebagai contoh ialah tulisan yang terletak pada sebuah sekolah dasar. Di gapura sekolah tertulis 'wiringpalennae', akan tetapi pada papan yang terpasang di dinding kantor tertulis 'wirimpalennae'. Ada juga beberapa nama yang menggunakan spasi dan tidak, sehingga perlu penegasan dan untuk memastikannya kita perlu mengetahui arti nama dan jika perlu dengan sejarah nama. Pertanyaan yang muncul berikutnya ialah masih adakah kita mengenal arti nama dan sejarah nama; minimal nama wilayah kita sendiri?, tanya fulan pada bulan :).

Hal ketiga di dalam sepintas lalu melihat dan mengumpulkan nama ialah bermanfaatnya kegiatan plangisasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKL, KKN, ataupun KKP, KKLP. Di wilayah kabupaten wajo ini, plang terpasang hingga plang kepala dusun dan imam masjid; selain itu terdapat pula plang yang bertuliskan asmaúl husna dan sebagainya. Selain itu, nama dusun atau lingkungan juga diperoleh dari Masjid-masjid yang bernama (banyak juga masjid yang tiada nama). Dusun berada di wilayah desa, sedangkan lingkungan berada di wilayah kelurahan; mengumpulkan nama-nama mereka tidaklah mudah dan beberapa terbantu dengan adanya plang ketua dusun/lingkungan yang dipasang oleh rekan-rekan mahasiswa yang mengabdi pada masyarakat. Sempat muncul ide konyol fulan terkait tema KKN yakni 'Plangisasi Nama Unsur Rupabumi Wilayah Administrasi, Unsur Alami dan Unsur Buatan guna menunjang tersedianya informasi geospasial dasar'...panjang banget yach :p.

Hal keempat ialah nama jalan. Nama jalan memang bukan menjadi bagian informasi geospasial dasar (nama rupabumi) yang dikumpulkan guna pemetaan rupabumi skala 1:25.000. Nama jalan dikumpulkan untuk skala yang lebih besar, misal skala 1:10.000 dan lebih besar darinya. Salah satu dari sekian keunikan nama jalan di wajo yang menarik dan memunculkan tanya arti di balik nama ialah nama jalan di kota sengkang: Jalan Korban 40.000 Jiwa. Tentunya ada makna di balik nama...ada juga jalan pekuburan islam, akan  tetapi di area  tersebut tidak ada pemakaman islam.

Demikian cerita hari ini...

Wajo 30 Juni 2012,
Aji Putra Perdana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar