Senin, 09 April 2012

Banjir Jakarta (Bukan) Kiriman, Dicari Ahlinya?

Banjir Jakarta (Bukan) Kiriman, Dicari Ahlinya?

Cibinong, 9 April 2012

Beberapa hari belakangan ini fenomena banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya, ada yang mengatakan sebagai banjir lima tahunan, ada pula yang bilang banjir kiriman dan tentusaja dicari ahlinya. Ahli yang bisa menanggulangi banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya dimana itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta untuk bersanding dengan (genangan) air. Tulisan ini bukanlah tulisan ahlinya tetapi sekedar membagi informasi mengenai banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya sebagai bagian dari kejadian geosfer  (fenomena kebumian) yang membutuhkan penanggulangan A, B dan C (Abiotic, Biotic and Cultural), tulisan ini sekedar sepintas lalu dengan menggunakan kacamata hitam putih spasial.

Gambar 1. Sebaran Spasial Banjir Jakarta 1982, 1996, 2002, dan 2007 (diolah dari berbagai sumber, dalam Perdana, A.P., 2011)
Banjir Jakarta (Gambar 1) bukanlah banjir kiriman dari Bogor karena letak Jakarta yang berada di wilayah bagian bawah dari sebuah daerah aliran sungai dimana air mengalir dari hulu ke hilir dan bermuara di lautan, maka seakan-akan banjir itu dikirim dari wilayah atas. Teringat postingan beberapa waktu yang lalu mengenai DAS Kekotaan atau Urban Watershed (http://ajiputrap.blogspot.com/2012/01/memahami-urban-watershed.html). Menggambarkan dan memahami problematika Jakarta layaknya kewajiban bagi kita untuk melihatnya dari cakupan yang lebih luas dan dari sisi kondisi (Geografi) fisikal yakni Jakarta sebagai bagian dari wilayah aliran sungai dan kondisi geomorfologisnya. Aspek fisik Jakarta berubah seiring perubahan bentuk fisik menjadi bentuk budaya dimana manusia memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan alam dan buatan. Kompleksitas banjir jakarta harus dilihat secara multidimensional dan melalui pendekatan komprehensif berbagai bidang keilmuan yang melihat bahwa faktor ABC telah menjadi keterpaduan yang kurang serasi sehingga permasalahan lingkungan kekotaan Jakarta terus berulang dan mari serahkan pada ahlinya. Ahli yang mana?, demikian kata fulan tatkala tulisan ini tergelontorkan ke permukaan tanah. Ahli yang sesuai dengan bidangnya masing-masing alias berkompeten untuk bersinergi bersama warga dan pemerintah.

Jika berbicara mengenai Jakarta dan banjirnya maka apabila kita googling atau mencari jurnal-jurnal ilmiah maka akan kita temui berbagai saran dan rekomendasi terkait tulisan yang mereka ulas atau kupas dalam penelitiannya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian ialah mau dibawa kemana tulisan itu? *nada lagu*...Dalam berbagai kajian lingkungan fisik dan manusia (dalam hal ini penduduk Jakarta yang tinggal di bantaran sungai dan pesisir Jakarta) acapkali menjadi narasumber dan dalam hatinya mereka berharap bahwa apa yang mereka sampaikan dan rasakan dapat tersampaikan kepada pengambil kebijakan.

Gambar 1 di atas merupakan gambaran keruangan (spasial) sebaran banjir di Jakarta (dari berbagai sumber) yang terjadi pada tahun 1982, 1996, 2002 dan 2007. Apabila dikomparasi atau dibandingkan dengan kondisi lingkungan perkotaan yang diperoleh dari pengolahan citra landsat multitemporal (Gambar 2) dimana citra tersebut menggambarkan perkembangan wilayah perkotaan Jakarta dari tahun 1975, 1990, 2000 dan 2010 maka berbagai kata tanya layak untuk dilontarkan.
Gambar 2. Perubahan Wilayah Perkotaan Jakarta dari Pengolahan Digital Citra Landat Multitemporal 1975, 1990, 2000, 2010 (sumber: Perdana, A.P., 2011)
Untuk selanjutnya, judul dengan konten mungkin kurang sesuai hanya sekedar memberikan gambaran dari sisi dalam bahwa perkembangan di dalam Jakarta sendiri memiliki andil dalam fenomena geosfer banjir jakarta. Apabila melihat beberapa referensi dan gambaran spasial di atas, kurang lebih ada tiga tekanan yang dihadapi Jakarta selain aspek kondisi fisik yang mengalami land subsidence atau penurunan tanah, yakni tekanan permukiman, komersial, dan industri. Hal ini memerlukan penekanan yang bijak dalam pengambilan kebijakan terkait solusi untuk atasi tekanan yang kian 'menurunkan' Jakarta dan menjadikannya 'kurang bersahabat dengan air.'

Gambaran kasar di atas melihatkan hampir tidak adanya ruang bagi air untuk meresap di Jakarta karena dipenuhi oleh impervious surface. Akan dilanjut di kali lain untuk melihat sisi lain daerah yang berada di atas Jakarta :). Tulisan ini bukanlah penilaian tetapi sekedar berbagi informasi dan cerita semata tanpa tendensi apapun...

Demikian cerita banjir jakarta (bukan) kiriman lho...

Salam Geospasial Untuk Negeri,
 -----------------------------------
Terimakasih sudah Membaca :),
Aji Putra Perdana

3 komentar:

  1. Joooz maseee...... menarik sih

    BalasHapus
  2. "Banjir Jakarta (Gambar 1) bukanlah banjir kiriman dari Bogor karena letak Jakarta yang berada di wilayah bagian bawah dari sebuah daerah aliran sungai dimana air mengalir dari hulu ke hilir dan bermuara di lautan, maka seakan-akan banjir itu dikirim dari wilayah atas"

    Kok bingung ya bukannya air mengalir dari atas ke bawah? jadi ya masuk akal dong mengalir ke Jakarta dan tidak sanggup menapung ya banjir.. ??? (*Awam)

    BalasHapus
  3. Mas, saya ada tugas kuliah yg butuh referensi peta banjir jakarta (Gambar 1) skala besar (Perdana, 2011). Kira-kira bisa saya dapat dimana? Terima kasih

    BalasHapus