Senin, 06 Februari 2012

Memetakan Kota Yogyakarta dan Kota Solo (Petik Pelajaran)

Memetakan Kota Yogyakarta dan Kota Solo (Petik Pelajaran)

Memetik sebuah pelajaran dari memetakan Kota Yogyakarta dan Kota Solo adalah sebuah perjalanan pengalaman yang luar biasa dalam memahami problematika Kota dari berbagai aspek kehidupan kekotaan. Kota Yogyakarta merupakan kota administratif yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan Kota Solo merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah. Keduanya merupakan Kota dengan sisi budaya yang masih kental dan gaya hidup masyarakatnya yang terkenal halus, ramah tamah dan mudah menerima pendatang. Hal tersebut terbukti dengan adanya proyek percontohan pengendalian demam berdarah dengue di Kota Yogyakarta oleh Yayasan Tahija yang melibatkan warga Kota Yogyakarta, unsur Akademisi yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada beserta Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mendapat sambutan dan kerjasama yang erat dan dekat. Di sisi lain, sebuah proyek perencaanaan kota berbasis masyarakat yang dilakukan oleh Yayasan Surakarta Kota Kita (YSKK).

Keduanya memiliki tujuan yang berbeda akan tetapi melalui proses yang hampir sama yakni membutuhkan data geospasial untuk kemudian diolah menjadi informasi geospasial tematik sesuai tujuan mereka. Tulisan kali ini berisi mengenai sejauh mana kota yogyakarta dan kota solo dipetakan dalam kedua proyek tersebut dan bagaimana manfaatnya.

Informasi Geospasial di dalam Proyek Percontohan Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta

Demam Berdarah Dengue (DBD) tidaklah menyebar secara langsung dari satu orang ke orang lain, akan tetapi penyebaran suatu penyakit "unavoidably spatial" atau bisa dikatakan memiliki pola spasial (keruangan). Hingga saat ini pemberantasan atau pengendalian DBD masih berpola pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan hal ini pulalah yang dilakukan dalam sebuah proyek percontohan DBD di Kota Yogyakarta oleh Yayasan Tahija.

PSN selektif dengan menggunakan insect growth regulator (IGR) yang dilakukan oleh Yayasan Tahija melibatkan kurang lebih 262 pekerja lapangan yang disebut sebagai Pemantau DBD. Pemantau DBD ini telah diseleksi dari 2523 Jumantik RT (juru pemantau jentik di tiap RT) Kota Yogyakarta dan bertugas melakukan distribusi dan monitoring keberadaan IGR. Selain mereka, ada sejumlah 32 orang surveyor dari Fakultas Kedokteran UGM yang bertindak untuk melakukan pengumpulan nyamuk dewasa layaknya ghostbuster. Mereka inilah (pemantau DBD dan surveyor) yang merupakan tokoh utama dalam pengumpulan data spasial dan non-spasial dari lapangan yang dikelola oleh unit data manajemen dan GIS.

Singkat cerita, pemantau DBD dan surveyor dibekali pengenalan pembacaan peta dan citra satelit serta penggunaan GPS untuk surveyor. Hal tersebut merupakan dampak positif dari perubahan strategi pelaksanaan kegiatan lapangan dimana semestinya peta kota Yogyakarta hingga level batas RW/RT sedianya telah disiapkan oleh FGE dikarenakan sampai batas waktu pelaksanaan belum tercapai juga, maka tindakan mengubah strategi dengan pembelian GPS untuk dibawa oleh surveyor dan pengenalan citra dan peta kepada pemantau DBD merupakan opsi yang terbaik pada saat itu.

Idealnya, sejumlah 45 peta kelurahan di Kota Yogyakarta telah siap hingga level RW/RT dan blok rumah telah diberi kode unik, sehingga dalam pelaksanaanya tiap rumah bisa dimonitoring :).

Sebuah ide muncul untuk mencoba mengajak warga (Pemantau DBD) untuk memetakan kelurahannya. Unit data manjemen dan GIS menyiapkan 45 peta citra dicetak dan dibagikan ke 45 koordinator pemantau DBD agar mereka membatasi batas RW dan RT. Awalnya mereka diberikan penjelasan dan pengenalan untuk melihat rumah mereka, lingkungan sekitar mereka, mengenali obyek jalan, sungai, hingga fasilitas umum seperti Sekolah, Masjid dan lain sebagainya. Pembekalaan penggunaan GPS juga dilakukan terhadap 32 surveyor dengan harapan mereka dapat melakukan marking (menyimpan waypoint) lokasi rumah-rumah yang telah mereka kunjungi.

Informasi dan Teknologi Geospasial dalam Proyek Percontohan Pengendalian DBD Kota Yogyakarta-Yayasan Tahija


Informasi Geospasial di dalam Proyek SoloKotaKita

Bercerita mengenai informasi geospasial di dalam proyek solo kota kita memang tidaklah bisa dilepaskan dari proyek percontohan pengendalian DBD Kota Yogyakarta karena pada dasarnya proyek pemetaan kota solo belajar dari apa yang terjadi di kota yogyakarta dan bagaimana untuk mengimplementasikannya dnegan lebih baik meskipun adanya keterbatasan dalam data geospasial (dalam hal ini perolehan citra satelit). Kunjungan seorang urban planner yang notabene merupakan teman dari pemilik Yayasan Tahija dan diskusi penulis dengan urban planner tersebut merupakan awal mula munculnya berbagai ide untuk dapat memetakan kota solo. Keterbatasan data tidak menyebabkan berhentinya ide tersebut, data geospasial yang dibutuhkan saat itu selain peta dasar rupabumi skala 1:25.000 wilayah kota solo untuk mendapatkan gambaran awal batas administrasi dan kondisi kota solo, dibutuhkan pula citra satelit resolusi tinggi seperti Quickbird atau Ikonos. Keberadaan Google Earth/Google Map dan Aerial Imagery BingMaps membantu dalam mempersiapkan citra yang dicetak dalam kertas ukuran besar untuk dijadikan sebagai dasar dalam delineasi batas RW/RT oleh warga kota solo bersama tim solo kota kita (Perdana, A.P., 2011). Historikal ini mungkin tidak didapatkan pada history yang dimuat dalam website solo kota kita karena cerita ini merupakan perjalanan panjang berbagi ide dan bagaimana merealisasikannya.

Google dan Bing saling melengkapi, berikut gambaran kota solo dari kedua penyedia data bebas akses yang bisa digunakan untuk tujuan tertentu dengan keterbatasan pada aspek akurasi. Bersumber dari http://geospatialinfo.blogspot.com/2010/08/google-maps-vs-bing-maps.html

Berikut sampel lokasi yang telah ditangkap oleh penulis :
Sebagian Citra daerah Kota Solo, tampak ada tutupan awan di sebelah kiri atau barat Alun-alun (Sumber : Google Maps)
Sebagian Citra daerah Kota Solo,tidak ada tutupan awan di sebelah kiri atau barat Alun-alun (Sumber : Bing Maps)

Proses cukup panjang untuk memetakan 51 Kelurahan di Kota Solo membuahkan hasil luar biasa berkat kerjasama seluruh tim solokotakita. Seperti halnya proses pembuatan data spasial dan non-spasial, tahap awal merupakan pengumpulan data, pemrosesan data, penyajian data dan diskusi hasil.

Proses Pemetaan Tematik dalam Proyek SoloKotaKita
Yang menarik dan bisa dinikmati secara berdayaguna dari Proyek Solokotakita ialah produknya yang nyata berupa informasi geospasial dalam format Atlas kecil atau disebutnya dengan Mini-Atlas dan disajikannya sebuah website solokitakita.org dimana disitulah informasi up-to-date terkait kegiatan Solokotakita disajikan. Kesimpulan Tulisan singkat ini terlalu sederhana untuk disimpulkan, sehingga untuk dapat menyimpulkan silahkan akses informasi lebih detail mengenai kedua kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan pemanfaatan data dan informasi geospasial yang membumi :)


salam dan selamat berbagi,
cibinong, 6 februari 2012
'aji putra perdana'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar