Rabu, 01 Februari 2012

cerita bencana jadi peta

Kejadian Bencana di Indonesia menjadi hal yang luar biasa dan memiliki daya pikat tersendiri. Hal ini diawali dari kejadian tsunami di Aceh, citra satelit yang menggambarkan kejadian sebelum dan sesudah kejadian tsunami besar tersebut menyadarkan kita akan arti pentingnya infomasi geospasial. Apakah asumsi itu benar atau tidak, penulis belum pernah melakukan kajian tersebut. Penilaian tersebut didasarkan pada berkembangnya pemanfaatan data penginderaan jauh dan analisa spasial dengan system informasi geografis. Di sisi lain, hal yang mendasari penilaian dari penulis yakni tatkala kejadian tsunami aceh di Laboratorium SIG Fakultas Geografi UGM kala itu mengumpulkan beberapa mahasiswa dan melakukan inventarisasi peta (dalam bentuk cetak) dan data spasial lainnya yang berkaitan dengan kejadian aceh, tak lupa pula data citra satelit sebelum dan sesudah kejadian tsunami. Kebutuhan peta ini semakin mendesak dikarenakan ti surveyor yang terjun ke lapangan membutuhkan peta sebagai acuan mereka dalam menjelajah untuk mencari korban bencana alam tsunami di Aceh.


Kondisi medan yang telah berubah dan penguasaan medan dalam artian daerah jelajah adalah informasi yang diperlukan oleh surveyor atau tim penolong. Rapid mapping, kurang lebih itu susunana kata kerennya yakni suatu proses pemetaan secara cepat. Pemetaan dalam hal ini ialah menyajikan ulang beberapa informasi geospasial dalam format standart sesuai kebutuhan untuk kegiatan lapangan sehingga dapat dicetak banyak sesuai kebutuhan tim lapangan.


Selain kegunaan peta untuk acuan bagi tim yang ke lapangan (baca: lokasi tsunami di Aceh), tim di laboratorium juga melakukan identifikasi dan kalkulasi dengan data geospasial yang tersedia untuk mendapatkan gambaran kasar atau estimasi tingkat kerusakan di daerah tsunami Aceh. Ketika proses berlangsung, penulis tidak bergabung lagi dikarenakan mengikuti KKN di Purworejo. Akantetapi proses penyediaan informasi geospasial untuk tsunami Aceh tidak berhenti dan yang menarik ialah sebuah file powerpoint yang diperoleh penulis dimana isinya merupakan hasil kerja keras dari Tim Laboratorium SIG Fakultas Geografi untuk Aceh. Peta citra sebelum dan sesudah kejadian tsunami, dilanjutkan dengan peta tingkat kerusakan dan hasil perhitungannya.


Kejadian bencana berikutnya yang menarik penulis untuk terlibat ialah kejadian gempa bumi Bantul, Yogyakarta. Saat kejadian gempa, pagi itu penulis sedang berada di rumah saudara di kampong halaman. Lindu terjadi dan bergoyang, langsung penulis mencari dari mana sumbernya melalui menyalakan radio dan televisi. Begitu mengetahui kejadian gempa bumi itu di Bantul, langsung penulis menghubungi saudara dan teman-teman satu kos yang masih berada di Yogyakarta untuk menanyakan kondisi mereka. Komunikasi saat itu susah tersambung dan Alhamdulillah selang beberapa  bisa terjalin. Beberapa hari sebelumnya penulis sudah memesan travel untuk keberangkatan menuju Yogyakarta (sebagai catatan: saat itu penulis masih duduk di bangku kuliah S1) dan tetap melanjutkan untuk menuju Yogyakarta. Selama dalam perjalanan, rasa penasaran terhadap kejadian gempa di Bantul dan bagaimana kondisi saudara dan kawan-kawan di sana masih aja bersandar di pikiran. Setiba di Yogyakarta, penulis menggabungkan diri bersama rekan-rekan yang terlebih dahulu tergabung secara sukarela dalam penyediaan informasi geospasial untuk bencana alam gempa bumi Bantul, Klaten dan sekitarnya.


Kebiasaan untuk ikut dan nongkrong di laboratorium membuat penulis jadi jarang tidur di rumah dan memilih untuk begadang di laboratorium sekedar menemani rekan-rekan yang mengemas ulang peta rupabumi untuk dapat diperbanyak dan disesuaikan dengan kebutuhan serta membuat pula peta tematik yang berisi kebutuhan yang diperlukan untuk masing-masing wilayah, ada pula peta yang memuat tingkat kerusakan dan korban jiwa. Semua informasi geospasial yang disajikan oleh posko ini diberikan secara cuma-cuma, peta dicetak dalam ukuran A3 yang dapat dipergunakan untuk acuan bagi para penyandang bantuan dan sukarelawan.


Kebutuhan akan peta ini semakin meninggi karena yang berdatangan untuk memberikan bantuan dating dari luar kota, luar pulau hingga luar negeri. Informasi nama lokasi dan posisi itulah yang mereka butuhkan dan baru penulis sadari saat ini (kala penulis belajar untuk mengenal arti pentingnya nama rupabumi) bahwa akurasi dan konsistensi dalam penulisan nama geografis/nama rupabumi/nama topografi adalah suatu yang hal yang penting dan memiliki peraturan presiden nomor 112 tentang tim nasional pembakuan nama rupabumi.


Kalau dicermati berdasarkan perjalanan penyajian peta untuk kebutuhan bencana secara mendadak dan dibutuhkan oleh berbagai pihak yang notabene tidak mengenal wilayah kejadian, maka informasi ‘nama’ itu sangat dibutuhkan. Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin kita akan memberikan peta buta sebagai acuan karena itu akan tanpa arti atau tiada guna. Kecuali sedari duduk di sekolahan dasar kita telah lulus kelas membaca peta buta di seluruh kawasan Indonesia atau hingga tingkat dunia. Nama rupabumi apabila dalam peta rupabumi Indonesia merupakan salah satu layer yang disajikan dan dikenal dengan layer toponimi.


Acapkali apabila kita mencermati peta rupabumi dalam bentuk cetak yang bisa kita dapatkan dari outlet-outlet peta maka sering banyak komplain mengenai penulisan nama atau pun letak nama yang tidak sesuai. Misal mestinya nama kampong x berada di sebelah barat sungai z dan berbagai kasus lainnya. Adanya kesalahan seperti ini tentunya akan sangat menyesatkan pengguna peta, bahkan jika dikaitkan dengan pendistribusian bantuan ataupun perhitungan tingkat kerusakan/korban jiwa akan memberikan gambaran yang salah.


Oleh karena itu, tugas yang cukup berat bagi Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi untuk dapat melakukan verifikasi dan validasi nama rupabumi sehingga dapat dijadikan sebagai gasetir nasional yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan maupun bencana.


Jika rekan-rekan sekalian terbiasa untuk akses google maps atau bing maps atau menggunakan google earth atau bahkan mengakses INA-Geoportal atau menggunakan ArcGIS Online atau GIS online opensource maka tersedia fasilitas ‘search’ atau ‘cari’. Di fasilitas itulah kita acapkali mengetikkan nama suatu wilayah atau unsur rupabumi, misal nama kabupaten, nama sungai, nama gunung dan secara otomatis akan diproses query sehingga bisa disajikan jawaban berupa sajian informasi geospasial mengarah pada nama yang diinginkan. Tetapi apakah hasilnya sudah sesuai atau kadang masih meleset karena adanya nama yang sama namun di lokasi yang berbeda. Misal, ketik cibinong…silahkan dicoba.


Untuk memperoleh hasil pencarian berdasarkan nama unsur rupabumi yang benar (dari sisi kaidah penulisan toponimi) dan tepat (dari sisi posisi koordinat bumi), maka diperlukan proses penyusunan gasetir secara resmi dan pengesahan terhadap nama-nama rupabumi. Pembangunan gasetir nasional sangat ditunggu-tunggu karena informasi geospasial tanpa nama rupabumi sebagai bagian di dalamnya seakan-akan membuat kita terombang-ambing karena tidak mengetahui darimana kita akan dapat ‘apa’. Ketika kita sudah mendapatkan koordinat, kita masih membutuhkan nama karena nama diberikan kepada suatu unsur geografis sebagai upaya manusia dalam identifikasi dan komunikasi.


Nama rupabumi menjadi kunci kemana-mana tidak dari sebuah informasi geospasial, dia merupakan kata kunci untuk bisa terhubung secara spasial dan aspasial untuk berbagai kebutuhan di muka bumi ini. Nama itu bukan sekedar nama, tapi nama itu memiliki makna atau sejarah di balik pemberiannya, ada alasan atas suatu nama diberikan.


Jika berkenan untuk mencermati peta-peta bencana, silahkan akses berbagai situs geospasial yang menyajikan peta bencana. Lihatlah dan perbandingkan bagaimana peta dan citra yang mereka sajikan. Adakah kita melihat adanya nama rupanbumi ataukah hanya ikon-ikon symbol kejadian bencana dalam peta tanpa nama? Mana yang lebih informatif dan berbagai aspek penilaian lainnya.


Tulisan ini ditulis di gedung pasca sarjana ugm lantai 2 sembari menanti waktu bimbingan dan mengenang masa lalu serta berbagai kejadian dimana cerita bencana jadi peta.


Yogyakarta, 31 Januari 2012

Aji PP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar