Kejadian Bencana di Indonesia
menjadi hal yang luar biasa dan memiliki daya pikat tersendiri. Hal ini diawali
dari kejadian tsunami di Aceh, citra satelit yang menggambarkan kejadian
sebelum dan sesudah kejadian tsunami besar tersebut menyadarkan kita akan arti
pentingnya infomasi geospasial. Apakah asumsi itu benar atau tidak, penulis
belum pernah melakukan kajian tersebut. Penilaian tersebut didasarkan pada
berkembangnya pemanfaatan data penginderaan jauh dan analisa spasial dengan
system informasi geografis. Di sisi lain, hal yang mendasari penilaian dari
penulis yakni tatkala kejadian tsunami aceh di Laboratorium SIG Fakultas
Geografi UGM kala itu mengumpulkan beberapa mahasiswa dan melakukan
inventarisasi peta (dalam bentuk cetak) dan data spasial lainnya yang berkaitan
dengan kejadian aceh, tak lupa pula data citra satelit sebelum dan sesudah kejadian
tsunami. Kebutuhan peta ini semakin mendesak dikarenakan ti surveyor yang
terjun ke lapangan membutuhkan peta sebagai acuan mereka dalam menjelajah untuk
mencari korban bencana alam tsunami di Aceh.
Kondisi medan yang telah berubah
dan penguasaan medan dalam artian daerah jelajah adalah informasi yang
diperlukan oleh surveyor atau tim penolong. Rapid mapping, kurang lebih itu
susunana kata kerennya yakni suatu proses pemetaan secara cepat. Pemetaan dalam
hal ini ialah menyajikan ulang beberapa informasi geospasial dalam format
standart sesuai kebutuhan untuk kegiatan lapangan sehingga dapat dicetak banyak
sesuai kebutuhan tim lapangan.
Selain kegunaan peta untuk acuan
bagi tim yang ke lapangan (baca: lokasi tsunami di Aceh), tim di laboratorium
juga melakukan identifikasi dan kalkulasi dengan data geospasial yang tersedia
untuk mendapatkan gambaran kasar atau estimasi tingkat kerusakan di daerah
tsunami Aceh. Ketika proses berlangsung, penulis tidak bergabung lagi
dikarenakan mengikuti KKN di Purworejo. Akantetapi proses penyediaan informasi
geospasial untuk tsunami Aceh tidak berhenti dan yang menarik ialah sebuah file
powerpoint yang diperoleh penulis dimana isinya merupakan hasil kerja keras
dari Tim Laboratorium SIG Fakultas Geografi untuk Aceh. Peta citra sebelum dan
sesudah kejadian tsunami, dilanjutkan dengan peta tingkat kerusakan dan hasil
perhitungannya.
Kejadian bencana berikutnya yang
menarik penulis untuk terlibat ialah kejadian gempa bumi Bantul, Yogyakarta.
Saat kejadian gempa, pagi itu penulis sedang berada di rumah saudara di kampong
halaman. Lindu terjadi dan bergoyang, langsung penulis mencari dari mana
sumbernya melalui menyalakan radio dan televisi. Begitu mengetahui kejadian
gempa bumi itu di Bantul, langsung penulis menghubungi saudara dan teman-teman
satu kos yang masih berada di Yogyakarta untuk menanyakan kondisi mereka.
Komunikasi saat itu susah tersambung dan Alhamdulillah selang beberapa bisa terjalin. Beberapa hari sebelumnya
penulis sudah memesan travel untuk keberangkatan menuju Yogyakarta (sebagai
catatan: saat itu penulis masih duduk di bangku kuliah S1) dan tetap
melanjutkan untuk menuju Yogyakarta. Selama dalam perjalanan, rasa penasaran
terhadap kejadian gempa di Bantul dan bagaimana kondisi saudara dan kawan-kawan
di sana masih aja bersandar di pikiran. Setiba di Yogyakarta, penulis
menggabungkan diri bersama rekan-rekan yang terlebih dahulu tergabung secara
sukarela dalam penyediaan informasi geospasial untuk bencana alam gempa bumi
Bantul, Klaten dan sekitarnya.
Kebiasaan untuk ikut dan
nongkrong di laboratorium membuat penulis jadi jarang tidur di rumah dan
memilih untuk begadang di laboratorium sekedar menemani rekan-rekan yang
mengemas ulang peta rupabumi untuk dapat diperbanyak dan disesuaikan dengan
kebutuhan serta membuat pula peta tematik yang berisi kebutuhan yang diperlukan
untuk masing-masing wilayah, ada pula peta yang memuat tingkat kerusakan dan
korban jiwa. Semua informasi geospasial yang disajikan oleh posko ini diberikan
secara cuma-cuma, peta dicetak dalam ukuran A3 yang dapat dipergunakan untuk
acuan bagi para penyandang bantuan dan sukarelawan.
Kebutuhan akan peta ini semakin
meninggi karena yang berdatangan untuk memberikan bantuan dating dari luar
kota, luar pulau hingga luar negeri. Informasi nama lokasi dan posisi itulah
yang mereka butuhkan dan baru penulis sadari saat ini (kala penulis belajar
untuk mengenal arti pentingnya nama rupabumi) bahwa akurasi dan konsistensi
dalam penulisan nama geografis/nama rupabumi/nama topografi adalah suatu yang hal
yang penting dan memiliki peraturan presiden nomor 112 tentang tim nasional
pembakuan nama rupabumi.
Kalau dicermati berdasarkan
perjalanan penyajian peta untuk kebutuhan bencana secara mendadak dan
dibutuhkan oleh berbagai pihak yang notabene tidak mengenal wilayah kejadian,
maka informasi ‘nama’ itu sangat dibutuhkan. Hal tersebut dikarenakan tidak
mungkin kita akan memberikan peta buta sebagai acuan karena itu akan tanpa arti
atau tiada guna. Kecuali sedari duduk di sekolahan dasar kita telah lulus kelas
membaca peta buta di seluruh kawasan Indonesia atau hingga tingkat dunia. Nama
rupabumi apabila dalam peta rupabumi Indonesia merupakan salah satu layer yang
disajikan dan dikenal dengan layer toponimi.
Acapkali apabila kita mencermati
peta rupabumi dalam bentuk cetak yang bisa kita dapatkan dari outlet-outlet
peta maka sering banyak komplain mengenai penulisan nama atau pun letak nama
yang tidak sesuai. Misal mestinya nama kampong x berada di sebelah barat sungai
z dan berbagai kasus lainnya. Adanya kesalahan seperti ini tentunya akan sangat
menyesatkan pengguna peta, bahkan jika dikaitkan dengan pendistribusian bantuan
ataupun perhitungan tingkat kerusakan/korban jiwa akan memberikan gambaran yang
salah.
Oleh karena itu, tugas yang cukup
berat bagi Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi untuk dapat melakukan
verifikasi dan validasi nama rupabumi sehingga dapat dijadikan sebagai gasetir
nasional yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan maupun bencana.
Jika rekan-rekan sekalian
terbiasa untuk akses google maps atau bing maps atau menggunakan google earth
atau bahkan mengakses INA-Geoportal atau menggunakan ArcGIS Online atau GIS
online opensource maka tersedia fasilitas ‘search’ atau ‘cari’. Di fasilitas
itulah kita acapkali mengetikkan nama suatu wilayah atau unsur rupabumi, misal
nama kabupaten, nama sungai, nama gunung dan secara otomatis akan diproses
query sehingga bisa disajikan jawaban berupa sajian informasi geospasial
mengarah pada nama yang diinginkan. Tetapi apakah hasilnya sudah sesuai atau
kadang masih meleset karena adanya nama yang sama namun di lokasi yang berbeda.
Misal, ketik cibinong…silahkan
dicoba.
Untuk memperoleh hasil pencarian
berdasarkan nama unsur rupabumi yang benar (dari sisi kaidah penulisan
toponimi) dan tepat (dari sisi posisi koordinat bumi), maka diperlukan proses
penyusunan gasetir secara resmi dan pengesahan terhadap nama-nama rupabumi.
Pembangunan gasetir nasional sangat ditunggu-tunggu karena informasi geospasial
tanpa nama rupabumi sebagai bagian di dalamnya seakan-akan membuat kita
terombang-ambing karena tidak mengetahui darimana kita akan dapat ‘apa’. Ketika
kita sudah mendapatkan koordinat, kita masih membutuhkan nama karena nama
diberikan kepada suatu unsur geografis sebagai upaya manusia dalam identifikasi
dan komunikasi.
Nama rupabumi menjadi kunci
kemana-mana tidak dari sebuah informasi geospasial, dia merupakan kata kunci
untuk bisa terhubung secara spasial dan aspasial untuk berbagai kebutuhan di
muka bumi ini. Nama itu bukan sekedar nama, tapi nama itu memiliki makna atau
sejarah di balik pemberiannya, ada alasan atas suatu nama diberikan.
Jika berkenan untuk mencermati
peta-peta bencana, silahkan akses berbagai situs geospasial yang menyajikan
peta bencana. Lihatlah dan perbandingkan bagaimana peta dan citra yang mereka
sajikan. Adakah kita melihat adanya nama rupanbumi ataukah hanya ikon-ikon
symbol kejadian bencana dalam peta tanpa nama? Mana yang lebih informatif dan
berbagai aspek penilaian lainnya.
Tulisan ini ditulis di gedung
pasca sarjana ugm lantai 2 sembari menanti waktu bimbingan dan mengenang masa
lalu serta berbagai kejadian dimana cerita bencana jadi peta.
Yogyakarta, 31 Januari 2012










0 comments:
Poskan Komentar