Rabu, 18 Januari 2012

Memahami "Urban Watershed"

Memahami "Urban Watershed"

Memahami konsep mengenai kota dan mengenali kota hampir mirip seperti melihat keramaian lalu lalang kendaraan di jalanan kota atau bisa juga berada di dalam jebakan kemacetan lalu lintas atau lebih nyatanya berada pada rumah-rumah yang berdekatan saling menghimpit seakan semakin sempit kehidupan ini. Kompleksitas dan heterogenitas kurang lebih dua kata itu bisa menggambarkan bagaimana kota dapat dikaji dari berbagai aspek atau perspektif.

Berbicara kota, tentusaja salah satu referensi atau bahkan menjadi referensi utama bagi kajian kekotaan ataupun perkotaan ialah buku-buku karya Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, M.A (Denver); DRS (Utrecht). Di dalam bukunya yang berjudul "Manajemen Kota Perspektif Spasial" ada 6 matra dalam mendefinisikan apa itu kota yang dijelaskan sangat komprehensif oleh Beliau. Menurut Beliau di halaman 7, "manakala seseorang memasuki wacana ilmiah, pengertian kota ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya". Hal itu benar-benar dirasakan oleh penulis tatkala mencoba memahami makna "urban watershed" yang masih jarang didengar atau penulis kurang banyak mendengar dan membaca istilah ini di Indonesia.

Salah satu "urban watershed" di Indonesia ialah daerah aliran sungai (DAS) yang melewati wilayah urban atau bahkan mega urban (jika boleh diungkapkan dalam istilah demikian) yakni berada pada kawasan SWS Ci Liwung dan Ci Sadane. DAS-DAS yang melewati DKI Jakarta atau Jabodetabek merupakan "urban watershed" yang memiliki permasalahan kekotaan dan penurunan kualitas DAS atau disebut oleh Yunus (2006) sebagai "urban environmental deterioration".

Untuk memahami wilayah urban di suatu DAS berbagai cara telah dilakukan oleh banyak peneliti diantaranya memetakan urban area dengan bantuan data penginderaan jauh resolusi menengah. Citra landsat masih menjadi pilihan dalam kajian temporal karena keberadaan data dari tahun 70an hingga 2010an. Hal ini dipermudah pula bahwa akses data landsat tersebut bisa diperoleh dengan mengunduh preview hingga data dalam berbagai level untuk seluruh saluran yang dimiliki oleh tiap sensor. Melihat keunggulannya ini pun landsat telah menyajikan data GeoCover epoch 1975, 1990, dan 2000 yang merupakan koleksi data landsat terortorektifikasi (silahkan akes di http://glcf.umiacs.umd.edu). Kemudian dalam upaya lanjutan untuk memproduksi data temporal dengan akurasi yang memadai maka USGS kerjasama dengan NASA menyediakan Global Land Survey (GLS). GLS dibangun dari data eksisting GeoCover dataset untuk 1970's, 1990 dan 2000 dan  menambahkan untuk epoch 2005 dan 2010. Data GLS tersebut meningkatkan kualitasnya dari sebelumnya (GeoCover) dengan menggunakan data SRTM untuk koreksi terrain (silahkan akses di http://eros.usgs.gov).

Data penginderaan jauh tersebut dengan kemampuan temporal, spasial dan spektralnya hingga saat ini masih acapkali dipergunakan dan dieksplorasi guna berbagai kepentingan, salah satunya ialah kajian morfologi kota (seperti yang disarankan oleh Pak Profesor dalam bukunya bahwa untuk mengkaji morfologi kota maka data penginderaan jauh dapat membantu kita memahami pola keruangan suatu kota dan berbagai aspek spasial lainnya dari suatu kota guna perencanaan pembangunan).

Salah satu permasalahan yang pelik dan menimbulkan kerugian yang luar biasa karena kejadiannya yang datang dalam kurun periode waktu tertentu bahkan menjadi bagian dari kehidupan di kota air (baca: water front city) ialah banjir, baik banjir akibat hujan yang begitu deras sehingga melahirkan istilah banjir kiriman dari hulu ataupun banjir di wilayah hilir atau pesisir yakni banjir genangan pesisir atau pula banjir akibat pasang.


Tulisan ini sekedar sepintas lari mengisi hari berbagi imaji...

Gambar berikut sekedar preview sepintas betapa urban-nya watersheds atau DAS-DAS yang melintasi atau mencakup wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Dua gambar berikut merupakan preview dari tampilan Landsat 1990an dan 2000an dalam web-based simple ala arcgisdotcom:


Salam,
/app

2 komentar:

  1. saya sangat setuju dengan tulisan diatas, memang ketika kita sudah mampu benar-benar memahami mengenai konsep tantanan yang jelas, tentu tidak akan timbul kesemrawutan dalam tatanan kota. Salud dengan artikel diatas.

    Salam
    olivia dewi

    BalasHapus
  2. Jadi urban watershed = DAS.. ???
    Tapi belum nangkep juga apa artinya DAS..
    Tau2 hasil image nya.. hehehe..

    BalasHapus