Selasa, 16 Agustus 2011

Saving The Papers (Paperless Archives)

Saving The Papers (Paperless Archives)

Menyimpan kertas-kertas atau arsip tanpa kertas, kurang lebih demikianlah yang hendak diungkapkan oleh fulan. Sebuah teknologi yang kini sedang berkembang, berbagi tanpa menebang pohon hanya memakai enerji, menyimpan tanpa butuh lemari atau rak buku hanya perlu sambungan hidup ke dunia maya. Online (terkoneksi) dan upload (unggah) dilanjut download (unduh) yang Anda inginkan.

"Kertas-kertas itu"

Kertas-kertas itu kusimpan agar menjadi memori yang dapat dikenang dan tak terkekang oleh jaman.
Kertas-kertas itu dibagi untuk dibaca agar dapat berguna dan tak semata-mata tersimpan di harddisk saja atau terhapus oleh virus hingga entah kemana.
Kertas-kertas itu rekaman atas memori perjalanan ruang dan waktu, rekaman kebersamaan bersama rekan-rekan, rekaman perjuangan tapi bukanlah perjuangan '45 yang tlah memerdekaan Indonesia.
Kertas-kertas itu ijinkan kusebut sebagai buah perjuangan, perjuangan memerdekakan diri dalam berekspresi dan menuangkan apa yang terlewati.

Fulan dalam upaya menulis lagi
Cibinong, 16 Agustus 2011 (menjelang perayaan tahunan kemerdekaan RI yang ke 2011-1945=(kalkulator dulu) jadinya sama dengan 66 tahun.

Arsip tanpa kertas (paperless archives) disimpan di dunia maya berkat teknologi di atas awan dan mencari yang gratisan karena keterbatasan anggaran :). Baru bisa membeli pulsa untuk koneksi belum bisa membeli dan menghilangkan tradisi gratisan. Berisi petunjuk atau langkah-langkah singkat yang sempat terekam, presentasi dan paper yang sempat tersiapkan hingga sekedar poster sederhana, abstrak (tidak nyata, belum utuh menjadi rekaman) dan hasil kenangan semasa kuliah. Mungkin masih ada lagi yang belum tersimpan di rak buku 'seribet' (baca= scribd (http://www.scribd.com/)).

Kenangan perjalanan ke Hyderabad, India dalam rangka Map World Forum 2009 di Hyderabad International Convention Centre (HICC)10-13 Februari 2009 yang dibiayai oleh Proyek Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta-Yayasan TAHIJA terkupas dalam 'The Use of GIS (Geodatabase) in Combating DengueFever in Indonesia Phase II Project (Study Site: TheCity of Yogyakarta)'. Tapi sangat disayangkan dikemas di websitenya sono, malah judulnya salah :).

Lokasi HICC:

View Map World Forum 2009 in a larger map

Menginap di AT HOME Apartments, sehingga tiap ke HICC berjalan kaki melalui rute:

View HICC and Novotel in a larger map

Gambar di atas rute pejalan kaki dari perhitungan ala GoogleMaps, tapi kenyataannya tidak berjalan sejauh itu atau mesti muter :). Maklum GM menghitung berdasarkan rute pedestrian yang dibolehkan, bukan rute tercepat yang diinginkan penulis :p.

Kembali ke kertas, kertas itu oleh panitia dimasukkan ke dalam Sesi Teknis dengan Tema
Emerging Trends and Technology, February 13, 2009
0930hrs – 1130hrs, Hall - F02
http://www.mapworldforum.org/2009/conference/EmergingTrendsandTechnology.htm

The youngest and little boy, but still handsome enough :p *dengan gaya yang sama :(

Ketika sudah hengkang dari Proyek DBD tersebut, Alhamdulillah sebelumnya sebuah kertas yang didaftarkan saat masih bergabung namun tanggal seminarnya pasca keluar ternyata masih disponsori oleh Proyek Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta-Yayasan TAHIJA. Hingga dapat berangkat tiga orang (Aji, Humam dan Mas Hilmi) menuju ke Jogja...upss nyasar di Bali...Bali...Bali...10th South East Asian Survey Congress 2009 (SEASC 2009) di BICC, Bali Indonesia 4-7 Agustus 2009 kamipun datang. Mengirimkan kertas berjudul "GEOSPATIAL LEARNING IN COMBATING DENGUE FEVER PROJECT STUDY SITE: THE CITY OF YOGYAKARTA".

Searah jarum jam, (1) bertemu di Bandara Adi Sutjipto-Jogja-->Aji PP, Pak Projo, Hilmi, Humam; (2) App Presentasi di BICC, (3) Humam, Hilmi, Aji after presentasi: (4) Trio DMU Jejalan sejenak ke Pantai Kute

Semua kertas yang sudah diunggah telah disimpan di rak buku seribet ajiperdana. Terima kasih tuk semua atas kontribusinya, dalam hal MWF dan SEASC di 2009 terindah thanks to Tahija Foundation and Dengue Team Jogja.

*celoteh fulan di pagi buta sebagai bagian dari upaya 'membangkitkan gairah menulis sahaja'*
salam,
Aji Putra Perdana

Rabu, 10 Agustus 2011

Why You Stop Blogging, is it true that because of Facebooking?

Why You Stop Blogging, is it true that because of Facebooking?

Sekedar iseng dan meratapi bahwa tembok itu lebih sering kutatap dibandingkan blog ini, tembok itu lebih sering kucorat-coret dibandingkan blog ini, tembok itu lebih sedikit kata yang bisa kuungkap dan tak butuh banyak tulisan tuk kubagi dibandingkan blog ini dimana akan sayang sekali jika hanya sedikit kata yang dibagi.

Kita sekarang ini lebih sering hidup di dunia maya ketimbang hidup di dunia nyata. Hal tersebut mendidik kita untuk lebih banyak menulis walaupun sedikit kata ketimbang berbicara banyak kata di dunia nyata. Ada yang bilang talk less do more, kali ini yang terjadi talk less write more than before.

Apakah perubahan yang terjadi saat ini dengan adanya perkembangan teknologi hingga dikenal adanya cloud computing atau mas thole bilang "dunia di atas awan" dimana penggunaan kertas akan berkurang (tetapi tetap hutan ditebang :)), konsumsi energi listrik akan bertambah (sekalipun pakai batere tetap butuh di-charge). Berbagi informasi dan data dalam tempo yang singkat dan menembus benua dan bentangan samudera, hanya butuh satu hubungan yakni koneksi internet.

Trend komunikasi-pun telah berubah bahkan bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari silet dan mampu menembak melebihi kecepatan peluru dari pistol penembak jitu sekalipun. Saksikan saja yang sedang terjadi di salah negara di negeri entah berantah dimana satu hingga beberapa kali serangan BBM (salah satu wujud pesan dalam dunia komunikasi modern) mampu mengguncang dunia politik layaknya BOM ATOM Nagasaki atau Hiroshima.

Saking canggihnya, peta tak lagi berbentuk lembaran kertas semata yang dilipat-lipat sedemikian rupa. Kini, peta ada di tangan Anda cukup pencet dengan jari-jemari lentik atau jempol Anda maka hap...langsung ditangkaplah dimana kita berada, akan kemana kita melaju, jalur mana yang kita lalui dan restoran mana yang dekat dengan kita untuk buka puasa :).

Blogging-pun bisa dari mobil, upss mobile...konektivitas yang kompleks, keterkaitan yang maya tapi nyata itulah hasil perkembangan teknologi yang tiada berhenti kecuali kala kiamat terjadi. Kecanggihan teknologi modern butuh kebijaksanaan dalam pemanfaatannya, butuh pola pikir positif sehingga mau fesbukan, bloggingan, sundul-sundulan informasi dapat menjadi bagian dari kehidupan bahkan penghidupan demi pembaikan dan kebaikan hidup di Bumi ini.

Tak ada alasan untuk berhenti menulis, kecuali waktu sudah habis atau koneksi terputus sehingga tidak bisa terpublish :).

So, finally...let me talk to myself...jangan berhenti blogging dan pesbukan juga gapapa selama blog dan pesbuk belum di-blok atau bahkan di-tutup.

*Tulisan kali ini lebih ke arah 'membangkitkan gairah menulis sahaja'*
Salam,
^app^
Cibinong, 10-08-2011