Rabu, 11 Mei 2011

Perubahan Iklim: Jakarta semakin panas atau padat atau rentan atau demikianlah adanya?

Perubahan Iklim: Jakarta semakin panas atau padat atau rentan atau demikianlah adanya?

Tulisan kali ini merupakan bagian dari episode #dibuangsayang tentang Jakarta, Perubahan Lahan, Peningkatan Wilayah Kekotaan, Fenomena yang terpotret dalam kacamata si fulan sepanjang jalur yang dilaluinya dan informasi dari berbagai referensi tertulis maupun terlihat olehnya.

Episode 1 #dibuangsayang

Episode ini disusun tidak urut seperti kisah sebenarnya yang terjadi dan rangkaian informasi yang digali. Awali dengan tanya, kenapa Jakarta? Karena dia adalah pusat atau titik tengah atau inti dari salah satu dari sekian banyak kota besar pesisir yang berada di Indonesia.

Sebuah tulisan atau presentasi dari Prof Kraas mengungkapkan dalam peta kota-kota besar (megacities) di seluruh dunia pada tahun 2015 kelak Jakarta sebagai salah satu kota besar (megacity) dengan jumlah penduduk yang naik fantastis (Gambar 1). Dari tahun 1970 hingga tahun 2000 beberapa kota di dunia mengalami kenaikan jumlah penduduk hingga tiga kali lipatnya, diantaranya yaitu Mexico City, São Paulo, Seoul, Mumbai, Jakarta, Teheran.

Gambar 1. Kota-kota Besar di Dunia, proyeksi 2015
sumber: Prof. Kraas, 2010

Jakarta, demikian uniknya hingga hampir tiap hari seakan-akan semakin panas padat hingga tak lagi rentan tapi sudah jadi langganan bencana banjir hingga diproyeksikan paling terdampak atas perubahan iklim (terlebih wilayah pesisir Jakarta). Beberapa riset atau penelitian banyak sekali telah dituliskan dan diterbitkan dunia maya dan nyata. Diantaranya tulisan dari Pak Armi Susandi dimana beliau membuat indeks kerentanan perubahan iklim untuk Jakarta dan untuk wilayah Pesisir Jakarta ada kajian dari Pak Aris Marfai mengenai kenaikan muka air laut untuk wilayah pesisir yakni Jakarta Utara (Gambar 2), selain itu penurunan muka tanah atau land subsidence di Jakarta yang dikaji oleh Pak Zainal Abidin. Selain itu, begitu banyak kajian dari dulu kala hingga sekarang mengenai Jakarta dan problematikanya, sosial hingga lingkungan, banjir hingga kemacetan.

Gambar 2. Perubahan Iklim dan rentannya Jakarta sebagai dampak dari perubahan iklim (misal; kenaikan muka air laut)

Jakarta semakin panas atau padat atau rentan?
1. Panas ? postingan sebelumnya mungkin bisa memberikan sedikit gambaran http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/perubahan-iklim-manusia-dan-alam.html

2. Padat? seberapa padatnya sekarang ini, bisa kita lihat di jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta, itu yang tercatat belum ditambah commuter. Jumlah penduduk di Jakarta pada jam kerja berbeda dengan saat malam hari atau diluar jam kerja. Padatnya orang yang datang, menuntut pula tempat hunian dan bekerja hingga perubahan lahan tak bisa dielakkan (postingan sebelumnya http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/landcoverclimatechange-area-terbangun.html dan http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/perubahan-lahan-pesisir-jakarta-1972.html).

3. Rentan? Kalau bicara rentan, banjir sudah langganan dan berbagai upaya sudah, sedang dan mungkin akan dilakukan untuk atasi banjir Jakarta. Silahkan akses jurnal ataupun blog dari penulis-penulis yang disebutkan sebelumnya atau dari peneliti-peneliti lainnya :). EEPSEA juga mengeluarkan peta kerentanan perubahan iklim untuk Indonesia (Gambar 3).

Gambar 3. Peta tingkat kerentanan perubahan iklim di Indonesia dari EEPSEA

Ataukah sudah demikianlah adanya kondisi ibukota Negara kita tercinta Jakarta? Mampukah berbagai upaya yang dilakukan mengurangi resiko bencana yang mungkin terjadi kelak?

Episode 1 #dibuangsayang merupakan beberapa petikan slide presentasi dan segelintir referensi yang dipergunakan saat itu untuk mendiskusikan bahwa perubahan lahan dimana peningkatan area kekotaan atau lahan terbangun ada kontribusinya pula terhadap perubahan iklim dan bagaimana perubahan iklim itu pula berdampak pada kawasan yang berkembang menjadi kota besar studi kasus Jakarta Megacity.

Akan berlanjut pada Episode 2 #dibuangsayang dengan kupasan yang belum ditentukan isinya...

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

(GeospatialIntelijen) Deteksi Osama, benarkah bahwa data dan informasi geospasial digunakan di dalamnya?

(GeospatialIntelijen) Deteksi Osama, benarkah bahwa data dan informasi geospasial digunakan di dalamnya?

Penggunaan data dan informasi geospasial sudah berkembang cukup pesat seiring dengan perkembangan teknologi informasi geospasial dan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kebumian yang diintegrasikan dengan berbagai keilmuan lainnya yang mendukung. Salah satu yang sedang menjadi topik pembicaraan di tingkat nasional hingga internasional ialah terorisme. Meskipun kurang begitu jelas, terorisme seperti apakah yang 'sejatinya' terjadi.

Benarkah itu terorisme ideologi ataukah sekedar propaganda dan pengalihan kata teror sesungguhnya. Tulisan kali ini tidak akan mengupas ataupun bersinggungan langsung dengan hal tersebut, ini hanyalah pintasan lalu saat membaca berita yang diulas dalam majalah online berlangganan terkait geospasial. Di dalamnya ada satu tulisan pembuka yang menarik tentang pemanfaatan geospasial, terutama kejadian di India yakni pemanfaatan satelit untuk melacak hilangnya helikopter yang membawa menteri dan di Pakistan yakni lokasi Osama bin Laden di Abbotabad, Pakistan.

Bayangkan saja, India sampai meluncurkan tiga satelitnya untuk melacak keberadaan helikopter tersebut? Lalu bagaimana dengan satelit kita untuk melacak orang hilang? *grombyang
India: The Indian Space Research Organisation (ISRO) deployed three satellites, Kalpana-1, Resourcesat-1 and Resourcesat-2, to search for the missing chopper of Dorjee Khandu, Chief Minister, Arunachal Pradesh, India.
Yang kedua dan terkait dengan geospasial untuk intelijen yakni adanya publikasi yang konon katanya Osama sudah di-tracing menggunakan teknologi geospasial dengan analisa biogeografi oleh seorang geograf. Sebuah aplikasi ilmu kebumian dikombinasi dengan hasil jepretan satelit penginderaan jauh untuk deteksi keberadaan seseorang berdasarkan pergerakan dan keberadaannya semasa aktivitas hidupnya. Thomas, demikian namanya menggunakan teori 'island biogeografi' dengan pendekatan multitingkat dari analisa global, regional hingga tingkat lokal. Berikut petikan beritanya:
US: The end of one of the most dangerous terrorist, Osama bin Laden, justified the theory of UCLA geographer Thomas Gillespie and raised a debate that Osama could have been found faster if the CIA had followed the advice of ecosystem geographers from the University of California, Los Angeles.
Ingin membaca tulisannya silahkan akses finding bin laden. Bagaimana pendapat Anda, apakah benar kajian geospasial dengan teori biogeografi serta analisa SIG bisa membantu kita dalam menemukan apa yang kita cari? Lalu apakah dunia intelijen kita berspasial dalam mencari *sekarangsedangmulai*? Silahkan tuangkan dalam imajinasi Anda dan wujudkan aplikasinya secara ruang dan waktu #oranyambungyow?hehe


Lokasi Abbottabad:



Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Senin, 09 Mei 2011

Perubahan Iklim: Bali terancam tenggelam? - Berita vs Peta

Perubahan Iklim: Bali terancam tenggelam? - Berita vs Peta

Bicara perubahan iklim, pastinya ada satu dampak yang fenomenal dan dikhawatirkan oleh Negara Kepulauan seperti Indonesia yakni kenaikan muka air laut. Asal mula munculnya postingan ini ialah rasa penasaran untuk membandingkan berita yang dimuat dalam salah satu situs berita online dimana pada tahun 2050, Bali terancam tenggelam. Dikatakan di dalamnya bahwa air laut naik 4 meter sehingga tak hanya Nusa Penida, Sanur, Denpasar dan Bali secara keseluruhan pasti tenggelam. Tapi apakah itu sudah dikaji?

Lalu, larilah segera menemui mbah google dan bertemu dengan situs flood fire tree yang memuat informasi simulasi kenaikan muka air laut atau sea level rise. terbanglah menggunakan peta online berlatarbelakang google maps dan tertampal di atasnya simulasi kenaikan muka air laut.

Kenaikan 4 meter (pilihlah pada opsi +7 dan gantilah dengan +4m):



Silahkan diamati, kemudian berikut di bawah ini kenaikan jika 60 meter (pilihlah pada opsi +7 dan gantilah dengan +60m):



Lalu, apakah kelak yang akan terjadi? Semoga tidak tenggelam se-dahsyat yang kita bayangkan...

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Jumat, 06 Mei 2011

(Toponimi) Nama rupabumi, Apakah UU-IG akan membuatmu bangkit atau tenggelam?

(Toponimi) Nama rupabumi, Apakah UU-IG akan membuatmu bangkit atau tenggelam?

Lahirnya Undang-undang Nomer (tulis: Nomor) 4 tentang Informasi Geospasial sebagai sebuah Undang-undang Pertama tentang Kebumian adalah sebuah peluang dan tantangan, layaknya Undang-undang lainnya yang sudah disahkan.

Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1
12. Peta Rupabumi Indonesia adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah darat.
13. Peta Lingkungan Pantai Indonesia adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir.
14. Peta Lingkungan Laut Nasional adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah laut.
Itu semua adalah peta, yang konon katanya ialah informasi geospasial itulah namanya. Dalam kesemua peta yang disebutkan di atas di dalamnya tentusaja memuat teks atau anotasi dalam peta yang dikenal dengan nama rupa bumi. Tidak ada nama rupa bumi maka peta itu buta, seperti saat kita di waktu duduk di bangku Sekolah Dasar dimana guru geografi meminta kita untuk melihat peta buta dan menyebutkan nama wilayah yang yang ditunjuk oleh ibu budi maupun bapak budi (baca: bapak ibu guru).

Tak ada nama bagaimana kita bisa saling kenal? Karena nama adalah identitas diri untuk suatu obyek, nama itu tidak hanya dimiliki oleh manusia. Bahkan pulau-pulau itu pun perlu nama, jika tidak ingin pulau itu direbut oleh negara tetangga. Benda itupun butuh nama jika ingin dikenal dan dipasarkan. Coba bayangkan jika kita hidup tanpa nama, maka akan muncul seperti di sebuah film jackie chan dimana dia sempat hilang
ingatan dan diberi nama sementara ialah 'tiada nama'.

Kembali sampai pada halaman ke-5 dari UU-IG tertulis dan terbaca mengenai Informasi Geospasial Dasar yang meliputi jaring kontrol geodesi dan peta dasar. Yang akan dicermati disini ialah peta dasar dimana di dalamnya memuat nama rupabumi. Dalam pasal 7 disebutkan bahwa ada 3 peta dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b berupa Peta Rupabumi Indonesia; Peta Lingkungan Pantai Indonesia; dan Peta Lingkungan Laut Nasional. Sebagaimana telah dikupas di paragraf atasnya bahwa ketiga peta dasar tersebut akan buta tanpa adanya nama rupabumi.

Hal tersebut semakin diperkuat dalam Pasal 12 huruf d yakni nama rupabumi sebagai bagian dari sebuah peta dasar, selain garis pantai, hipsografi,perairan, batas wilayah, transportasi dan utilitas, bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan. Ini menunjukkan bahwa perlunya dan sangat pentingnya nama rupabumi diperhatikan oleh Badan Informasi Geospasial disingkat BIG (saat ini BAKOSURTANAL).

Nama rupabumi menjadi salah satu bagian yang penting dalam sebuah peta dasar. Contoh sederhana, ketika teman-teman berada dalam suatu daerah dan dalam kondisi tersesat, pasti teman-teman berusaha mencari nama daerah tersebut (bagian dari nama rupabumi). Contoh lain, ketika rekan-rekan mengakses Google Earth tentunya kita akan mengetikkan nama daerah yang kita cari (bagian dari nama rupabumi). Apabila informasi nama rupabumi itu diabaikan maka informasi itu seakan tidaklah bermakna. Karena pemberian sebuah nama untuk suatu wilayah tentunya ada makna di dalamnya, ada sejarah di baliknya, ada perjalanan yang menghidupinya (contoh: http://ajiputrap.blogspot.com/2011/04/toponimi-nama-itu-indonesia.html).


Berlari ke halaman 8 dan menemukan Pasal 15 mengupas Nama rupabumi.Nama rupabumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf d dikumpulkan dengan menggunakan tata cara pengumpulan nama rupabumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Celetuk kang toponim: "mari kita tunggu pelaksanaannya, lalu lihat bagaimana koordinasinya dengan Tim Nasional dan Panitia Pembakuan Nama Rupabumi di Indonesia?, kedua akankah BIG mampu membantu PEMBAKUAN NAMA RUPABUMI di INDONESIA karena sebenarnya Bakosurtanal merupakan bagian penting dari TIM NASIONAl tersebut, sedangkan perhatian terhadap nama rupabumi itu kecil *nyatadanironi*, ketiga konon katanya toponimi adalah bagian dari good governance (tata kepemerintahan yang baik) bagi tertibnya administrasi negara bahkan akan sangat membantu dalam perencanaan pembangunan, tata ruang, kebencanaan dan lain sebagainya ?"

Walhasil, kita menanti kebijakan yang terjadi di kalangan geospasial Indonesia yang masih peduli dengan Toponimi atau Nama Rupabumi di Indonesia.

We'll see...Kita lihat saja perkembangannya...

*sekedar berbagi; dipersembahkan untuk mengenang Prof. Jacub Rais (menjelang 40hari wafatnya beliau) dan lahirnya Undang-undang No. 4 tentang Informasi Geospasial (dimana di dalamnya memuat nama rupabumi sebagai bagian dari peta dasar yang menjadi informasi geospasial dasar).

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

(GeospatialInfo) UU Informasi Geospasial (UU-IG) itu Nomer (tulis: Nomor) 4

(GeospatialInfo) UU IG itu Nomer (tulis: Nomor) 4

Dalam kupasan sebelumnya http://ajiputrap.blogspot.com/2011/04/geospatialinfo-ruu-informasi-geospasial.html, RUU yang disahkan itu belum memiliki Nomer (tulis: Nomor) . Kini Undang-undang tentang Informasi Geospasial itu sudah memiliki Nomer (tulis: Nomor) yakni 4.

Apa itu informasi geospasial, bisa melihat arti IG salah satunya dalam buku karya Prof. Jacub Rais http://ajiputrap.blogspot.com/2011/04/perjalanan-teknologi-survey-pemetaan-ke.html. Atau dalam website Bakosurtanal dituliskan Informasi Geospasial, yang lazim dikenal dengan peta, adalah informasi obyek permukaan bumi yang mencakup aspek waktu dan keruangan (http://bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/undang-undang-informasi-geospasial/).

Informasi telah memasuki era keterbukaan, termasuk di dalamnya informasi geospasial hingga peran serta berbagai pihak memegang peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan informasi geospasial di Indonesia tercinta ini. Berikut penulis kutip dari berita di website Bakosurtanal terkait UU IG:
Keberlangsungan penyelenggaraan Informasi Geospasial memerlukan dukungan dari berbagai pihak, yaitu Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat yang menjadi penyelenggara Informasi Geospasial. Keberlangsungan penyelenggaraan Informasi Geospasial sangat erat kaitannya dengan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial (IPTEKS).
Apabila mencermati petikan rangkaian kata di atas, yang ditebalkan adalah hal-hal mendasar yang menjamin dapat terselenggaranya informasi geospasial sesuai apa yang diamanatkan dalam Undang-undang No.4 tentang Informasi Geospasial tersebut dapat terlaksana. Tentusaja, saat gemuruh datangnya RUU IG diikuti telah disahkannya menjadi UU IG banyak pertanyaan yang muncul dari berbagai kalangan, baik yang terbiasa berkomunikasi dengan informasi dan data geospasial hingga masyarakat awam yang baru mendengar informasi geospasial.

Hal yang menarik untuk dibagi di sini ialah tulisan dari:
Professor for Spatial Information System
National Coordination Agency for Surveys & Mapping
Jl. Raya Jakarta-Bogor Km. 46 Cibinong - INDONESIA

atas nama Tim Inti Penyusun UU-IG

dalam milist RSGISForum yang membagikan informasi mengenai UU No. 4 tentang Informasi Geospasial dalam attachment serta memberikan kesempatan kepada anggota milist dan para pemerhati geospasial Indonesia untuk mengajukan pertanyaan yang akan dikumpulkan dalam Frequently Asked Question (FAQ) dan sekaligus upaya untuk menjaring aspirasi masyarakat untuk beberapa turunan UU IG ini.

Kurang lebihnya itulah informasi yang diungkapkan dalam milist tersebut terkait UU IG.


_Sekedar berbagi di pagi hari_

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Kamis, 05 Mei 2011

Perubahan Iklim; Manusia dan Alam

Perubahan Iklim; Manusia dan Alam
Gambar 1. Suhu dari citra Landsat7 ETM+ Tahun 2001 cakupan DAS Ci Liwung sebagai salah satu sungai besar yang mengalir melalui Jakarta dan bermuara di teluk Jakarta.
Sumber : pengolahan ekstraksi suhu dari citra landsat, 2011 dan ditampalkan dengan kumpulan citra di google earth yang konon tahun 2010

Gambar 2. Data historis perubahan suhu di area Jakarta
Sumber: Armi Susandi dalam presentasinya Flood in Jakarta as impact of Climate Change


Apabila melihat kedua gambar di atas, apa yang dapat saudara bayangkan? apa yang sekiranya saudara khayalkan ataupun analisa? Apalagi jika ditambahkan dengan data historis kejadian banjir di Jakarta?

Bicara banjir, mengingatkan penulis tatkala melakukan wawancara di Muara Angke bersama rekan-rekan dari UNJ untuk sebuah riset terkait bencana (alam dan sosial) di Jakarta sebagai megacity. Orang awan-pun kini bisa bicara bahwa banjir yang datang seenaknya dan semakin seenaknya di Jakarta juga disebabkan oleh perubahan iklim; seperti sudah musimnya kemarau tapi hujan tetapn saja bertamu, kemudian kadang kalau pas panas ya terasa puanas banget. Walaupun di sisi lain, ada satu kata yang sangat menarik dan selalu diulang-ulang oleh si tokoh masyarakat tersebut yakni "MANUSIA". Kata beliau, manusia juga memiliki andil yang cukup besar dalam bencana BANJIR yang terjadi di Jakarta, jangan salahkan iklim, alam terus-menerus. Coba lihatlah lingkungan sekitar Anda, selokan mampet, sungai tidak hanya dihuni oleh air tapi dipenuhi sampah, kepedulian terhadap lingkungan sekitar sudah berkurang.

Yang menarik pula, hasil analisa seorang tokoh masyarakat yang tinggal di pesisir Jakarta; beliau mengatakan bahwa Jakarta semakin hari semakin sumpek karena permukiman terus bertambah, bangunan kian menjulang tinggi, jika di wilayah ini, tanah turun hampir tiap tahun, jalan depan rumah kami tinggikan, diiringi pula dengan bagian dalam rumah yang kami tinggikan, seakan berlomba untuk mencegah air banjir masuk dan keluar. Dikaitkan dengan gambar 1 di atas, bahwa perkembangan kekotaan di area Jabodetabek sangatlah luar biasa pesatnya. Jika dikaitkan pula dengan berkurangnya area hijau, maka kesejukan di Jakarta jelas berkurang terlebih jumlah kendaraan yang luar biasa ditambah dengan kemacetan yang hebat. Tentusaja, hal ini sudah menjadi biasa bagi beberapa orang yang mau tidak mau berpenghidupan di Jakarta dan sekitarnya.

Berdasarkan gambar 2, bisa dilihat ada trend naiknya suhu udara seiring dengan bertambahnya jumlah area terbangun; baik itu gedung, perumahan, jalan dan lain sebagainya sebagai bagian dari kebutuhan manusia untuk memenuhin terselenggaranya kehidupan mereka. Jakarta semakin panas, penggunaan AC meningkat; sudah tau Jakarta macet, kendaraan umum belum bisa mengatasinya; berlibur di hari minggu/besar lainnya maka area Puncak berubah dari hijau menjadi area terbangun sekedar untuk menampung manusia penuhi kepenatan di area kota.

Ini hanyalah kupasan gambar ala kadarnya untuk membangkitkan imajinasi perubahan iklim terjadi akibat perubahan alamiah (natural factor) dan buatan (aktivitas manusia).

Gambaran di atas adalah potret kecil saja dari banyak perubahan yang telah terjadi...


Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

LandCoverClimateChange-Area terbangun, peningkatan suhu?

Area terbangun, peningkatan suhu?

Postingan kali ini sekedar menulis sepintas lalu seperti biasanya dan kebiasaan yang sudah ada sebelum-sebelumnya. Jika postingan sebelum-sebelumnya mengupas mengenai "perubahan iklim terkait data dan upaya", dilanjut dengan selingan "dolanan google ala bubble poto", kemudian sekedar tangkapan (baca: capture) "perubahan lahan pesisir di Jakarta dari Tahun 1972 dibandingkan dengan tahun 2010", maka postingan kali ini melanjutkan kisah berdasarkan potret dari angkasa yakni meningkatnya jumlah dan luasan area terbangun, apakah berhubungan dengan peningkatan suhu?

Menggunakan data citra satelit Landsat7 ETM+ dengan saluran 61 yang dipanaskan dalam formula transformasi radian menuju suhu kelvin lalu dikonversi ke dalam celsius (Gambar 1). Dihasilkanlah potret suhu permukaan lahan di daerah Jakarta dan sekitarnya (Gambar 2) yang menunjukkan hawa panas di daerah perkotaan atau areal terbangun dan hawa yang sejuk nan menghijau di area yang memiliki hijau-hijauan, baik areal terbuka hijau maupun yang mempunyai indeks vegetasi sedang hingga tinggi.

Gambar 1. Formula konversi radian ke temperature (Kelvin), dari berbagai sumber

Gambar 2. Urban Land Cover versus Urban Heat Island--> perubahan area terbangun dengan naiknya suhu permukaan-->kenaikan suhu udara --> perubahan iklim?
Sumber: pengolahan data Landsat dan tangkapan gambar dari Google Earth, 2011

Hasil tersebut kemudian dioverlaykan ke dalam Google Earth untuk mendapatkan perbandingan suhu dari citra landsat dengan kondisi area terbangun yang terekam pada kumpulan citra di Google Earth yang konon katanya merupakan data citra tahun 2010an. Sekedar komparasi sederhana untuk melihat, adanya sumbangsih suhu udara dari urban area atau banyak peneliti menyebutnya sebagai fenomena urban heat island (UHI).

Adanya perubahan temperatur ini merupakan salah satu indikasi perubahan iklim dan hal ini terkait pula dengan perubahan penggunaan lahan/penutup lahan. UHI di kota-kota besar (Bandung, Semarang, Surabaya) di Indonesia telah dikaji oleh peneliti dari LAPAN menggunakan citra Landsat bahwa bertambahnya luas lahan terbangun menjadi penyebab meluasnya UHI dengan bertambahnya luas area yang bersuhu tinggi. Lalu bagaimana dengan Jakarta? *silahkan amati sendiri :)

Wilayah terbangun semakin meluas, tidak hanya di wilayah pesisir, daerah tengah suatu DAS bahkan hingga di hulu atau daerah atas yang konon hijau kini menjadi merah meriah.

Gambaran di atas adalah potret kecil saja dari banyak perubahan yang telah terjadi...


Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Selasa, 03 Mei 2011

Perubahan Lahan Pesisir Jakarta 1972-2010


Gambar 1. perubahan lahan di wilayah pesisir Jakarta, gambar dari citra Landsat MSS Tahun 1972 dan kumpulan images di Google Earth 2010an serta ada foto dari panoramio.

Perubahan Lahan berhubungankah dengan Perubahan Iklim? Bagaimana data dan upaya yang ada atau telah terjadi? Gambar di atas sekedar selingan di antara penatnya dunia...Silahkan dilanjutkan... Apakah kenaikan suhu karena meningkatnya jumlah kendaraan, jumlah area terbangun meningkat sedangkan daerah hijau berkurang?

Gambaran di atas adalah potret kecil saja dari banyak perubahan yang telah terjadi...


Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Dolanan Google Earth Nonton Bubble Poto

Dolanan Google Earth Nonton Bubble Poto

Lama tidak mengakses Google Earth (GE) dikarenakan GE-nya ilang akibat terinfeksi virus dan dihapus oleh si antivirus. Habis instalasi langsung terbang menuju Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan berhentilah di beberapa lokasi untuk sekedar nonton bubble photo alias yang disebut sebagai 360 cities yang merupakan panoramic photography. Jadi selain kita bisa menikmati poto bumi dari angkasa, kita juga bisa menikmati poto puteran bubble di sekitar kita.

Berikut cuplikan saat terbang bersama GE untuk mengunjungi DAS Ciliwung sebagai salah satu DAS terbesar yang mengalir melewati Jakarta menuju ke Teluk Jakarta.

*celetuk toponimi: kalau dari sisi toponimi, penulisan Ciliwung itu mestinya Ci Liwung :)

Gambar 1. Garis Hijau merupakan batas DAS Ci Liwung yang diambil dari delineasi batas DAS berdasarkan data DEM (Digital Elevation Model) dan memperhatikan aliran-aliran sungainya yang mengalir dari hulu ke hilir.


Gambar 2. Bubble poto di bagian dari DAS Ci Liwung tepatnya di Pasar Pramuka, Jakarta

Gambar 3. Apabila di klik pada bubble poto maka akan keluarlah potonya, jangan lupa habis itu di-klik lagi pada poto...

Gambar 4. Silahkan menikmati sambil berputar-putar 360 derajat amati lingkungan sekitar kita (yang ada di bubble poto)

*sekedar iseng sembari mengisi waktu sejenak di sela-sela tumpukan penat*

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*