Jumat, 07 Oktober 2011

(Toponimi) Apalah arti sebuah nama?

(Toponimi) Apalah arti sebuah nama?

Kalimat tanya yang mungkin pernah, acap kali atau sering kita dengar. 'Apalah arti sebuah nama?', adanya akhiran -lah (entah baku atau tidak menurut kamus) dalam rangkaian kalimat tanya tersebut mengisyaratkan penekanan atau menganggapnya sebagai sebuah hal yang enteng alias menyepelekan.

Mengutip dari Bab 2 Toponimi dan Ruang Lingkupnya dari sebuah modul Pengantar Toponimi dituliskan bahwa "Ada pepatah Inggris yang mengatakan "What is in a name?", seolah-olah nama itu tidak penting atau tidak mempunyai arti apa-apa." Akan tetapi kenyataan yang terjadi di permukaan bumi ini, hampir semua memiliki nama bahkan yang belum memiliki nama pun juga dicarikan nama yang tepat untuknya. Cobalah tengok tatkala seorang ibu yang melahirkan anaknya, maka dia bersama suaminya bahkan mungkin dengan keluarga besarnya mencarikan nama yang tepat untuknya. Konon katanya nama memiliki makna dan sejarah di dalam pemberian nama tersebut, ada do'a, harapan, bahkan ada pula nama itu mencerminkan keturunan yang dapat membantu kita untuk melacak sejarah seseorang, ada juga nama itu bisa dikaitkan dengan tempat asal atau di mana dia dilahirkan.

Nama itu melekat erat sebagai identitas tunggal bagi tiap obyek, terkecuali bagi seorang mata-mata atau yang memiliki identitas ganda dimana mereka membutuhkan lebih dari satu nama untuk suatu tujuan tertentu. Nama itu bahkan melekat hingga akhir hayat tak hanya bagi manusia semata, bahkan bagi suatu wilayah (bisa pulau, desa, dusun, atau kawasan?) yang telah musnah baik akibat tenggelam tertelan oleh ganasnya air laut yang terus menjorok ke daratan ataupun kebakaran hutan hingga alih fungsi lahan. Lebih menarik lagi dan sangat fenomenal saat ini ialah jika nama itu hilang akibat bencana alam atau bahkan perubahan iklim, maka tinggallah nama yang akan dikenang sepanjang masa hingga berita lain menguburnya.

Mari bersama-sama kita arahkan perahu ini menuju ke pelabuhan toponimi.

'Apa itu toponimi?', tanya fulan
"Mbah google tau jawabannya...", jawab fulana

Toponimi, banyak orang mengenalnya sebagai bagian dari salah satu unsur dalam peta. Ada yang bilang, akan buta suatu peta bila toponimi tidak ada. Tentu saja jika bicara peta buta pasti akan membawa kita pada masa sekolah dasar tatkala pelajaran Geografi dimana Bu Guru atau Pak Guru menggelar peta dunia, peta Indonesia atau peta wilayah tertentu dan mengajak kita membaca peta buta. Dimana...dimana...dimana....*nada ayu ting2x* 

Toponimi ternyata bukan sekedar rangkaian huruf yang menunjukkan nama obyek di permukaan bumi, toponimi merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang terkait dengan linguistik, antropologi, genealogi (sejarah) dan informasi kebumian/geografis. Cipta, rasa dan karsa yang dimiliki oleh manusia membuat manusia melakukan proses pemberian nama terhadap obyek di permukaan bumi (seperti sungai, gunung, bukit, lembah, tanjung, selat, pulau) sebagai cara bagi mereka untuk mengidentifikasi lingkungan di sekitar kehidupannya di permukaan bumi ini. Teridentifikasinya suatu obyek membantu mereka untuk dijadikan sebagai acuan atau informasi dalam komunikasi satu dengan lainnya.

Secara penggalan kata, Toponim artinya nama tempat di muka bumi ("topos" adalah "tempat" dan "nym" adalah "nama") atau nama kerennya ialah "Geographical Names (Nama Geografis)" atau "Place Names (Nama Tempat)" atau "Topographical Names (Nama Rupabumi)". Sedangkan toponimi itu sendiri memiliki dua pengertian yakni (a) ilmu yang mempunyai obyek studi tentang toponim pada umumnya dan tentang nama geografis khususnya, dan (b) totalitas dari toponim dalam suatu wilayah (Widodo ES, 2006).

Kembali ke mencari 'arti pentingnya sebuah nama geografis?'. Kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia, dari tsunami, gempa bumi, letusan gunungapi, hingga bencana yang ada campur tangan manusia di dalamnya seperti banjir, longsor, kebakaran dan sebagainya akan merujuk ke nama geografis. Tsunami hebat yang melanda Aceh, bisa dicermati bahwa informasi geografis dalam hal ini berisi nama geografis (wilayah) dan lokasi geografis (koordinat) menjadi hal yang penting dan dibutuhkan secara cepat, tepat dan akurat. Gempa bumi di Bantul, pendistribusian pasokan bantuan membutuhkan informasi geografis (nama dan lokasi). Meletusnya gunungapi merapi diikuti dengan dikeluarkannya zonasi berupa buffer ring sekian kilometer dari merapi merupakan kawasan rawan bencana, lagi dan lagi nama geogafis itu dibutuhkan. Oleh karena itu, nama-nama geografis perlu pembakuan sesuai dengan prinsip dan kebijakan pemberian nama geografis (akan dikupas kali lain jika tersedia ruang dan waktu :)).

Apalah arti sebuah nama? Tanpa nama kita tidak akan bisa bercerita, peta tanpa nama itu buta, tapi jangan sampai teknologi membawa kita terlena. Lha koq bisa? karena toponimi bukan sekedar label atau anotasi (dalam bahasa perangkat lunak pemetaan), meletakkan nama geografis dalam sebuah peta mesti memenuhi kaidah kartografi. Sebuah Peta Topografi membutuhkan Toponimi agar tidak buta serta membutuhkan kartografi agar tidak menyesatkan pengguna.

Sekedar celoteh (Toponimi) Apalah arti sebuah nama?


Nama itu Identitas dan itu takkan Lepas...
Perubahan iklim, bencana, tidaklah tenggelamkan nama malah akan membangkitkan nama

Perkenalkan...Nama saya Aji Putra Perdana, lahir di Pemalang, salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Cibinong, 07-10-2011

Salam hormat,
Aji Putra Perdana
app-seribet http://www.scribd.com/aji_perdana_2 #upayabangkitmenulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar