Kamis, 05 Mei 2011

Perubahan Iklim; Manusia dan Alam

Perubahan Iklim; Manusia dan Alam
Gambar 1. Suhu dari citra Landsat7 ETM+ Tahun 2001 cakupan DAS Ci Liwung sebagai salah satu sungai besar yang mengalir melalui Jakarta dan bermuara di teluk Jakarta.
Sumber : pengolahan ekstraksi suhu dari citra landsat, 2011 dan ditampalkan dengan kumpulan citra di google earth yang konon tahun 2010

Gambar 2. Data historis perubahan suhu di area Jakarta
Sumber: Armi Susandi dalam presentasinya Flood in Jakarta as impact of Climate Change


Apabila melihat kedua gambar di atas, apa yang dapat saudara bayangkan? apa yang sekiranya saudara khayalkan ataupun analisa? Apalagi jika ditambahkan dengan data historis kejadian banjir di Jakarta?

Bicara banjir, mengingatkan penulis tatkala melakukan wawancara di Muara Angke bersama rekan-rekan dari UNJ untuk sebuah riset terkait bencana (alam dan sosial) di Jakarta sebagai megacity. Orang awan-pun kini bisa bicara bahwa banjir yang datang seenaknya dan semakin seenaknya di Jakarta juga disebabkan oleh perubahan iklim; seperti sudah musimnya kemarau tapi hujan tetapn saja bertamu, kemudian kadang kalau pas panas ya terasa puanas banget. Walaupun di sisi lain, ada satu kata yang sangat menarik dan selalu diulang-ulang oleh si tokoh masyarakat tersebut yakni "MANUSIA". Kata beliau, manusia juga memiliki andil yang cukup besar dalam bencana BANJIR yang terjadi di Jakarta, jangan salahkan iklim, alam terus-menerus. Coba lihatlah lingkungan sekitar Anda, selokan mampet, sungai tidak hanya dihuni oleh air tapi dipenuhi sampah, kepedulian terhadap lingkungan sekitar sudah berkurang.

Yang menarik pula, hasil analisa seorang tokoh masyarakat yang tinggal di pesisir Jakarta; beliau mengatakan bahwa Jakarta semakin hari semakin sumpek karena permukiman terus bertambah, bangunan kian menjulang tinggi, jika di wilayah ini, tanah turun hampir tiap tahun, jalan depan rumah kami tinggikan, diiringi pula dengan bagian dalam rumah yang kami tinggikan, seakan berlomba untuk mencegah air banjir masuk dan keluar. Dikaitkan dengan gambar 1 di atas, bahwa perkembangan kekotaan di area Jabodetabek sangatlah luar biasa pesatnya. Jika dikaitkan pula dengan berkurangnya area hijau, maka kesejukan di Jakarta jelas berkurang terlebih jumlah kendaraan yang luar biasa ditambah dengan kemacetan yang hebat. Tentusaja, hal ini sudah menjadi biasa bagi beberapa orang yang mau tidak mau berpenghidupan di Jakarta dan sekitarnya.

Berdasarkan gambar 2, bisa dilihat ada trend naiknya suhu udara seiring dengan bertambahnya jumlah area terbangun; baik itu gedung, perumahan, jalan dan lain sebagainya sebagai bagian dari kebutuhan manusia untuk memenuhin terselenggaranya kehidupan mereka. Jakarta semakin panas, penggunaan AC meningkat; sudah tau Jakarta macet, kendaraan umum belum bisa mengatasinya; berlibur di hari minggu/besar lainnya maka area Puncak berubah dari hijau menjadi area terbangun sekedar untuk menampung manusia penuhi kepenatan di area kota.

Ini hanyalah kupasan gambar ala kadarnya untuk membangkitkan imajinasi perubahan iklim terjadi akibat perubahan alamiah (natural factor) dan buatan (aktivitas manusia).

Gambaran di atas adalah potret kecil saja dari banyak perubahan yang telah terjadi...


Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar