Rabu, 11 Mei 2011

Perubahan Iklim: Jakarta semakin panas atau padat atau rentan atau demikianlah adanya?

Perubahan Iklim: Jakarta semakin panas atau padat atau rentan atau demikianlah adanya?

Tulisan kali ini merupakan bagian dari episode #dibuangsayang tentang Jakarta, Perubahan Lahan, Peningkatan Wilayah Kekotaan, Fenomena yang terpotret dalam kacamata si fulan sepanjang jalur yang dilaluinya dan informasi dari berbagai referensi tertulis maupun terlihat olehnya.

Episode 1 #dibuangsayang

Episode ini disusun tidak urut seperti kisah sebenarnya yang terjadi dan rangkaian informasi yang digali. Awali dengan tanya, kenapa Jakarta? Karena dia adalah pusat atau titik tengah atau inti dari salah satu dari sekian banyak kota besar pesisir yang berada di Indonesia.

Sebuah tulisan atau presentasi dari Prof Kraas mengungkapkan dalam peta kota-kota besar (megacities) di seluruh dunia pada tahun 2015 kelak Jakarta sebagai salah satu kota besar (megacity) dengan jumlah penduduk yang naik fantastis (Gambar 1). Dari tahun 1970 hingga tahun 2000 beberapa kota di dunia mengalami kenaikan jumlah penduduk hingga tiga kali lipatnya, diantaranya yaitu Mexico City, São Paulo, Seoul, Mumbai, Jakarta, Teheran.

Gambar 1. Kota-kota Besar di Dunia, proyeksi 2015
sumber: Prof. Kraas, 2010

Jakarta, demikian uniknya hingga hampir tiap hari seakan-akan semakin panas padat hingga tak lagi rentan tapi sudah jadi langganan bencana banjir hingga diproyeksikan paling terdampak atas perubahan iklim (terlebih wilayah pesisir Jakarta). Beberapa riset atau penelitian banyak sekali telah dituliskan dan diterbitkan dunia maya dan nyata. Diantaranya tulisan dari Pak Armi Susandi dimana beliau membuat indeks kerentanan perubahan iklim untuk Jakarta dan untuk wilayah Pesisir Jakarta ada kajian dari Pak Aris Marfai mengenai kenaikan muka air laut untuk wilayah pesisir yakni Jakarta Utara (Gambar 2), selain itu penurunan muka tanah atau land subsidence di Jakarta yang dikaji oleh Pak Zainal Abidin. Selain itu, begitu banyak kajian dari dulu kala hingga sekarang mengenai Jakarta dan problematikanya, sosial hingga lingkungan, banjir hingga kemacetan.

Gambar 2. Perubahan Iklim dan rentannya Jakarta sebagai dampak dari perubahan iklim (misal; kenaikan muka air laut)

Jakarta semakin panas atau padat atau rentan?
1. Panas ? postingan sebelumnya mungkin bisa memberikan sedikit gambaran http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/perubahan-iklim-manusia-dan-alam.html

2. Padat? seberapa padatnya sekarang ini, bisa kita lihat di jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta, itu yang tercatat belum ditambah commuter. Jumlah penduduk di Jakarta pada jam kerja berbeda dengan saat malam hari atau diluar jam kerja. Padatnya orang yang datang, menuntut pula tempat hunian dan bekerja hingga perubahan lahan tak bisa dielakkan (postingan sebelumnya http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/landcoverclimatechange-area-terbangun.html dan http://ajiputrap.blogspot.com/2011/05/perubahan-lahan-pesisir-jakarta-1972.html).

3. Rentan? Kalau bicara rentan, banjir sudah langganan dan berbagai upaya sudah, sedang dan mungkin akan dilakukan untuk atasi banjir Jakarta. Silahkan akses jurnal ataupun blog dari penulis-penulis yang disebutkan sebelumnya atau dari peneliti-peneliti lainnya :). EEPSEA juga mengeluarkan peta kerentanan perubahan iklim untuk Indonesia (Gambar 3).

Gambar 3. Peta tingkat kerentanan perubahan iklim di Indonesia dari EEPSEA

Ataukah sudah demikianlah adanya kondisi ibukota Negara kita tercinta Jakarta? Mampukah berbagai upaya yang dilakukan mengurangi resiko bencana yang mungkin terjadi kelak?

Episode 1 #dibuangsayang merupakan beberapa petikan slide presentasi dan segelintir referensi yang dipergunakan saat itu untuk mendiskusikan bahwa perubahan lahan dimana peningkatan area kekotaan atau lahan terbangun ada kontribusinya pula terhadap perubahan iklim dan bagaimana perubahan iklim itu pula berdampak pada kawasan yang berkembang menjadi kota besar studi kasus Jakarta Megacity.

Akan berlanjut pada Episode 2 #dibuangsayang dengan kupasan yang belum ditentukan isinya...

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar