Sabtu, 30 April 2011

Perubahan Iklim (Data dan Upaya?)

Ketika berbicara mengenai Perubahan Iklim atau Climate Change maka langsung lari ke pemanasan global dan efek rumah kaca hingga ke perdagangan karbon, bisa dilihat sekarang ini ada lomba matematika menghitung karbon bukan (atau belum) korban. Tapi hal itu tidak akan diulas dalam tulisan kali ini, karena penulis bukanlah ahli klimatologi ataupun pengamat cuaca bahkan bukan pula seorang penghitung karbon. Tulisan ini sekedar sepintas lalu sambil meraba apakah benar terjadi perubahan iklim ataukah fenomena yang disebut dengan perubahan iklim itu sudah biasa dialami oleh Bumi kita tercinta ini?

Berbagai data disajikan oleh para presenter makalah yang berbicara mengenai perubahan iklim, penyebab dan dampak perubahan iklim; seperti aktivitas penghilangan warna hijau di permukaan bumi dan digantinya dengan warna merah atau yang terkenal dengan nama pembakaran atau kebakaran?; terkait dampak perubahan iklim sehingga suhu di bumi makin panas secara global contohnya ialah isu kenaikan permukaan laut.

Banyak sekali kajian, penelitian, tulisan, presentasi, makalah, kertas dan lain sebagainya bahkan berbagai workshop, seminar, kuliah umum, kuliah biasa hingga kuliah luar biasa yang menghadirkan para ahli di bidangnya masing-masing dan mengkupas perubahan klimat, pemanasan global, sea level rise, dan kawan-kawannya telah diselenggarakan dalam temponya masing-masing sesuai tujuannya sendiri-sendiri dengan misi global yakni menyelamatkan umat di Bumi tercinta ini.

Akantetapi, bagi kalangan pesimis akan melihat dan selalu bertanya-tanya, adakah tindakan nyata yang sudah diwujudkan sebagai implementasi dari berbagai rekomendasi hasil diskusi atau kajian yang telah dilakukan? Ataukah semua itu sekedar seremonial belaka, sudahkah komunikasi benar-benar terjalin di antara peneliti, akademisi, lembaga-lembaga atau badan-badan pemerintah, LSM, atau bahasa sononya para pemegang stik, stakeholders? Lalu bagaimana dengan masyarakat? Adakah sosialisasi perubahan iklim kepada masyarakat, sehingga mereka menjadi lebih peduli dengan hidupnya dan lingkungan tempat hidupnya?

Semua pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang acapkali muncul dalam benak para pembaca sekalian. Jawaban yang seringkali terlontar salah satunya ialah marilah kita memulai dari diri kita sendiri, adapula yang bilang bahwa perubahan itu wajar terjadi karena alam sudah murka dengan keserakahan kita dalam mengeruk sumberdaya alam seenaknya.

Terkuaknya fenomena perubahan iklim ini berasal dari pengumpulan informasi dan data temporal spasial secara global dan kondisi empiris yang terjadi di lapangan (bumi tercinta ini). Informasi atau data temporal spasial yang acapkali disajikan sebagai penunjang atau pembuktian bahwa iklim itu berubah ialah perubahan temperatur global disajikan dalam bentuk grafik ataupun secara keruangan dalam bentuk peta. Penyebab alamiah dalam perubahan iklim ini memberikan sumbangsih yang kecil jika dibandingkan dengan meningkatnya konsentrasi jebakan efek rumah kaca (greenhouse gasses) di atmosfer sebagai dampak aktivitas manusia. Bagaimana bisa aktivitas manusia mengakibatkan perubahan iklim? tanya fulan.

Banyak kertas menulis, berargumen, bersilang pendapat terkait seberapa besar manusia dan aktivitasnya berpengaruh pada perubahan iklim secara lokal, regional hingga global. Salah satunya ialah perubahan penggunaan lahan dan/atau perubahan penutup lahan atau yang selaras dengannya UHI kepanjangan dari urban heat island. Maksudnya bagaimana? Hilangnya hijau-hijau di daerah atas hingga bawah yang diganti dengan warna merah ataupun rona meriah built-up or urban area sebagai dampak dari meningkatnya jumlah manusia yang menghuni suatu wilayah dan melakukan pelebaran tempat tinggal ataupun aktivitasnya dapat meningkatkan panasnya pulau kota.

Sesungguhnya siapa yang paling rugi jika memang perubahan iklim itu terjadi dan berlari semakin kencang melebihi laju adaptasi?

Sudah jelas yang tinggal di Bumi-lah yang rugi. Salah satu terkena dampaknya (dicuplik dari hasil rekomendasi workshop) ialah wilayah pesisir atau lingkungan pantai jika terjadi akselerasi kenaikan permukaan laut bila pemanasan global berlanjut melebihi ambang batas suhu dimana lapisan es di Antartika dan Greenland terus menipis. Oleh karena itu, Indonesia sebagai Negara yang memiliki pulau-pulau kecil, garis pantai panjang, penduduk di wilayah pesisir yang buanyak, bahkan kota-kota besar hingga ibukota Negara yang terletak di pesisir perlu benar-benar melakukan tindakan nyata bukan diskusi semata terkait antisipasi dampak perubahan iklim yang ekstrim.

Negara ini sudah kelebihan dan kekurangan data hingga tersebar bagai pulau-pulau yang dimilikinya; bahkan ada yang mudah diakses alias bebas diambil tapi banyak lobang di dalamnya, giliran yang datanya katanya bagus tapi belum diverifikasi sehingga belum bisa disharing, menurut fulana tatkala menyimak workshop dan melihat data yang ada di hadapannya saat ini. Keluh fulana: "+ berkutat dengan angka dan menemui ribuan angka 9999.9 pertanda datanya kosong alias blank, belum ditambah anomali data yang di atas tinggi rata-rata, diikuti pula data bulanan dalam setahun yang sama #grombyang"

Berkaitan dengan informasi atau data serta kejadian spasial dan temporal perubahan iklim, ada point yang menarik lagi untuk dituliskan terkait rekomendasi hasil workshop yakni point kedua dan ketiga. Point kedua berbicara tentang optimalisasi dan sinergisme pemantauan variasi temporal dan spasial kenaikan permukaan laut dan perubahan iklim yang diselenggarakan oleh berbagai instansi terkait. Harapannya koordinasi di antara yang merasa bisa menyumbangkan hasil pantauannya dapat membantu Negara Indonesia khususnya dalam adapatasi dan mitigasi perubahan yang terjadi. Point ketiga ialah adanya kata "sangat diperlukan" ketersediaan data dan informasi keruangan (geospasial) yang lengkap, akurat dan terkini sehingga perubahan iklim yang secara spasial bervarias dapat terpantau optimal. Tatkala ada kata "sangat" maka dibutuhkan kesungguhan untuk mewujudkan hal tersebut, tentusaja dengan telah disahkannya Undang-Undang Informasi Geospasial yakni UU IG No. 4 Tahun 2011 menjadi pijakan awal yang strategis untuk menyatukan pulau-pulau data dan informasi geospasial lebih baik dalm arti sesungguhnya.

Jangan sampai nama-nama rupabumi yang banyak dan belum disahkan, nama itu akan hilang akibat tenggelam oleh kenaikan permukaan laut.

Perubahan iklim yang terjadi dan bagaimana kontribusi secara riil dari perubahan penggunaan lahan dan/atau perubahan lahan sebagai bagian dari aktivitas manusia dalam upayanya memenuhi kebutuhan hidup dan berpenghidupan di muka bumi ini terhadap fenomena alam yang terjadi saat ini hingga esok nanti, kita tidaklah mengetahui sejatinya. Tapi janganlah pernah berhenti untuk "berubah ke yang lebih baik"...walaupun ada yang pesimis apakah satu langkah kita akan berpengaruh secara global pada dunia? Tapi ada pula yang optimis, bahwa satu langkah kita dihentakkan di atas muka bumi ini akan berpengaruh besar terhadap perubahan ke arah yang lebih baik bagi umat di bumi untuk selamat.

Tulisan tak beraturan ini sekedar perubahan rangkaian kata yang terlintas begitu cepat dan kadang melambat seiring waktu yang sudah tidak lagi malam. Kita hidup untuk beribadah karena kita tidaklah mengetahui apa-apa yang sejatinya terjadi di langit dan di bumi. Sekedar membantu dalam merenung sembari menganalisa perubahan yang terjadi berdasarkan data seadanya yang diperoleh fulana.

Membuka Al Qur'an dilanjut dengan menuliskan artinya sebagai perenungan untuk para khalifah-khalifah di muka bumi, Firman Allah SWT dalam Al Qur'an Juz 22 Surat Faathir Ayat 38 dan Ayat 41, yang artinya:

"Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati"

" Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dialah Maha Penyantun lagi Maha pengampun"

Salam,

Aji Putra Perdana
*berbahasa dalam kata yang berlari seenaknya sendiri, tanpa ada maksud tersembunyi hanyalah sekedar berbagi*








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar