Selasa, 21 September 2010

Aku Cinta IbuKota, Aku Datangi IbuKota, Aku Ambleskan IbuKota ?

Aku Cinta IbuKota, Aku Datangi IbuKota, Aku Ambleskan IbuKota ?

Sepucuk surat ditujukan kepada Aku Sang Pencinta, Aku Si Pendatang, Aku lah Fulan dan Fulana. Ketika demikian hebohnya isu terkait pemindahan IbuKota, kepadatan IbuKota, operasi yustisi di IbuKota, para pendatang pasca-lebaran ke IbuKota, hingga kini mencuat Amblesnya IbuKota.

Isu pemindahan IbuKota, dinilai Jakarta terlalu sumpek yang berawal dari macetnya IbuKota, hingga problematika cost of poverty, dimana orang miskin membayar lebih mahal. Kurang lebih demikian salah isi yang diungkapkan Ahli di situs berita online. Kemudian segeralah para Ahli, komentator, peneliti, politikus, hingga masyarakat awam pun seperti fulan dan fulana ikut-ikutan berdiskusi layaknya para petinggi yang duduk di kursi.

Fulan :"Adakah IbuKota dimana dia tidak menjadi pusat keramaian dan daya tarik bagi warganya? Jangan salahkan saya yang datang ke IbuKota dan mengadu-nasib, membanting-tulang, memeras-keringat. Kalau boleh dibilang, saya juga memakmurkan IbuKota. Saya cinta IbuKota. Coba salahkan yang lain saja..."

Fulana :"Siapa yang mau kita salahkan? Pemerintah???Pemerintah??? Ataukah para pendiri gedung-gedung pencakar langit, yang telah membuat langit dan tanah murka sehingga hujan terus mengguyur IbuKota dan tanah merasa terbebani hingga tiap centimeter dia mesti ambles? Bukankah lebih baik kita berlomba-lomba dalam kebaikan daripada berlomba-lomba mencari permasalahan dan mencari akar yang tak kunjung ketemu juga. Marilah kita serahkan pada para Ahli, Ilmuwan, Peneliti dalam merumuskan permasalahan yang terjadi. Tapi ingat, kita juga jangan hanya duduk manis semanis gula jawa ditambah madu. Mari rapatkan bariskan dan luruskan untuk segera melangkah membangun IbuKota yang lebih baik. "

Fulan :"Caranya bagaimana? Tak usah lah engkau terlalu teoritis dan berkata manis, apa wujud nyata yang bisa kita wujudkan bersama?"

Fulana :"Iya betul, memang bicara itu juga ada tingkatannya. Ada tingkat pembicaraan di kalangan atas dimana bermuara pada adanya Kebijakan, hingga pembicaraan di level paling bawah atau sering dikatakan bahwa "kita mesti membumi". Walaupun pada kenyataannya kita sudah berada di bumi dan menginjak-injak bumi semau gue. Walhasil diperlukan adanya titik temu atau jalan tengah, bukan di tengah jalan karena jika di tengah jalan maka yang timbul adalah kemacetan dan keruwetan. "

Fulan:"Sudahlah, engkau juga terlalu berkelak-kelok dalam berbicara...kira-kira termasuk tingkat yang mana ya?hehe...cuma bercanda fulana...tak usah kau engkau masukkan ke dalam hati sanubari. Coba engkau cermati pemberitaan sekarang ini terkait IbuKota, maka di situ disebutkan "AMBLAS" yang didengungkan oleh para penulis di media massa baik cetak maupun online. Padahal menurut kamus bahasa, AMBLAS dan AMBLES itu berbeda. Coba liat blog AMBLAS itu beda dari AMBLES apalagi AMBLEG. Apa pendapatmu duhai fulana?"

Fulana :"Wach, sayang sekali aku tak punya kamus. Mungkin itu tak perlu kita perbesar, yang penting ialah pokok permasalahannya. Bahwa IbuKota yang Aku Cintai, Aku Datangi, ternyata Aku Amblesi juga :). Kalau fulan rajin googling, maka bahasan terkait Amblesan Jakarta sudah banyak, contohnya: Karakteristik Subsidence Jakarta antara Tahun 1997-2005 berdasarkan estimasi dengan GPS, Monitoring Land Subsidence menggunakan Levelling, Survey GPS dan teknik InSar oleh Pak Hasanuddin Abidin dan kawan-kawan. Serta penelitian-penelitian lainnya yang terkait amblesan."

Fulan : "Bolehlah aku tanya, subsidence kuwi opo? amblesan yaw? dimana lokasi yang Ambles di IbuKota dan sedang gencar-gencarnya diberitakan AMBLAS?Uppss Ambles?"

Fulana :" OK lah kalo beg begitu, kita browsing di maps.google.com dan search ke Jakarta, lalu search Jl. RE Martadinata. Maka akan bertemulah dengan jalan tersebut. Kalau lokasi-lokasi amblesan lainnya yang terjadi di papernya pak Abidin mungkin ada. Maklum aku juga belum baca...hehe"




View Larger Map


Sekian percakapan antara fulan dan fulana. Tiada maksud apapun dari percakapan yang seenaknya sendiri. Hanyalah sekedar obrolan ringan, seringan kapas yang melayang seiring angin yang berhembus dengan kecepatan tak menentu dan berhenti seketika angin hilang dari angan.
Fulan dan Fulana hanyalah tokoh imajinasi si penulis yang datang ketika dan menghampiri serta berkeinginan untuk hadir di blog post kali ini.
Sekedar mengusir kejenuhan sejenak akan berbagai pemberitaan yang naik turun tak menentu layaknya hujan yang turun sewaktu-waktu.

Teringat postingan seorang kawan membahas MONAS yang tegak, jadi teringat http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/merdeka.html
Gambar. Ilustrasi si fulan yang datang ke Jakarta karena Siapa yang menyuruhnya.
(siapa suruh datan Jakarta, siapa suruh datang Jakarta...nananana..bersenandung lagu)



*Maaf tulisan kali ini tidak memuat unsur yang menarik dibaca terkait pembelajaran geospasial, (*sok sedikit menyerempet) tidak ada maksud dan tujuan apapun, namun yang pasti tulisan kali ini ialah suatu upaya untuk membangkitkan gairah si penulis sendiri untuk bisa menulis ilmiah nantinya.

Terimakasih atas kesediaanya membaca...
Bagi para blog walker, follower, reader, etc...mari berjalan-jalan bersama-sama...for better Indonesia... MERDEKA !!!

Salam,
^app^

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing"
http://ajiputrap.blogspot.com/
http://geospatialvision.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/
http://gisresetutor.blogspot.com/ diganti dengan http://geospatialinfo.blogspot.com/
http://ajiputrap.wordpress.com/

3 komentar:

  1. semakin banyak rakyat NKRI yang cari rizki di DKI JKTA maka beban ibokota kita makin berat bin abot.....bersiaplah untuk berenang....

    BalasHapus
  2. Betul sekali saudara seno...kehidupan di IbuKota sudah banyak para perenang..coba lihat sikut kiri sikut kanan jilat atas dan tendang yang di bawahnya...
    Siapkan pelampung :)

    BalasHapus
  3. Sebelum Mas Aji posting ttg petualangan hari ini, aku duluin ah. Ternyata Mas Aji KPJ yang SMS ke bos to. Aku ditanya mikirnya langsung ke jurusan sebelah. Sepertinya Aji yang kukenal di jurusan sebelah belum S2. Ternyata Mas Aji yang sejurusan denganku n lebih senior. :)

    BalasHapus