Senin, 17 Agustus 2009

Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue

Gambar 1. Rangkaian Foto aktivitas Participatory Mapping conducted by Aji Putra Perdana and Humam Zarodi with several Pemantau Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta dikombinasi dengan foto saat presentasi oleh Aji Putra Perdana di Technical Sessions-7 (TS-7): Geospatial Education, Teaching Society - SEASC2009, pada August 5, 2009 13.00hrs – 15.00hrs WITA di ORCHID ROOM, BICC, The Westin Resort, Nusa Dua, Bali.

Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue

Tulisan ini merupakan sebuah kenangan yang mencoba dituangkan ke dalam rangkaian kata dan gambar di blog Aji Putra Perdana. Sebuah rangkaian perjalanan panjang dari sebuah aktivitas sehari-hari dari sebagian warga Kota Yogyakarta tercinta yang bergabung dalam sebuah Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta.

Sebuah abstrak terangkai menjadi sebuah paper dan dipresentasikan dalam SEASC 2009 (South East Asian Survey Congress 2009), Nusa Dua, Bali. Mengambil judul “ Geospatial Learning in Combating Dengue Fever Project, Study Site : The City of Yogyakarta “ dan berkesempatan dipresentasikan dalam Technical Sessions-7 (TS-7): Geospatial Education, Teaching Society pada August 5, 2009 13.00hrs – 15.00hrs WITA di ORCHID ROOM, BICC, The Westin Resort, Nusa Dua, Bali.
Dengue fever and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is already endemic in 45 Kelurahan in the City of Yogyakarta yet is the most densely populated. A two years combating dengue fever project started in 2007, the strategy is targeted Aedes aegypti breeding source control using the insect growth regulator. This project involved 262 local peoples and 32 surveyors; they are the main actors in geospatial learning. GIS, Satellite Images and GPS are part dengue fever project in the City of Yogyakarta. This paper described Geospatial Learning in Combating Dengue Fever in Indonesia Phase II Project (study site: The City of Yogyakarta). KEY WORDS: Geospatial, Dengue Fever, GIS, Satellite Images, GPS http://ajiputrap.blogspot.com/2009/08/geospatial-learning-in-combating-dengue.html
Terima kasih penulis haturkan sedalam-dalamnya kepada Yayasan, di Jakarta dan Tim Dengue Jogja yang telah mewujudkan dan akhirnya bisa berangkat bertiga. Walaupun pada awalnya, hingga menjelang waktunya, belum ada kepastian sehingga penulis telah mempersiapkan diri untuk berangkat sendiri.

Alhamdulillah, penulis terus BERGERAK dengan dukungan dari my partner Mas HZ, kita berdua melakukan updating information mengenai Geospatial Learning secara langsung dari Pemantau Demam Berdarah Dengue (DBD). Mendatangi mereka dan bertatap muka secara melakukan obrolan ringan dan menggali sedalam-dalamnya mengenai apa yang mereka ketahui dan pahami atas aktivitas mereka terkait dengan penyiapan data spasial yang pernah mereka lakukan.

Ketika menulis kata BERGERAK, penulis teringat sebuah buku yang barusaja dibacanya pada Bab1 Bergeraklah! Allah Menjamin Rezeki Anda. Beberapa rangkaian kata-kata terakhir dalam bab 1 ini yaitu : Hidup adalah bergerak: orang yang selalu bergerak pikirannya akan selalu hidup, orang yang pikirannya hidup akan selalu punya mimpi-mimpi, dan dengan mimpi itulah orang akan menciptakan dan merebut peluang. (Gusmian, Islah. 2009. Doa mengundang Rezeki-sukses dalam hidup, berkah dalam usaha. Bab 1 Halaman 22)

Buku ini pula yang menggerakkan penulis untuk bisa berTerima Kasih melalui Blog ini kepada semua pihak yang telah mewujudkan adanya Sejarah bagi Pengendalian Demam Berdarah Dengue yakni pengakuan di tingkat Internasional bahwa Geospatial Learning was helpful in Combating Dengue Fever. Kata MIMPI dalam buku tersebut, juga sering dilontarkan oleh sang hati penulis ketika penulis seakan hampa dan hidup tanpa MIMPI. Katanya, we must have a dream...at least a song to sing...


Gambar 2. Rangkuman SEASC 2009 pada Technical Session 7 :Geospatial Education, Teaching Society

Let's back maning nang Komputer,,,

Munculnya sebuah tulisan ini berawal dari tantangan untuk bisa berbagi mengenai apa yang dirasakan dan dilakukan oleh teman-teman di lapangan. Sebuah pembelajaran yang tanpa kita sadari (tim dengue jogja) dan tanpa mereka sadari juga (Pemantau DBD dan Surveyor Lapangan) bahwa apa yang telah mereka jalani merupakan sebuah pembelajaran Geospasial. Pembelajaran keruangan yang bereferensi kebumian atau geografis, network analysis, peningkatan mental map, mengaplikasikan local knowledge, analisa spasial/keruangan dalam aktivitas sehari-hari mereka dalam bekerja menanggulangi Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta.

Penulis ingin berbagi beberapa testimoni dari teman-teman Pemantau DBD (4 pemantau) mengenai Geospatial Learning (mengenai PETA, CITRA dan MANFAATnya) yang mereka tuliskan pada selembar kertas yang masih penulis simpan (maaf nama pemantau DBD sengaja penulis singkat, tata tulis dari tulisan aslinya penulis edit, karena ada yang menggunakan singkatan2x);

E.K.R.M pemantau asal Pringgokusuman : "Terus terang baru kali ini saya melihat Quickbird dan harus menggambar batas-batas wilayah yang menjadi pantauan kerja kita. Akhirnya kita satu kelurahan berjumlah 9 orang mengerjakan batas-batas wilayah sendiri-sendiri. Dan saya menjadi tahu, yang tadinya tidak tahu. Intinya mempermudah coy..."
Pemahaman EKRM mengenai PETA, "Peta adalah gambar letak suatu tempat yang dibikin untuk mempermudah orang atau sebagai penunjuk."

B.P. pemantau dari Ngampilan :
"PETA adalah gambar tentang lokasi suatu wilayah. PETA bagi kami pemantau :
- sangat berguna untuk membatasi wilayah kerja kami sebagai pemantau
- lebih jelas tentang wilayah yang akan kita pantau, sampai batas-batas RT satu dengan RT yang lain se-wilayah Kelurahan.
CITRA adalah suatu gambaran yang diambil dari udara guna memudahkan pembuatan peta. Dalam pembuatan batasan wilayah Kelurahan menjadi RW lebih kecil ke RT secara kelompok, kami bersama-sama. Hanya ada beberapa wilayah yang sulit karena batasan jelas, yaitu sungai kecil (kalen). Karena batasan itu jelas, hanya saja masyarakatnya yang tidak mau dianggap penduduk Ngampilan, tapi mau dianggap warga Notoyudan, ini yang menyulitkan kami. Kami tau Peta, Quickbird dari Yayasan, sebelumnya belum tau peta yang sangat detail."

N.L. Pemantau dari Wirogunan :
"Persepsi saya tentang PETA; Ya PETA bagi saya sangat penting sekali, karena bisa memudahkan kita untuk mencari batas-batas wilayah yang ada di PETA itu, sehingga PETA itu sangat berguna sekali. Apalagi untuk wilayah-wilayah RT dan RW. Pada waktu kami membuat pemetaan di wilayah, kami kerjakan bersama-sama satu tim jadi kami satu tim tahu perbatasan-perbatasan di wilayah masing-masing. Batasannya dari sungai, sawah, jalan, dan batasan-batasan rumah-rumah dari yang satu ke yang lain, dari RW satu ke RW yang lain, dari kelurahan satu ke kelurahan yang lain, sehingga semua jelas."

D.I. pemantau dari Pakuncen:
"Menurut saya dengan adanya PETA kita jadi tau wilayah dan perbatasan antar RT dan RW di wilayah serta dengan adanya PETA tentu sangat bermanfaat bagi kami para pemantau untuk memasuki area dimana kita menjalankan tugas. Citra Satelit : Gambar yang diambil dari satelit yang telah diberi sensor. PETA : Gambar yang didalamnya terdapat letak, batas-batasan wilayah. Pada waktu pembagian wilayah di daerah Pakuncen, kita diberi sebuah Peta Citra dari Yayasan dan kita membatasi wilayah kita masing-masing sesuai dengan area yang akan kita pantau. Pada waktu pembagian wilayah itu, pemantau semua datang dan bersama-sama menggaris pada peta citra tersebut, sehingga kita semua jadi tau batas-batas RT dan RW di daerah Pakuncen."

Dari ke-empat testimoni pemantau DBD, dapat diketahui bahwa mereka mengetahui PETA dan CITRA yang mereka pergunakan untuk membatasi wilayah kerjanya dan dengan membaca CITRA mereka bisa lebih memahami wilayah kerjanya. Mental Map mereka bertambah, bahkan dalam bekerja mereka secara tidak sadar telah melakukan analisa spasial dengan menentukan wilayah mana yang akan mereka kunjungi dengan memperhitungkan keterdekatan lokasinya dengan rumah mereka dan jarak tempuhnya juga.

Dari hal tersebut di atas, juga menunjukkan bahwa pemetaan partisipatif yakni sebuah pendekatan yang telah menjadi kebutuhan dalam pengelolaan wilayah, khususnya pengelolaan wilayah untuk kesehatan masyarakat dalam hal ini pengendalian Demam Berdarah Dengue berbasis MASYARAKAT yang lebih mengutamakan untuk memberdayakan MASYARAKAT membutuhkan pendampingan mengenai PEMAHAMAN GEOSPASIAL yang akan bermanfaat bagi KEGIATAN RUTIN PEMANTAU DEMAM BERDARAH DENGUE menjadi lebih EFEKTIF dan EFISIEN.

Harapan lebih lanjutnya ialah APABILA PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE ini bisa di-SPASIALkan hingga skala RW/RT akan sangat membantu PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA dan MASYARAKAT KOTA JOGJA untuk bisa melihat lebih dalam dan memFOKUSkan dalam PENGENDALIAN DBD, sehingga angka kasus DBD di Kota YOGYAKARTA bisa ditekan dengan Pengendalian secara EFEKTIF dan EFISIEN pada 3 target sarang nyamuk (Bak Air, Bak Mandi dan Sumur).


Geospatial Learning dari Pemantau Demam Berdarah Dengue dapat menjadi KUNCI kesuksesan PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE di KOTA YOGYAKARTA, apabila semua pihak secara bersama-sama berperan serta AKTIF dengan SATU TUJUAN yang SAMA yakni COMBATING DENGUE FEVER in The City of YOGYAKARTA, for BETTER INDONESIA...

Konklusi atau kesimpulan dalam paper “ Geospatial Learning in Combating Dengue Fever Project, Study Site : The City of Yogyakarta “ sebagai berikut :


The geospatial learning in combating dengue fever still needs improvement. Meanwhile, we can conclude that combating Dengue Fever (DF) and Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) in the City of Yogyakarta with geospatial learning to get geospatial understanding for the team and also community is very important, because the disease spread is unavoidably spatial.
GIS, Satellite Images and GPS are part dengue fever project in the City of Yogyakarta and geospatial learning. These lessons learned will be valuable as the centre moves to next phase project to build Geospatial capacity.
For the future project, we need to explore the potential of participatory mapping as a tool to be used in order to capture the local perspectives on public health in combating dengue fever. The possibility to integrate participatory mapping with consultations or empowerment of the locals of the combating dengue process are also interesting issues for future research.

-end-


"Don’t be silent, do something and smile for Planet of Earth”
by Aji Putra Perdana
"The Transformer of GIS and Remote Sensing“
http://ajiputrap.blogspot.com/

Dancing in A Globalized, Dancing with Love and Peace for Our Planet of Earth”
by My Little Sister


Salam Hangat,

Mencoba berpikir sederhana untuk memecahkan kerumitan dari sebuah problematika.

1 komentar:

  1. Your report is very interesting indeed. I invite You to see a great collection of views of borders (riigipiirid) in my Italian-Estonian site http://www.pillandia.blogspot.com
    Best wishes from Italy!

    BalasHapus