Minggu, 22 Maret 2009

Maret-April 2009, Waspada Demam Berdarah Dengue bagi Warga Kota Yogyakarta

ANTISIPASI KLB PENYAKIT DBD
Maret-April, Dinkes Ingatkan PSN Plus

SABTU PON 21 MARET 2009 (24 MULUD 1942) "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 2 KOLOM KOTA YOGYA

YOGYA (KR) - Untuk mengantisipasi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk lebih meningkatkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) selama bulan Maret-April. Sebab masih ada anggapan penyakit DBD hanya menyerang penderita pada musim hujan.

Imbauan itu disampaikan Kepala Dinkes Kota Yogyakarta dr. Choirul Anwar MKes, Jumat (20/3) terkait antisipasi merebaknya penyakit DBD. "Penyakit DBD bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, selama ada media untuk berkembangbiak nyamuk Aedes Aegipty sebagai pembawa virus," katanya.

Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta tahun 2004 dan 2008 terjadi puncak kasus DBD pada bulan Maret dan April. Sementara untuk tahun 2009 bulan Januari penderita DBD sebanyak 85 kasus sementara Februari turun menjadi 53 kasus tersebar di 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta.

Untuk itu Dinkes Kota Yogyakarta mengingatkan warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan melakukan PSN dengan cara 3 M Plus yaitu Menguras, Menutup, Mengubur plus ikanisasi serta pemasangan sumilarv di bak air, bak mandi dan sumur. Pemasangan sumilarv ini Dinkes bekerja sama dengan Yayasan Tahija.

District Surveilance Officer Bidang P2PL Dinkes Rubangi menambahkan pada musim kemarau media perkembangbiakan nyamuk di luar rumah cukup kecil. Namun di dalam rumah perlu diwaspadai setidaknya di kamar mandi, tempat penampungan air di dalam rumah seperti padasan, ember besar dan tempat wudhu di pondok pesantren dan masjid.

"Yang sering luput dari pantauan warga adalah di tempat air belakang lemari es. Kami sering menjumpai di tempat itu ada jentiknya sehingga harus rajin dibersihkan," kata Rubangi.

Untuk tempat umum non sekolah harus lebih diwaspadai karena sering digunakan tempat perkembangbiakan nyamuk. Oleh karena itu, jumantik dan surveilance selalu rajin mengingatkan pengelola tempat umum seperti musala dan masjid. Sedangkan di sekolah secara bertahap sebanyak 80 persen sudah melakukan program kranisasi.

Untuk program ikanisasi kata Rubangi masih sering menemui kendala di masyarakat. Karena, tidak semua warga tahan terhadap bau amis ikan sehingga masih ada yang enggan memelihara ikan di bak mandi. Padahal dengan adanya ikan di bak mandi bisa bebas dari jentik nyamuk. (Nik)-f

###

Sumber : "KEDAULATAN RAKYAT" HALAMAN 2 KOLOM KOTA YOGYA - SABTU PON 21 MARET 2009 (24 MULUD 1942)


Salam hormat,

Aji Putra Perdana
GIS AND DATA MANAGEMENT
PROYEK PERCONTOHAN PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH
KOTA YOGYAKARTA-YAYASAN TAHIJA


blog : http://ajiputrap.blogspot.com/
http://bumiwisata.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar