Minggu, 28 September 2014

Mimpi Spasial...

Mimpi Spasial...

Zhongli, 28 September 2014

Mimpi...bukanlah kata yang asing dalam kehidupan kita. Mimpi bisa hadir saat kita tertidur baik di siang bolong maupun di malam gelap gulita. Bahkan mimpi ternyata bisa terjadi saat kita dalam keadaan sadar hingga saat kita memiliki sesuatu yang ingin kita raih. Kita ingin meraih mimpi,,,seakan mimpi adalah sesuatu yang ideal yang kita dambakan dimana kadang hal itu dapat terwujud ataupun sirna ditelan kenyataan lain.

Lalu apa hubungannya dengan 'Spasial'? Mimpi Spasial...mari kita cermati dan kembali renungi mimpi-mimpi baik mimpi di alam tidur ataupun mimpi saat kita sadar dan ingin meraihnya. Ya...aspek ruang, lebih tepatnya ruang kebumian apabila mimpi kita masih dalam taraf ruang kebumian akan beda jika mimpi kita untuk berada di bulan atau planet lainnya. Mimpi memiliki aspek ruang yang kadang bisa melompat dari satu tempat ke tempat lain. Terlebih apabila mimpi itu berada di alam bawah sadar.

Kesadaran kita untuk meraih mimpi positif senantiasa membangkitkan semangat di hari-hari yang kita lalui. Ada yang bilang ada mimpi buruk ketika mimpi itu menghantui kita tatkala terbangun dari tidur atau bahkan semakin membuat kita susah tidur. Tetapi mimpi yang indah adalah yang selalu kita idamkan. Mimpi yang bisa di'peta'kan atau disajikan secara spasial tentu akan sangat menarik, bahkan disadari atau tidak beberapa film penuh imajinasi yang kita saksikan adalah hasil dari buah mimpi para sutradara ataupun penulis buku dan kawan-kawannya. Dimana mereka mampu menuangkan mimpi mereka ke dalam wujud yang bisa dinikmati oleh khalayak ramai.

Mimpi berkunjung ke wilayah di luar tempat kita dilahirkan adalah salah satu wujud mimpi spasial. Mimpi spasial kini bisa digapai melalui dunia maya akan tetapi datang langsung ke lokasi yang diimpikan adalah sesuatu yang lebih nyata.

Mari nikmati alam mimpi ini dan gapailah imaji mimpi positif kita untuk kehidupan di dunia yang sementara dan kehidupan akhirat yang lebih kekal. Ada satu mimpi yang masih harus kugapai dalam kehidupan ini yaitu mewujudkan impian untuk ibadah Haji. Di bulan ini, ketika hari semakin dekat dengan Hari Idul Adha semakin menyadarkan kita bahwa tiap langkah yang dijalani tak lagi sekedar mimpi jika kita berani melangkah dan melaluinya serta atas izin Sang Maha Kuasa maka semua mimpi positif dapat hadir nyata di kehidupan kita.

Ini mimpi spasialku...bagaimana mimpi spasialmu?

Salam Spasial Spesial,

Aji Putra Perdana
-Pemimpi Spasial-
/app

Kamis, 18 September 2014

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa

Bandung, 18 September 2014

Hebohnya angka 1 dan 2 kini telah berakhir pasca pilpres 2014 dan mulai berganti dengan angka 3 yang merujuk ke sila k-3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Jika dicermati meskipun sila-nya sila ke-3 tapi tetap menyebut angka 1 (satu) sebagai wujud tunggal --> Bhinneka Tunggal Ika, bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua (kurang lebih demikianlah yang dulu diajarkan saat pelajaran PMP, PPKN, P4 ataupun Kewarganegaraan...entah apa kini nama mata kuliah atau pelajaran tersebut).]

Bahkan jika merunut ke sejarah semangat juang para pemuda yang mengangkat Sumpah Pemuda bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu INDONESIA. Maka, di era kesadaran geospasial (pentingnya peta acuan yang tunggal) dibutuhkan sebuah acuan bersama yang disebut sebagai informasi geospasial dasar sebagai 'Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa' agar mengurangi tumpang tindih informasi ruang kebumian yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di bumi tercinta Indonesia. Kehebohan mengenai Satu Peta ini (baca: One Map Policy) semakin mengemuka tatkala pada debat capres, salah satu capres yang kini telah menjadi Presiden terpilih mengutarakan One Map Policy sebagai solusi atas tumpang tindihnya pemanfaatan lahan atau penggunaan lahan atau pertanahan atau perijinan kawasan atau apapun namanya; dimana satu lahan atau ruang di bumi ini memiliki peruntukan yang berbeda-beda. Hal ini tampak ketika ditumpangsusunkan berbagai peta tematik yang berkaitan dengan peruntukan ruang, misal peta guna lahan, peta kawasan hutan, dan dikaitkan lagi dengan peta tata ruang. Konon katanya semakin menampakkan ketidakberaturan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari aspek teknis bahkan hingga politis.

Keberadaan adanya Satu Peta (dasar) yang menjadi acuan bagi Peta Tematik menjadi kunci dalam mewujudkan One Map Policy, sehingga lambat laun permasalahan satu peta yang diacu dan digunapakai secara bersama oleh berbagai pihak terkait dapat disepakati. Jika bicara kesepakatan, maka ijinkan penulis menyatakan bahwa Peta adalah Kesepakatan, sepakat bagaimana Satu Indonesia bekerjasama membangun terwujudnya Satu Peta serta menggunakannya secara bersama-sama.

Apakah keberadaan Satu Peta ini dapat diwujudkan oleh satu instansi secara sendirian? Tentu saja tidak, Satu Peta dapat diwujudkan jika Satu Indonesia bekerja bersama-sama dan bersinergi serta menghilangkan ego sektoral. Rasa nasionalisme perlu dibangun oleh para pegiat geospasial untuk bersama dengan segenap rakyat Indonesia memerdekakan bangsa ini dari 'Buta Peta'. Melalui peta yang tunggal untuk menggambarkan 'kebhinekaan' Indonesia adalah salah satu upaya meningkatkan wawasan mengenai indahnya nusantara dan memperkokoh ketahanan nasional.

Lihatlah isu mengenai akan berubahnya salah satu lembaga yang akan menjadi kementerian (pertahanan) dan pula munculnya isu poros maritim. Keduanya berbicara informasi geospasial di daratan dan lautan yang jelas-jelas merupakan kekuatan dari Peta untuk dapat menggambarkannya dan memberikan solusi yang akurat, tajam, dan dapat dipertanggungjawabkan jika dan hanya jika adanya kesepakatan Satu Peta. Perlu diingat pula, jika dulu bicara peta terbayang lembaran-lembaran peta yang harus dibawa dan digelar, maka kini di era digital atau teknologi informasi komunikasi yang kian maju hari demi harinya lahirlah peta digital yang bisa digenggam erat di tangan bahkan bisa dilihat melalui kacamata serta membantu kita menghindari kemacetan. Teknologi semakin mendekatkan kita dengan Peta (baca: Informasi Geospasial) yang seyogyanya membuat kita semakin bijak dalam mengambil keputusan untuk pengelolaan ruang kebumian.

Petanya Satu untuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa: bersama wujudkan satu peta untuk menggambarkan nusantara tercinta; bersama gunakan satu peta untuk pembangunan bangsa tercinta; dan jadikan peta nan tunggal sebagai bahasa dalam komunikasi seluruh rakyat dan wakilnya agar membantu pemimpin ataupun pimpinan bangsa Indonesia memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menjaga perdamaian dunia.

Sekian aliran cerita yang mempertanyakan, kapan akan terwujudnya kesatuan Peta ini?

Salam,
Aji PP
/app





Jumat, 22 Agustus 2014

ARGO FLOAT DAN GOOGLE EARTH

ARGO FLOAT DAN GOOGLE EARTH

Cibinong, 22 Agustus 2014

Di pagi nan cerah ini di kala ruangan masih sepi, kembali tergugah untuk menengok memori mengenai Argo Float. Berkunjunglah ke situs http://www.argo.ucsd.edu/index.html. Apa itu Argo Float? Dalam info science di New York Times dituliskan dengan judul "In the Ocean, Clues to Change". Sebuah robot yang mengapung dan merekan informasi suhu dan salinitas hingga kedalaman 2000 meter di lautan/samudera nan luas. Data yang dihasilkan oleh sistem Argo ini near-real time yang dapat diakses beberapa jam setelah proses pengumpulan data oleh Argo Float.

Argo is a global array of more than 3,000 free-drifting profiling floats that measures the temperature and salinity of the upper 2000 m of the ocean.  This allows, for the first time, continuous monitoring of the temperature, salinity, and velocity of the upper ocean, with all data being relayed and made publicly available within hours after collection. (sumber: http://www.argo.ucsd.edu/index.html)
Berikut gambaran posisi per tanggal 21 Agustus 2014 (yang ditayangkan dalam situs Argo saat penulis mengaksesnya hari ini 22/08):
Positions of the floats that have delivered data within the last 30 days (AICupdated daily) :
Jika gambaran di atas diperbesar pada wilayah perairan Indonesia dapat dilihat bahwa dari 3629 floats terdapat beberapa Argo Float yang mengapung dan merekam pula informasi suhu dan salinitas wilayah perairan Indonesia.

Sebaran Argo Float yang melintas pula di perairan Indonesia
Lebih detil mengenai Argo Float silahkan berkunjung ke situsnya. Jika hendak membaca apa yang pernah ditulis di blog ini mengenai Argo Float bisa mengunjungi link ini http://ajiputrap.blogspot.com/search/label/Argo%20Float

Lalu bagaimana melihat data Argo Float divisualisasikan? Salah satunya menggunakan Ocean Data View atau dikenal dengan ODV. Selain dapat untuk membuka data Argo Float, di dalam situsnya disajikan pula berbagai link data global yang dapat diakses atau digunakan untuk melihat atau mengamati kondisi oseanografi lautan di bumi ini.

Berikut sejumlah data yang tersedia dalam ODV:
Oceanographic Datasets in ODV Format
NameDescription
eWOCEElectronic Atlas of WOCE Data
BATS Bottle DataBermuda Atlantic Time-Series Study Bottle Data
CARINA Bottle DataHydrographic, nutrient and internally consistent data of carbon system parameters (CARINA Group, 2009)
Coriolis CORA-3.4Coriolis Ocean Database for ReAnalysis - CORA-3.4 (6.2 Mio temperature and salinity profiles; 1990 - 2012)
GEOSECSGEOSECS Hydrographic and Tracer Data; 1972 - 1978
Global Alkalinity & TCO2Estimated alkalinity and total dissolved inorganic carbon (Goyet et al., 2000)
Global Transmissometer DatabaseTransmissometer and hydrographic data for the global ocean (W. D. Gardner, et al., 2003)
GLODAP Bottle DataHydrographic and carbon data for the global ocean (Key, R.M., et al., 2004)
GLODAP Gridded DataHydrographic and carbon climatology for the global ocean (Key, R.M., et al., 2004)
HOT Bottle DataHawaii Ocean Time-series Bottle Data
LDEO pCO2 DataGlobal pCO2 dataset containing more than 6.7 million stations (1957-2012).
MedatlasIIHydrographic data for the Mediterranean and Black Sea (Medar Group, 2002)
Mixed Layer DepthsMonthly global mixed layer depths on 1°x1° grid (Monterey and Levitus, 1997)
PACIFICAPACIFic ocean Interior CArbon dataset containing >10,000 stations (1985 - 2010)
PHC 3.0Polar science center Hydrographic Climatology (PHC3.0, Steele et al., 2005)
Reid & MantylaGlobal collection of historical hydrographic and nutrient data (Reid & Mantyla)
SOCAT fCO2 DataGlobal fCO2 dataset containing 10.1 million surface water measurements (1968-2011).
Southern Ocean AtlasStandard depth profiles and gridded version of the Hydrographic Atlas of the Southern Ocean (Olbers et al., 1992)
World Ocean Atlas 2001Monthly, seasonal and annual hydrographic data from the U.S. NODC World Ocean Atlas 2001
World Ocean Atlas 2005Monthly, seasonal and annual hydrographic data from the U.S. NODC World Ocean Atlas 2005
World Ocean Atlas 2009Monthly, seasonal and annual hydrographic data from the U.S. NODC World Ocean Atlas 2009
World Ocean Atlas 2013Monthly, seasonal and annual 1x1 degree hydrographic data from the U.S. NODC World Ocean Atlas 2013
WOCE Global Hydrographic ClimatologyGlobal 0.5 x 0.5 degree gridded climatology of Gouretski and Koltermann (2004)

Apa hubungannya Argo Float dengan Google Earth
Itulah yang menjadi alasan kemunculan tulisan ini. Ternyata dalam situsnya terdapat link Argo_GE yang menceritakan bagaimana jejaring pergerakan robot yang merekam informasi kelautan ini ditampilkan atau diakses ataupun dimonitor secara real time melalui Google Earth.

Informasi mengenai Argo Float dapat menjadi layer dalam Google Earth. Layer ini menunjukkan semua posisi float yang aktif maupun yang tidak aktif, hingga cerita dari tiap float tersebut dan dimana float itu diterjunkan. Trayek atau jejak perjalanan si Argo pada suatu area dan waktu tertentu dalam dijejak atau dilihat. Untuk mencobanya silahkan ikuti yang telah dijelaskan secara gamblang dalam situs tersebut. Berikut cuplikannya:
  1. Download and install Google Earth at http://earth.google.com
  2. Launch the application
  3. Click on the following link: http://argo.jcommops.org/argo.kmlThis will add a group of layers named "Argo" in your "Temporary Places" (see left frame). This group of layers includes active and inactive floats, deployment plans, and float stories.
    Move up this group of layers (picking the top level one) to your "Preferred places". Hence each time you launch GE, your Argo layers will be available and up to date.
    You can right click on the root layer and click "Refresh" to update it at any time (but it is not necessary as it should be automatic)
  4. You can filter the Argo layers for your country or your program. To do so right, click on the root layer, select "Properties". You will see the Network Link used to create the layers :http://www.jcommops.org/jcommops-kml/WebObjects/jcommops-kml.woa/wa/createKml?masterProg=ArgoAdd the following at the end of the URL, replacing %COUNTRY% or %PROGRAM% as appropriate:
    &country=%COUNTRY%
    or
    &program=%PROGRAM%
  5. You can do a spatial/temporal query on the GDAC database to display observations or float trajectorieshttp://www.jcommops.org/jcommops-kml/WebObjects/jcommops-kml.woa/wa/getKmlForm
Silahkan mencoba :)

/app




Rabu, 06 Agustus 2014

[Google_Maps_Engine] Membuat Peta dengan Google Maps Engine dan Hubungkan dengan QGIS/ArcGIS

[Google_Maps_Engine] Membuat Peta dengan Google Maps Engine dan Hubungkan dengan QGIS/ArcGIS

Cibinong, 6 Agustus 2014

Membuat Peta semakin mudah di era teknologi informasi mengingat telah tersedianya berbagai sumber data dasar yang dapat menjadi latar ataupun tempat menggambarkan lokasi atau informasi kebumian. Salah satunya yang paling fenomenal dan membuka wacana mengenai keberadaan geospasial kepada publik dengan akses yang mudah dan menarik ialah Google dengan Petanya (baca: Google Maps) dan Google dengan Buminya (baca: Google Earth). Bahkan kini Google Maps semakin interaktif dimana siapapun bisa membuat 'Peta' hingga menghubungkannya dengan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) seperti ArcGIS dan QGIS yaitu keberadaan Google Maps Engine.

Begitu membuka link https://mapsengine.google.com/map/ langsung ditawarkan untuk membuat Peta atau membuka Peta. Sebuah tawaran yang menarik untuk dicoba dan dipergunakan secara optimal dan berdaya guna. Keunggulan produk Google ialah "Satu untuk Semua", satu akun untuk berbagai akses ke aplikasi yang dikembangkan oleh Google.

Gambar 1. Tampilan Awal Google Maps Engine
Jika kita terbiasa menggunakan perangkat lunak SIG seperti QGIS dan ArcGIS, maka silahkan mencoba untuk berbagi pakai data dengan koneksi antara Google Maps Engine dan perangkat lunak SIG tersebut.

Gambar 2. QGIS Plugins: Google Maps Engine Connector
Gambar 3. ArcGIS: Google Maps Engine Connector
Demikian celoteh singkat hari ini,,,

Salam,

/app

Rabu, 07 Mei 2014

[cerita] susahnya menulis

[cerita] susahnya menulis

Apakah menulis itu mudah? Bagi beberapa orang yang suka mengetik atau menuliskan idenya dalam secarik kertas atau sebuah layar untuk sekedar mengalirkan apa yang ada di benaknya tentu hal tersebut adalah mudah adanya.

Apakah menulis itu susah? Bagi beberapa orang yang tidak suka meluapkan apa yang ada di benaknya melalui coretan tulisan tentu hal tersebut adalah susah adanya.

Susahnya menulis. Itulah yang diangkat dalam ngeblog kali ini sebagai upaya pula untuk kembali membangkitkan semangat menulis si penulis itu sendiri yang kadang menurut pengakuannya suka menulis apa yang terlintas meskipun kalau dicermati secara pintas juga tidak jelas apa yang dirangkaikannya dalam lintasan kata entah mungkin bahkan tanpa makna hingga kadang melupakan titik dan koma.

Susahnya menulis. Ini bukan bicara bagaimana setiap manusia yang mempunyai kemampuan baca tulis kesusahan dalam menghadapi dirinya sendiri untuk meluapkan kata. Akan tetapi lebih berbicara bagaimana susahnya membatasi diri untuk bisa mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh. Di era keterbukaan informasi untuk publik ternyata masih ada bagian-bagian yang terkelaskan untuk tidak dikonsumsi untuk publik. Ingat beberapa waktu lalu bahkan hingga kini dimana dunia intelejen masih mengangkat nama Snowden sebagai tokoh yang membuka tulisan yang termasuk dalam kelas tidak untuk konsumsi publik alias biasanya disebut sebagai classified atau bersifat rahasia.

Susahnya menulis. Ini juga berkaitan erat dengan bagaimana seorang penulis meluangkan waktunya untuk sekedar mencoret kertas yang ada di depannya atau mengetikkan kata demi kata di papan ketik dan menatap hasilnya di layar monitor (demikian trennya di dunia digital). Menulis itu pun tidak perlu panjang, kurang lebih seperti itulah tren yang sedang terjadi saat ini. Misalnya melalui twitter atau facebook bahkan tulisan yang dilengkapi dengan foto pribadi (baca: selfie alias narsis sendirian) ataupun golongan (baca: wefie rame-rame). Dampak lainnya dari menulis pendek ialah susahnya kita untuk kembali menulis panjang (belum ada risetnya).

Susahnya menulis. Ini lebih berhubungan dengan konsep pribadi si penulis untuk mengungkapkan betapa susahnya menulis ketika masuk dalam kategori tertentu. Misalnya, jika diminta untuk menulis bagi sebuah pajangan di atas lembaran kertas yang disebut sebagai koran tentu akan berbeda ketika penulis menulis seadanya dalam sebuah blog. Demikian halnya tatkala diminta untuk menulis sebuah tulisan yang berbau ilmiah maka kajian ilmiah dan referensi yang mendukung perlu dikelola dengan apik agar tidak adanya kata-kata yang dikutip secara borongan (baca: plagiat).

Susahnya menulis. Ini bicara pada bagaimana menuliskan nama tempat (baca: toponim) sesuai kaidah penamaan (baca: toponimi) mengingat belum tersosialisasikannya bagaimana kaidah penulisan nama tempat. Meskipun menurut resolusi Pakar Toponimi yang bernaung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa tiap negara diminta untuk membentuk lembaga otoritas penamaan yang bermaksud mengatur pemberian hingga pembakuan nama tempat baik unsur alam hingga buatan manusia (baca: toponim). Di Indonesia memang telah dibentuk Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi berdasarkan peraturan presiden nomor 112 tahun 2006, namun kerja keras untuk mengokohkan pentingnya nama yang baku masih terus dan terus untuk perlu disosialisasikan dan diimplementasikan.

Susahnya menulis. Ini juga berkaitan dengan banyaknya peraturan perundang-undangan yang telah dilahirkan berdasarkan berbagai kajian kebutuhan yang telah melalui harmonisasi dan penyusunan kata-kata yang dituliskan di dalamnya tentunya berdasarkan pada kaidah kata dalam hukum. Lalu ketika telah sebegitu banyaknya kata yang berwujud peraturan perundang-undangan tersebut, permasalahan yang hingga kini masih muncul ialah problematika implementasi dari undang-undang atau peraturan tersebut. Sebegitu besarnya sebuah amanat undang-undang atau peraturan tetap kembali bagaimana menjalankannya karena sejatinya yang dituliskan secara sengaja dan dalam kesadaran para penyusun ditujukan untuk sebuah kebaikan. Kalau dilihat dari prosesnya itulah susahnya menulis dan lebih susahnya lagi bagaimana meneladani tiap kata yang telah ditulis (baca: menjalankan amanat).

Susahnya menulis. Hal ini tidak berlaku ketika begitu banyaknya slogan, spanduk, hingga baliho dari para calon legistatif atau partai yang sempat terpajang atau bahkan masih terpajang di sudut-sudut jalan atau tembok rumah kita. Mudahnya menulis kata promosi diri atau partai (baca: janji politik) yang dicetak dalam font yang menarik dan ukuran yang bisa terbaca. Ataupun sekedar tulisan pada kartu nama atau selebaran yang dibagikan untuk menarik simpati masyarakat sehingga besar harapan akan terpilihnya sebagai wakilnya para rakyat atau memenangkan prosentase dalam menuju kursi pemerintahan. Ketika menulis itu mudah, maka seketika kita duduk di kursi tersebut akankah kita kembali mudah dalam menulis ataukah merasa bahwa menulis itu susah karena tiap kata yang dituliskan mewakili ribuan atau bahkan jutaan rakyat yang telah memilihnya.

Susahnya menulis. Ini bersinggungan dengan bagaimana sebuah peta bukan sekedar gambar semata karena sesungguhnya ada makna bahkan barisan kata yang mengandung geosemantik di dalamnya. Tiap orang begitu melihat peta dan diminta untuk menuliskan dari peta yang dilihatnya tersebut akan melihat ribuan kata yang berbeda. Permasalahannya membuat peta bisa menjadi mudah dan dapat pula susah adanya tergantung peta apa yang dibuat. Lebih susah pula bagaimana meyakinkan pada diri si pembuat bahwa si pengguna peta dapat menangkap informasi yang hendak disampaikan sehingga peta tidaklah sekedar lembar kertas bergambar belaka.

Susahnya menulis. Saking susahnya,,,sudah tidak tahu apalagi nie yang hendak ditulis. Maaf sebelumnya jika tulisan ini lebih ke curhatan bagaimana susahnya menulis dan tidak mengandung konten ilmiah ataupun informasi yang diharapkan pembaca karena benar-benar ini hanya untuk menunjukkan (tidak begitulah) susahnya menulis :).

Salam Menulis,

/app