Senin, 02 Mei 2016

[geospatial] belajar mengenal spatial cognition dan graph database geosptial knowlegde

Figure 1. Spatial Cognition and Graph database Geospatial Knowledge
(sumber gambar dari berbagai sumber dan digabungkan)

Enschede, 2 Mei 2016

Mengawali minggu pertama di Bulan Mei 2016 dimana sekarang ialah saatnya menulis bukan lagi sekedar membaca, demikian pengingat yang diberikan oleh pembimbing. Yaps, maka ijinkanlah kali ini sekedar membagikan sebuah gambar atau info grafis di atas yang mengambil dari berbagai sumber untuk memberikan imajinasi mengenai ide yang sedang digali oleh si penulis.

Tema yang akan dibahas yaitu Spatial Cognition dan Graph database dari Geospatial Knowlegde. Bahasannya masih ringan hanya seputaran gambar di atas. Spatial Cognition berkaitan dengan pengetahuan mengenai knowledge dan beliefs tentang properti obyek spasial dan kejadian atau events di dunia. Kemudian Graph database geospatial knowledge lebih terkait bagaimana hubungan subyek predikat dan obyek dari kejadian hingga obyek spasial tersebut digambarkan serta mempermudah dalam pencarian informasi. Hal ini terkait pula dengan postingan sebelumnya http://ajiputrap.blogspot.nl/2016/03/geospasial-bertanya-sendiri-atau-pada.html. Dalam postingan tersebut telah diulas bagaimana:
google* dan bahkan media sosial sebesar facebook**; keduanya mengembangkan atau mengoptimalkanknowledge graph
Kisahnya ialah bermula semenjak manusia mulai bisa menggunakan berbagai media untuk menggambarkan obyek yang ada di muka bumi ini. Hingga akhirnya kini teknologi infomasi komunikasi berkembang pesat dan memudahkan mereka untuk saling berbagi dan berinteraksi melalui berbagai media sosial.

Peta mental itu kini dapat direkam melalui kegiatan 'check in' dan memberi nama terhadap lokasi bahkan event atau kegiatan yang mereka lakukan. Tren augmented reality juga makin membawa dunia nyata ke dalam dimensi yang menyatu dengan sekitar bahkan di luar angkasa sana. Kemarin sempat sekilas melihat postingan seorang kawan di dunia media sosial mengenai bis sekolah atau semacamnya dimana selama perjalanan si anak atau murid dapat menikmati kehidupan di planet mars.

Graph database geospatial knowledge silahkan cek pembukanya melalui https://en.wikipedia.org/wiki/Graph_database.

Most graph databases are NoSQL in nature and store their data in a key-value store or document-oriented database
Heuheu..distraksi mulai muncul dan sekian dulu...

Salam Cakep,
Aji Putra Perdana

Sabtu, 30 April 2016

[SELAMAT JALAN KAWAN] Nevy Dyah Rustikasari

Sahabatku yg tlah kuanggap sbg adikku…Nevy Dyah Rustikasari Allah SWT memanggilmu lebih dulu…Semoga Allah SWT menempatkan kedudukannya sebagai khusnul khotimah…

Sebuah memori kegiatanmu di saat bersama dalam membantu Bimbingan Teknis Toponimi sekaligus untuk mengenang perjalananmu bersama kami, video sekilas berikut dapat menggambarkan betapa kamu dapat memberikan kebahagiaan dan senyuman serta menjadi bagian dari semangat bagi kami dalam berbagi ilmu dan informasi di bidang toponimi.


Hidup di dunia ini adalah sementara dan engkau telah kembali lebih dahulu ke kehidupan yang lebih abadi di sisi Sang Maha Kuasa...Allah SWT terimalah segala kebaikan sahabat dan adik kami tercinta...Nevy Dyah Rustikasari.

Terima Kasih Nevy atas kegigihanmu selama ini bersama kami di Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim BADAN INFORMASI GEOSPASIAL. Teman-teman pelaksana pekerjaan pun mengakui betapa perjuanganmu dalam berbagi bagi semua. Berikut kubagikan cuplikan obrolanku dengan seorang temanmu yang pernah bekerja bersamamu, sebuah testimoni yang hadir karena segala langkahmu.

Iyah pasti.mb nevy baik bngt ko pak orangnya.smga amal beliau di terima Allah SWT.Jujur mb nevy tuh supervisi yg terbaik yg pernah bimbing saya pak.dah kyk tmn aja

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ 
Selamat jalan kawan…selamat pulang sahabat kami..adik kami…  
----
Enschede, 30 April 2016
Aji Putra Perdana

Minggu, 03 April 2016

[Geospasial] Berjalan

Gambar 1. Cuplikan Word Clouds blog ini dan di sebelah kirinya ialah foto si fulan yang lagi jalan
Enschede, 2 April 2016


Tema postingan kali ini mengangkat judul 'berjalan' dan tentusaja masih dikategorikan ke dalam pokok bahasan geospasial. Lagi-lagi bertanya kenapa? Berjalan secara dimensi keruangan ialah dari satu titik (waypoint) ke titik berikutnya yang tentu saja meninggalkan jejak dalam dimensi garis yang dikenal dengan tracking. Lain halnya jika kita sudah menentukan terlebih dahulu titik tujuan kita dan mengetahui titik-titik yang akan dilalui itulah yang dikenal dengan namanya route (rute). Istilah itu mengingatkan fulan pada saat menggunakan GPS Handheld dan pastinya berbeda dengan jaman saat ini yang menggunakan gadget berupa tablet/smartphone dan sejenisnya. Sistem navigasi dengan begitu mudahnya digunakan dan tersedia dalam berbagai aplikasi terlebih lagi gps tertanam pula di gadget tersebut.

Entah kenapa ketika memilih judul berjalan ini otakpun ikutan berjalan pula dalam menentukan arahan tulisan dan tujuan dari menulis kali ini. Hmmm...walaupun ide dasarnya ialah menampilkan hasil editan gambar fulan tampak belakang digabungkan dengan hasil word clouds yang kali ini udah difilter dan terlebih lebih menggambarkan konten blog ini. Bicara mengenai geospasial (dulu masih kenalnya dengan sebutan Peta) tidaklah lepas dari dimensi ruang dan waktu dan upaya kita menggambarkan atau menginformasikan ataupun mengelola kehidupan dunia secara nyata maupun kini dalam dimensi maya.

Yaps,,,dimensi maya inilah yang ternyata mampu menghubungkan antar belahan dunia bagai menembus batas. Perjalanan yang ditempuh oleh seseorang yang mungkin jika dilalui dengan berjalan kaki akan harus menyeberangi samudera, maka kini di era yang sedemikian pesatnya teknologi informasi komunikasi dapat dijembatani via dunia maya. Berikut beberapa cuplikan visualisasi konektivitas 'berjalan' di dunia:

Gambar 2.  today's global transportation system, for educational purposes only (http://www.globaia.org/temp/gts.jpg). sumber dari http://www.cartotalk.com/index.php?showtopic=7363
Selain Gambar 2 di atas tersedia juga berbagai visualisasi lainnya dari globaia yang dapat diakses di alamat berikut http://globaia.org/portfolio/cartography-of-the-anthropocene/ menggambarkan bagaimana 'berjalan' di era yang dinamis dan saling terhubung secara nyata dan maya :). Bahkan visualisasi persahabatan di facebook juga dibuat oleh Paul (*Paul is an intern on Facebook’s data infrastructure engineering team).
Gambar 3. Visualising Friendship. Sumber dari https://www.facebook.com/note.php?note_id=469716398919
Gambar 4. Submarine Cable Map. Sumber dari http://www.submarinecablemap.com/#/
Gambar 3 menceritakan visualisasi pertemanan di facebook, sedangkan gambar 4 menggambarkan pertemanan ala kabel bawah laut. Kesemuanya jika 'berjalan' dengan baik maka sistem dan roda akan terus berputar.

Kembali ke topik bahasan utama yaitu berjalan. Berjalan dapat dengan menggunakan berbagai 'alat' atau alas atau bahkan tanpa alas kaki...heuheu. Berjalan jauh ya menggunakan alat transportasi, misal sepeda, sepeda yang menggunakan motor, hingga motor yang rodanya lebih dari dua :). Yuks, mencoba kemampuan knowledge graph google via mengetik kata berjalan di mesin pencari google (*diakses oleh fulan via laptopnya pada tanggal 2 April 2016 pukul 11:00 waktu enschede).

Gambar 5. hasil pencarian kata 'berjalan' di mesin pencari
Gambar 5 di atas menunjukkan hasil pencarian dan hasil menakjubkan. Mari cermati dari gambar, maka dapat dilihat adalah berjalan dengan alas baik di atas tanah ataupun rerumputan dengan berbagai kecepatan yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Ternyata pula ada wiktionary semacam kampus ala wiki dan di dalamnya menjelaskan ber+jalan :). Di bawahnya lagi ternyata menduduki peringkat pencarian ialah rahasia berjalan dan wikipedia tidak kalah pula mengupas berjalan ke barat di waktu pagi hari. Kembali lagi kita bertemu dengan dimensi waktu ketika berbicara tentang dimensi ruang (berjalan-perpindahan dari satu tempat(ruang) ke tempat lain(ruang)). Nah ini, dua cuplikan video di youtube mengupas kisah unik dimana ada misteri mayat hidup berjalan dan pohon bisa berjalan, di ruang kebumian yang berbeda yaitu tana toraja dan ekuador.

Saking isengnya si fulan, kemudian dia klik pilihan Maps dan ditemukanlah nama toko yang menggunakan kata 'berjalan' dan 'disimpan' oleh 'google gasetir' :). Lengkap dengan informasi dan nomer telpon si empunya (ada di daerah Cikarang). Silahkan dicoba sendiri yaw. Berhubung malam semakin larut dan tidaklah memungkinkan untuk berjalan tanpa berhenti, kalau ada lampu merah khan mesti berhenti dahulu.

Bunga kuncup kejatuhan durian, rasanya cukup dan sekian.
Maaf jika tidak memenuhi harapan, karena harap-harap cemas itu cukup mendebarkan.
Makan rujak sambal pepaya, Kalau gak enak jangan dibaca ya...

Sekian celoteh fulan, akan dilanjut di sela keisengan lainnya.


Selasa, 29 Maret 2016

[Geospasial] bertanya sendiri atau pada dunia?

[Geospasial] bertanya sendiri atau pada dunia?

Enschede, 28 Maret 2016

Bertanya, itulah fitrah manusia. Manusia itu sebut saja namanya fulan sebagai salah satu dari sekian banyak manusia yang memang memiliki fitrah untuk bertanya. Kisah kali ini akan berada pada seputaran dimensi ruang dan waktu, sehingga masih dikategorikan ke dalam kisah 'Geospasial ala fulan'. Hmm...beberapa pembaca (apabila ada yang membaca postingan ini) akan menganggap agak 'memaksakan' judul. Tapi apa daya beginilah adanya postingan blog kali ini bahkan mungkin sudah beberapa kali sebelumnya juga serupa.

Bertanya sendiri atau pada dunia? Ketika membaca senantiasa ada pertanyaan yang muncul di dalam diri ini, hingga berlanjut bertanya pada dunia. Dimensi 'dunia' di era teknologi informasi komunikasi yang tidak mengenal batas ruang dan waktu ialah memanfaatkan atau melontarkan 'tanya pada dunia' via media tersebut. Misalnya, ketika fulan bertanya sendiri lalu menulisnya di dinding maya sebagai statusnya baik via media sosial atau forum bahkan mengetikkan pertanyaan itu pada si embah google. Segeralah berbagai reaksi bermunculan, dari like, sharing, retweet, love, atau dijawab langsung dengan berbagai link atau informasi dari si embah pencari/pemberi jawaban 'dunia'.

Keberadaan fulan di suatu tempat dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda di tiap detiknya bahkan mungkin dalam skala tahun atau masa. Kembali melahirkan pertanyaan pada diri fulan, bahkan kadang tanya itu diekspresikan ataupun tanpa ekspresi. Mungkin salah satunya ialah postingan ini :). Bertanya sendiri atau pada dunia, ternyata dilalui fulan dengan berkawan dengan sebanyak mungkin orang-orang hebat melalui media sosial maya maupun nyata. Tiap orang itu hebat, tiap orang memiliki keunikan, tiap orang memiliki kisah perjuangan, tiap orang bahkan memiliki tanya jawab masing-masing. Berbagai cara dilakukan oleh tiap individu secara berbeda ataupun mungkin serupa tapi tak sama dalam berbagai upaya mengisi dimensi ruang dan waktu yang dilaluinya.

Bicara dimensi waktu, teringat tanggal 27 Maret 2016 kemarin dimana jam 2 pagi langsung menjadi jam 3 pagi dini hari. Yap,,,daylight saving time 2016 untuk wilayah Belanda atau dikenal juga dengan 'summer time'. Hal ini tidak dialami oleh fulan saat berada di Indonesia (adanya musim panas dan musim hujan). Mari kembali bertanya sendiri atau lempar pada dunia? Dimensi waktu di dunia atau tepatnya di kediaman bumi ini disepakati dalam sehari ialah 24 jam, dalam 1 jam ialah 60 menit, dan seterusnya. Ternyata dimensi waktu ini juga tak terlepas dari dimensi ruang :). Hmmm...kembali teringat space-time cube mapping. Semakin bertanya sendiri atau pada dunia dan mencarinya kemudian meramunya dalam sajian yang dapat dinikmati. Yaps, menyajikan informasi yang lintas ruang dan waktu sebagaimana ilustrasi dari tool yang disediakan oleh salah satu perangkat lunak sistem informasi geografis untuk menyajikan atau membuat space-time cube.

Gambar 1. Contoh Dimensi Ruang (X-Y) dan Waktu (t) bersatu (sumber: http://pro.arcgis.com/en/pro-app/tool-reference/space-time-pattern-mining/create-space-time-cube.htm)
Kembali ke konsep awal bertanya sendiri atau pada dunia. Rasa ingin tahu dan berbagi informasi inilah yang menyebabkan mesin pencari raksasa yakni google* dan bahkan media sosial sebesar facebook**; keduanya mengembangkan atau mengoptimalkan knowledge graph. Cermatilah bagaimana kedua 'dunia' ini mampu mengubah dunia hingga melahirkan fenomena 'bertanya sendiri atau pada dunia?' Kalau lagi ada waktu luang, silahkan coba ketika nama fulan di embah google lihatlah apa yang muncul. Lalu kalau masih iseng juga, cermatilah bagaimana facebook menyarankan informasi searching berdasarkan yang fulan like. Menghubungkan data dengan data, melahirkan informasi yang makin lengkap dan mampu bercerita. Oh ya, optimalisasi kemampuan knowlegde graph dalam sistem pencari dan media sosial maya seperti facebook makin melambungkan 'iklan' di dunia maya dan berpenghasilan :).

Gambar 2. The Knowledge Graph (sumber: https://www.google.com/intl/es419/insidesearch/features/search/assets/img/static-graph.png)

Hidup di dunia saja tiap individu seperti fulan ini harus memiliki identitas, misal dari lahir diberikan nama dibuatkan akta lahir dilanjutkan dengan berbagai kartu identitas diri. Di dunia maya pun, tiap individu memiliki akun yang terikat ke dirinya. Identitas itu mencirikan siapa kita, kadang fulan bertanya sendiri siapakah aku? Apakah aku adalah ego semata ketika keberadaanku kini dalam dimensi nyata ataupun maya ada di suatu masa dimana ragu untuk melebar dan tebarkan tanya. Apakah aku benar-benar bagian dari kita, ketika aku dan kamu mungkin beserta kalian semua adalah bagian dari dunia dan sendagurau dunia belaka.

Bertanya pada dunia, tulisan ini mengalir begitu saja tentunya ialah bagian dari berbagi atau renungan mengenai dimensi 'aku' yang nyata ialah bagian kecil dan bahkan tidak dapat menjadi sebuah titik (dalam vektor) ataupun satu piksel (dalam citra). Ada postingan terkait perbandingan ukuran silahkan cek langsung aja di http://www.kompasiana.com/muhammaddaud/perbandingan-ukuran-planet-bumi-dan-para-penghuni-lainnya_55184bc981331128699de79c

Bumi nan kecil, maka tidak layak pula bagi fulan untuk 'sok besar' dan wajah bumi bisa berbeda ya? Layaknya wajah kita berbeda tergantung mood..heuheu (maaf tidak pas analoginya, iseng ini ya jangan serius-serius). Nah, kalau tertarik yang seru, serius dan dikemas apik silahkan cek kisah menarik dari pakdhe rovicky: https://rovicky.wordpress.com/2006/10/08/wajah-planet-mengapa-bumi-berbeda/

Sekian celoteh fulan, akan dilanjut di sela keisengan lainnya.





Senin, 22 Februari 2016

[Geospasial] Terbang Tinggi dan Menukiklah

[Geospasial] Terbang Tinggi dan Menukiklah


Sumber gambar: 
https://amex-ideamaninc.netdna-ssl.com/images/bald-eagle/bald-eagle-flying.jpg?1357512530

Ilustrasi di atas menggambarkan burung elang yang hendak menukik setelah dia terbang tinggi di langit menikmati indahnya alam. Geospasial itu saat ini sedang terbang tinggi, baik sebagai sebuah keilmuan maupun pendukung dalam berbagai pengambilan kebijakan atau keputusan.

Geospasial menukik begitu tajam seiring perkembangan teknologi informasi komunikasi yang menunjangnya. Citra satelit resolusi tinggi, kemampuan Lidar, cloud, crowd source, kemudahan akses internet dan kapasitas penyimpanan yang tinggi di dunia awan. Melahirkan generasi dimana sehari tanpa wifi atau koneksi internet menjadi semakin susah karena jika dulu hendak kemana menggunakan sistem tanya ke orang, kini berbagai informasi bisa dicari di dunia maya.

Hingga kemampuan itu melahirkan berbagai fenomena yang mampu menjadikan orang terbang begitu tinggi, baik dalam artian positif bahkan negatif. Misalnya, cepatnya orang like dan share berita atau informasi mungkin juga gambar tanpa lebih dahulu melakukan tukikan yang tajam terhadap hal tersebut. Yayaya,,,inilah dimana era informasi begitu cepatnya berlalu. Rangkaian kata demi kata yang menyatu menjadi kalimat panjang seakan tidak begitu menarik. Hingga microblogging seperti twitter menjadi lalu lintas yang padat.

Alamat situs nan panjang pun kini bisa dipendekkan (short url). Yang menarik lagi ialah informasi yang panjang dipendekkan dengan judul yang kadang kurang pas atau pancingan gambar yang hanya menarik orang untuk sekedar klik. Klak klik ini pun di dunia medsos melahirkan banyaknya link gak jelas yang menyebabkan orang menjadi spam. Misalnya, dia menambahkan teman-temannya ke grup yang tidak jelas asal muasal dan manfaatnya. Kalau ketemu ama fulan, maka langsung dia blokir...heuheu.

Terbanglah tinggi sembari melihat berbagai informasi yang relevan untuk dikaji dan layak sebagai sebuah kajian. Lalu menukiklah mendekati obyek tersebut dan lengkapilah dengan referensi-referensi yang menunjang. Jika ternyata, kurang memenuhi maka terbanglah lagi ke atas dan jangan lelah untuk mencarinya.

Mencari masalah untuk menentukan tujuan dan pertanyaan hingga jika mampu buatlah hipotesisnya dan tentukanlah metodenya agar di dapat hasilnya, Tentunya hasil yang berguna bukan sekedar membuat kenyang si elang.

Secara ruang dan waktu, elang terbang ke sana ke mari bukan mencari sesuap nasi :).

Hmmm...semakin tidak jelas arahnya nie. Kembali bertanya apa hubungannya Geospasial dengan terbang tinggi dan menukiklah? Ingat perkembangan teknologi penginderaan jauh? Sekarang sedang tren adanya drone ataupun pesawat tanpa awak yang memotret dengan dekat, bahkan siapapun jika mau dan mampu dapat mengoperasikannya. Itulah kegilaan perkembangan Geospasial,,,begitu tingginya dia mampu terbang (*pesat perkembangan teknologinya) dan kemampuannya menukik (*menyajikan informasi) secara ruang dan waktu sungguh mengagumkan.

Salam Geospasial untuk Negeri,

Aji Putra Perdana
Enschede, 22 Februari 2016